Jurus Mabuk PKB
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Kolom Djoko Suud

Jurus Mabuk PKB

Rabu, 11 Des 2013 17:03 WIB
Djoko Suud Sukahar
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Jurus Mabuk PKB
Jakarta - PKB ‘tabrak’ Partai Golkar. Mengkritisi PDIP. Memainkan tiga tokoh untuk dijual. Jagad politik pun memanas. Memang dinamisasi terbentuk, tapi untung atau buntungkah PKB dengan strategi ini?

Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) mulai renyah berjualan. Tidak cukup hanya dua tokoh yang didapuk sebagai ‘mata dagangan’. Rhoma Irama yang pertama ‘dimainkan’. Dihangatkan dengan kehadiran Mahfud MD yang sejak dini sudah digadang-gadang.

Dua tokoh ini semula saling bertabrakan. Membawa resistensi tinggi. Dianggap tidak etis mengusung dua figur yang belum jelas positioningnya. Apalagi mereka bersaing dengan cara masing-masing. PKB pun dituding melakukan pembiaran terhadap konflik mantan hakim konstitusi serta raja dangdut itu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Akibat persaingan tidak terskenario itu, maka komentar pating pecothot (mis-koordinasi) pun tidak terhindarkan. Rhoma mengklaim calon presiden resmi PKB. Mahfud juga sama. Di saat terpaksa, Muhaimin sebagai Ketum PKB dituntut untuk bersikap. Sikapnya, membenarkan Mahfud sebagai calon yang diusung PKB sedang Rhoma tidak.

Sikap ini sangat bagus. Publik melihat PKB bisa memilih secara jernih. Dari yang baik dan kurang baik. Kendati baik di sini relatif, karena ranah politik itu memang abu-abu, tetapi publik lebih memandang Mahfud MD lebih baik ketimbang Rhoma. Tidak dipungkiri, itu karena jabatan Ketua Mahkamah Konstitusi yang pernah disandangnya. Dia dianggap bersih dan jujur, santun serta etis. Berkat sikap itu, maka PKB mulai mendapat tambahan poin.

Komentar PKB melalui Ketumnya itu tidak membuat Rhoma Irama patah arang. Dia juga tidak diam melakukan sosialisasi. Rhoma terus mendatangi berbagai tempat. Diundang siapa saja dilayani. Dan di tempat-tempat itu Rhoma bicara program serta alasannya ingin maju sebagai calon RI-1.

‘Sikap ndablek’ Rhoma Irama itu ternyata berbuah positif. Dalam perjalanan berikutnya terjadi sepemahaman dengan Mahfud MD. Keduanya sadar, bahwa PKB bukan partai layak mengusung jago. PKB hanya tunggangan sementara untuk mengenalkan diri. Maka jika berharap bisa maju sebagai capres melalui partai ini, itu irasional. Ini rasanya yang mendasari terjadinya kesepahaman Rhoma Irama dan Mahfud MD itu.

Sejak itu keduanya jalan bareng. Yang satu pakar hukum, yang satu penyanyi. Maka ketika Rhoma Irama berteriak bubarkan Mahkamah Konstitusi (MK) akibat Akil (Akil Mochtar, red) korupsi, Mahfud MD tidak keras menyalahkan. Dia meluruskan dengan kaidah hukum dan bahasa santun. Keduanya pun harmonis, bisa ‘bersinergi’.

Rhoma Irama dan Mahfud MD rukun-rukun saja di PKB ternyata membuka ruang bagi ‘pendatang baru’. Ini dianggap sebagai peluang. Panggung yang bisa dipakai untuk berperan. Jusuf Kalla (JK) pun masuk arena ini. Terjadi silang-sengkarut soal masuknya JK di PKB diminta atau ‘mendaftar’ sendiri. Partai Golkar memuskilkan, PKB menegaskan. Dan partai bintang sembilan ini tambah marak dengan kehadiran JK.

Riuh di tubuh PKB itu semakin dinamis ketika panggung kian diperluas. Polemik soal JK dengan partai asal menghadapkan PKB dengan Partai Golkar belum selesai, pengurus partai yang didirikan Gus Dur itu sudah membuka front baru. Kali ini PDIP yang menjadi sasaran. Jokowi, kader potensial partai itu dikritisi. Dia dianggap kurang layak jika ditampilkan sebagai kandidat RI-1.

Serangan balik pun dilancarkan PDIP. PKB diminta tidak mencampuri urusan orang lain.Dan tentu itu memang kurang etis dan tidak sopan. Sudah keluar batas dan melanggar norma-norma kesantunan. Tetapi yang perlu menjadi catatan, adakah partai politik selama ini memang santun atau sudah santun?

PKB cukup cerdik menciptakan pasar. Dengan jurus mabuk partai ini mampu menjadikan partai selalu menjadi omongan. Partai Golkar dan PDIP yang menjadi negator amat strategis. Soalnya jika partai-partai besar itu salah akan terdegradasi, sedang jika telak mengantisipasi, maka tak akan ada kerugian di PKB.

Tetapi etiskah cara PKB itu? Rasanya, langkah jurus mabuk itu akan diikuti oleh partai-partai lain. Itu karena tahun politik akan banyak diisi orang dan partai yang kurang waras.

*) Djoko Suud Sukahar adalah pemerhati sosial budaya. Penulis tinggal di Jakarta.

(nwk/nwk)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads