Silaknas Partai Demokrat tahun ini benar-benar mengejutkan. Partai yang kadernya banyak masalah itu ternyata bisa bersikap. Tegas bertindak. Dan berani mengambil risiko. Risiko terjadinya 'perang terbuka' antar-faksi di internal partai.
Adalah Ruhut Sitompul yang disingkirkan. Ketua Departemen Komunikasi dan Informasi ini dipecat. Dengan beleid rotasi, maka pengacara yang 'loncatan' dari Partai Golkar itu tergantikan. Ruhut pun melawan. Ia beralasan hanya SBY yang bisa memecatnya. Hanya pernyataan SBY yang dipatuhinya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ucapan-ucapan Ruhut itu kian memanaskan partai yang sudah panas ini. Gonjang-ganjing kader yang ditangkap karena korupsi diperparah dengan geger di dalam partai. Faksi yang ada saling tabrakan. Dan klaim sebagai kader yang didukung atau ditolak SBY sebagai Dewan Pembina mencuat. Partai pun oleng seperti tanpa pengendali.
Kondisi ancik-ancik eri (seperti berdiri di atas duri) ini sudah lama, dan banyak pihak yang ingin memperlama. Itu agar Partai Demokrat tidak kunjung bisa berbenah. Tidak mampu melakukan konsolidasi dengan kadernya, dan menjauhkan konstiituen agar berpindah ke partai lain. Tak heran jika dari bulan ke bulan lembaga survey memberi catatan kemerosotan elektabilitas partai ini yang sangat signifikan.
Sebagai partai yang sudah diobrak-abrik kadernya sendiri dan pihak lain, dalam Silaknas kali ini pun Partai Demokrat belum terbebas dari rumor negatif.
Diselentingkan Silaknas ini sebagai hadangan terhadap skenario pelengseran Anas di Januari tahun depan. Dan yang tidak masuk akal, pengganti Anas itu adalah Ani Yudhoyono.
Keberanian Partai Demokrat menurunkan Ruhut Sitompul dari kepengurusan DPP Partai Demokrat patut diapresiasi. Ini merupakan langkah tepat dan tegas. Sebab tak logis corong partai menghujat dan mencibir partai sendiri. Menjelek-jelekkan pemimpinnya seraya 'mengadu-domba' antara pengurus dan dewan pembina.
Jika keberanian ini konsisten dijalankan, setitik harapan mulai tercerahkan di Partai Demokrat. Ini merupakan kebangkitan. Kebangkitan Partai Demokrat dari posisinya sebagai 'partai aduan' dalam kandang untuk tampil sebagai 'partai petarung' di luar kandang. Mampukah Partai Demokrat jadi seperti itu?
Rasanya mampu kalau semuanya punya kesadaran untuk menyatu dan melakukan itu. Kehadiran para petinggi partai di forum Silaknas ini merupakan embrio positif. Partai yang terlilit banyak masalah itu mulai bangkit. Sadar diri, bahwa untuk menjadi besar harus tidak saling berkelahi.
Tak salah jika Edhie Baskoro Yudhoyono, Sekretaris Jenderal Partai Demokrat mengajak kader Partai Demokrat memanfaatkan momentum Silatnas sebagai ajang konsolidasi. Membenahi seluruh lini organisasi partai. Hadir di masyarakat. Membantu menyelesaikan masalah, agar elektabilitas Partai Demokrat meningkat.
Tapi benarkah tidak akan ada ‘perkelahian’ lagi dalam tubuh partai ini? Atau justru pasca Silaknas ini ‘tawuran’ antar kader kian menjadi-jadi?
*) Djoko Suud, pengamat budaya
(asy/asy)











































