Satu Tahun Hanya 200 Hari Kerja
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Satu Tahun Hanya 200 Hari Kerja

Senin, 22 Nov 2004 07:44 WIB
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Jakarta - Percaya tidak? Satu tahun adalah 365 hari, tetapi di Indonesia, hari kerja yang riil paling banter hanya 200 hari. Betapa tidak, dengan libur hari Sabtu dan Minggu, kita memiliki hari libur sebanyak 104 hari. Sementara itu, ketentuan bahwa hari libur yang jatuh pada hari Sabtu atau Minggu digeser pada hari kerja, menambah pula jumlah hari libur kita.Pada hari Raya Idul Fitri kini, kita libur sebanyak 9 hari, bahkan ada kantor yang sudah tutup Jumat sebelum Idul Fitri, sehingga cukup banyak yang berlibur sampai 10 hari. Kalau semua itu digabung dengan fakta minggu depan kantor-kantor pemerintah lebih sibuk dengan Halal Bihalal sesama pegawai, maka lengkaplah argumen bahwa hari libur kita hampir menyamai hari kerja. Tidak berlebihan jika dikatakan dalam satu tahun kita hanya bekerja sebanyak 200 hari kerja. Kenapa bisa begitu?Pertama, mari kita telaah liburan Lebaran tahun ini. Memang Lebaran bila mau disamakan dengan negara maju seperti AS, merupakan perpaduan dari dua hari raya besar di AS yang dikenal sebagai Hari Raya Natal dan Tahun Baru ditambah dengan apa yang disebut Thanksgiving Day. Kenapa disebut kombinasi? Karena gejala mudik ada pada Thanksgiving Day, sementara liburan Lebaran amat sangat miripnya dengan Hari Raya Natal dan Tahun Baru. Hebatnya bagi Indonesia, kita pun tetap merayakan liburan Natal dan Tahun Baru.Liburan Lebaran yang dahsyat ini telah betul-betul melumpuhkan sendi-sendi semangat kerja bagi lingkungan orang yang mampu, serta melumpuhkan pula sendi-sendi kehidupan ekonomi bagi kalangan yang tak mampu. Bayangkan orang-orang yang hidup dari parkir yang menjadi sepi di minggu lampau, restoran-restoran dari yang hebat-hebat hingga yang paling di pinggir jalan, semuanya sepi pengunjung dan praktis hanya diisi oleh keluarga yang pembantunya mudik.Apakah konsumsi yang tidak digunakan di kota-kota besar itu kemudian diganti dengan konsumsi di tempat kita mudik? Ini tandatanya besar karena bagi kalangan yang lebih mampu, walaupun mereka "royal" di kampung, pengeluaran mereka masih berada di bawah konsumsi kota. Satu hal yang pasti hanyalah biaya transportasi dari pembelian tiket pesawat terbang, kereta api, kapal laut dan bus, serta kendaraan pribadi yang memang dipakai sebagai sarana mudik.Tetapi apa artinya bagi produktivitas nasional? Saya sangat khawatir bahwa artinya menjadi sangat negatif pula.Birokrasi Belum MemadaiKita tahu bahwa presiden menghadiri pertemuan KTT APEC di Santiago, Cile, dan wakil presiden beserta rombongan menjalankan weekend-nya minggu lalu ke Sulawesi Selatan dengan rombongan yang besar pula.Kita melihat bahwa suasana keluar dari krisis masih belum juga ditangkap, kendati kini kita telah memiliki pemerintahan yang baru. Kalaulah kita menyadari bahwa salah satu penyebab macetnya investor masuk ke Indonesia adalah belum bekerjanya birokrasi secara memadai, maka libur yang berkepanjangan ini jelas tidak mempunyai efek yang baik bagi suasana kerja yang harusnya ditumbuhkan oleh birokrasi pemerintahan.Saya observasi, hanya kantor pos yang buka pada hari Jumat lalu, sementara bank-bank tidak beroperasi karena BI tutup kliring hingga Senin ini. Kita tidak melihat kegiatan di perbankan, jasa-jasa keuangan, pasar modal karena mengikuti libur resmi yang ditetapkan oleh pemerintahan terdahulu, yang rancangannya kita ketahui dibuat oleh Menko Kesra saat itu, dan kini menjadi Wakil Presiden, Yusuf Kalla.Saya telah menyaksikan presiden dan pemerintahan silih berganti. Dari sejak reformasi digulirkan oleh mahasiswa dalam enam tahun terakhir, kita menyaksikan Presiden Soeharto, Presiden Habibie, Presiden Abdurrahman Wahid, dan Presiden Megawati Soekarnoputri bekerja dan berhenti. Kini naik pentas Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, sementara kabinetnya tentunya silih berganti dari mulai kabinet di masa Presiden Soeharto hingga Kabinet Indonesia Bersatu sekarang.Tetapi apa yang tetap? Yang tetap adalah birokrasi yang maha dahsyat yang bekerja seperti Octopus dan menggurita kekuatannya, sehingga pemerintahan manapun berkuasa amat sulit menghadapi birokrasi tersebut. Saya mendengar beberapa menteri berkata langsung bahwa pegawai mereka yang berjumlah ribuan itu sungguh merupakan kekuatan yang sulit diakrabi, tetapi justeru punya potensi untuk menghambat dan mensabotase pekerjaan mereka. Tentu di suasana Lebaran ini, kita tidak boleh berburuk sangka. Tetapi keinginan untuk tidak berburuk sangka itu tidaklah mengubah kenyataan obyektif di lapangan.Mengundang Investor AsingDi Santiago, Cile, Presiden SBY menyatakan akan mengundang investor yang diharapkan mendatangkan investasi bermilyar-milyar dolar AS. Dia juga menyatakan bahwa pemerintah sedang menyiapkan infrastruktur sebanyak mungkin yang diperlukan bagi pertumbuhan ekonomi. Siapapun tentu mengamini apa yang dikatakan beliau. Tetapi bila ada dua pertanyaan saja diajukan, apa kiranya jawaban yang bisa diberikan pemerintahan baru?Pertanyaan pertama adalah, bagaimana suasana dan iklim korup yang ada di Indonesia sekarang? Tidak usah pusing, kita lihat saja permintaan 25 anggota DPR yang memohon agar Nurdin Halid dibebaskan untuk sementara agar bisa berlebaran bersama keluarga. Sungguh luar biasa! Tidak ada sedikitpun nada ingin memberantas korupsi, tetapi yang muncul adalah kesetiakawanan sosial yang dianggap patut diberikan pada seseorang Nurdin Halid, tersangka kasus impor gula ilegal.Pertanyaan kedua, apakah ada perubahan mendasar dari birokrasi saat ini? Yang jelas dengan munculnya beberapa departeman baru seperti Departemen Perindustrian, Departemen Perdagangan, Kementerian Perumahan yang harus mempunyai kantor, Menteri Pemuda dan Olahraga yang dihidupkan lagi, semuanya menyebabkan reorientasi dan reorganisasi struktur birokrasi akan memakan waktu setidak-tidaknya enam bulan. Bilamana ini kita hubungkan dengan fakta, sesungguhnya, kita hanya bekerja 200 hari dalam setahun, maka pertanyaan kedua pun jelas jawabannya.Sulit menjelaskan apakah birokrasi siap untuk keluar dari suasana letargi dan inersia,. Dengan libur yang begitu banyak jumlahnya, setidak-tidaknya kita tidak bisa menjawab dengan positif pertanyaan bahwa ada perubahan mendasar di dalam birokrasi.Kalau kita menyadari adanya birokrasi yang belum juga keluar dari letargi dan inersia dan mempunyai mental pemburu rente (rent seeker) yang amat dahsyat, barangkali kita tidak akan buru-buru optimis dalam melihat perubahan yang kini berlangsung.Kita gembira bahwa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bisa menjulang sampai 1000. Kita juga gembira bahwa di beberapa sektor akan muncul investasi. Tetapi untuk dengan serta-merta menyatakan bahwa telah terjadi perubahan mendasar di dalam kehidupan bernegara sekarang, maka jawabannya mesti dilakukan dengan amat berhati-hati.Mudah-mudahan Hari Raya Idul Fitri yang telah kita lalui dengan selamat, dapat membuat kita sadar bahwa masih panjang jalan menuju pemulihan ekonomi. Bila ada secuil saja kesadaran seperti itu, mungkin Indonesia masih punya harapan. Jangan sampai ada ucapan bahwa satu-satunya hasil reformasi yang konkret adalah hari libur yang luar biasa banyaknya. (/)


Berita Terkait