Dinamisme tahun 2012 masuk sebagai kenangan. Sedang tahun 2013 masih misteri. Tahun 2012 mencacat sejuta peristiwa. Suka dan duka. Tangis dan tawa. Untung dan buntung. Semua berkelindan dalam untaian sejarah. Sejarah sebuah bangsa, suku, atau sekadar catatan-catatan kecil yang mempribadi.
Seberapa indah dan memilukan, segala peristiwa di tahun 2012 segera akan ditinggalkan. Tahun 2013 datang dan harus dilalui sebagai jalan takdir. Jalan hidup bagi manusia, untuk merealisasi angan, harapan, dan cita-citanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jika di tahun 2012 lebih banyak diwarnai pencitraan, korupsi, dan geger di level atas birokrasi, maka di tahun 2013 diprediksi sedikit mereda. Gantinya ribut di kalangan masyarakat bawah. Gesekan antar rakyat mengental, dan tindakan anarkhis yang brutal bukan tidak mungkin menjadi tren.
Secara personal, yang bisa dilakukan manusia untuk mengantisipasi itu hanya satu, berdoa. Berdoa agar situasi chaostis tidak terjadi. Kehidupan di tahun yang baru lebih baik dari tahun sebelumnya. Dan tentu, berkah selalu memayungi bangsa dan negeri tercinta ini.
Dalam kepercayaan Jawa, aplikasi doa itu terkemas dalam budaya ruwatan. Itu tradisi melepas sengkolo (balak), yang dalam Serat Babad Ila-Ila disebut, ratusan peristiwa yang harus dilakukan itu untuk pembebasannya. Maklum, ruwat berasal dari kata luwar, yang berarti mengendur atau lepas, yang dalam konteks ini bebas dari nasib sial, bencana, sampai guna-guna yang dipercaya.
Tradisi ini peninggalan Hindu-Buddha. Itu tampak dari prosesi ruwat. Mewajibkan nanggap wayang (mempagelarkan wayang kulit) lakon murwokolo. Sebuah kisah lahirnya Bethara Kala dan interaksinya dengan jagad manusia. Digelar siang hari, dengan dalang khusus ruwatan. Itu yang umum terjadi selama ini.
Namun untuk pembebasan balak itu juga bisa dilakukan dengan 'cara murah'. Tidak perlu nanggap wayang. Membaca atau mendengarkan orang membaca Serat Ruwat Sudamala dipercaya sudah sama manfaatnya, terbebas dari segala hambatan buruk. Terhindar dari kesialan dan terbentang berjuta-juta harapan.
Alur kisah Sudamala sederhana. Dewi Uma, istri Bethara Guru dikutuk sang suami, berubah wajah menjadi Bethari Durga. Satria bagus yang bernama Sudamala atau Sadewa membebaskan kutukan itu. Dari sang ratu hingga pada bidadara-bidadari yang berasal dari istana dewa. Mereka kembali ke asal. Dari raseksa dan raseksi ke wujut aslinya.
Ruwatan kedua yang biasa dilakukan masyarakat Jawa adalah membaca Kidung Rumekso Wengi (penjaga malam, tapi bukan satpam). Kidung ini dinyanyikan malam hari, dilalar bergantian hingga larut malam. Kidung ciptaan Sunan Kalijogo ini bernafaskan Islam, digunakan untuk berbagai keperluan.
Fungsi kidung ini mirip Doa Sapujagat, yang dipercaya mengatasi segala hambatan hidup. Itu tak salah, karena untaian kalimat kidung ini sebagian merupakan tafsir dari doa itu, dan sebagian lagi memiliki pemahaman dengan Serat Wirid Hidayat Jati karya Ronggowarsito.
Maka antara doa minta kesembuhan dari penyakit, terbebas dari bencana, lepas dari gangguan setan, campur-aduk dengan doa pengasihan (agar dikasihi), tidak dimangsa binatang buas, dan mencegah agar pencuri tidak masuk rumah. Kidung yang dianggap sakral ini banyak dihafal. Pengamalnya meyakini kidung ini sangat mujarab untuk keperluan di atas.
Di desa-desa yang belum terkikis modernisasi, kidung ini acap ditembangkan. Bersila sendirian atau berkelompok, lirih menyenandungkan, efek psikologisnya langsung terasa. Itu karena dalam menyanyikan kidung ini melibatkan bahasa hati, penghayatan. Tak jarang pula yang bertangisan saat melantunkan kidung ini.
Ya, takdir manusia memang hanya berusaha. Harapan dipanjatkan. Untung dan keberuntungan disandangkan. Kerja keras disertai berdoa. Doa sebagai radiks kesadaran manusia, bahwa hakekat hidup, Tuhan yang menentukan.
Ingin baikkah Anda di tahun 2013 mendatang? Jika iya, mari kita berdoa untuk itu. Tidak perduli dengan cara apa, agama apa, yang penting agar kita diberi energi positif, bahwa seburuk apa pun tahun yang akan dilalui, Gusti Allah selalu kasih, memberi berkah bagi kita semua. Amin!
*) Djoko Suud, pemerhati sosial-budaya
(asy/asy)











































