Mega-JK Matahari Kembar
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Kolom Djoko Suud

Mega-JK Matahari Kembar

Rabu, 28 Nov 2012 10:48 WIB
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Mega-JK Matahari Kembar
Jakarta - Mega diwacanakan gandeng JK. Mega Capres, JK Cawapres. JK oke, dan naga-naganya Mega juga sepakat. Dari kabar yang menyebar, konon mereka sudah melakukan pertemuan intens. Tinggal Mega bilang ‘ya’ jadilah pasangan itu. Jadikah mereka?

Kalkulasi kasat mata, pamor Mega tetap terjaga. Berbagai survey menyebut Mega bersaing ketat dengan Prabowo Subianto. Mereka Calon Presiden ‘pilihan survey’, yang entah apa pertanyaannya, dan siapa yang ditanya. Jika ‘pendapat survey’ keduanya digabung, maka secara matematis tidak ada yang bisa melawan.

JK juga sama. Survey dari berbagai lembaga memberi hasil yang berbunga-bunga bagi mantan Wakil Presiden ini. Dia terus masuk dalam hitungan. Malah Ical pun kalah di tingkat internal Partai Golkar. Sebuah paparan angka yang menjanjikan sekaligus menakjubkan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jika dicari gampangnya, maka tidak perlu banyak orang untuk menentukan capres dan cawapres pada gawe demokrasi di tahun 2014 nanti. Tiga orang itu digabung satu sama lain, dijamin menang secara angka dari lembaga survei. Tidak penting Mega-Prabowo, Prabowo-JK, maupun Mega-JK.

Tapi sebelum itu dijadikan pedoman, mari kita menengok sebentar ke belakang. Jokowi-Ahok menang dalam Pilkada DKI. Kendaraan yang dipakai memang PDIP dan Gerindra. Namun adakah pedagang Glodok yang menabur uang untuk teman dan karyawan dari partai itu? Penjual nasi dan bakso yang berpromosi adakah anggota partai. Juga sopir taksi dan ojek? Semua dilakukan personal. Berjuang sendiri-sendiri untuk memenangkan Jokowi.

Rakyat yang sudah kehabisan kata-kata karena banjir, macet, dan kamtibmas yang tak kunjung terbenahi, mengembalikan demokrasi pada sumbernya. Mereka tidak mempan dibayar. Tak tergerak dimotivasi. Dan malah antipati ketika diprovokasi. Itu yang menyulut revitalisasi dari vox populi vox dei, suara rakyat suara Tuhan. Ini pula pangkal jebloknya prediksi berbagai lembaga survey. Mbleset semua!

Hasil ‘survey kelabu’ itu rasanya akan terulang. Capres dan cawapres terjaring diprediksi akan jauh dari kenyataan. Itu entah karena survey transaksional, atau membuat lembaga survey sendiri agar bisa memuji dan melambungkan nama setinggi bintang. Toh tipu-tipu publik seperti ini tidak dilarang.

Maka jika diwacanakan Mega-JK berpasangan, itu bukan ancaman bagi kandidat yang lain. Sebab matematika hanyalah hitungan angka. Hitung-hitungan untuk melihat kebenaran angka, dan membenarkan sesuatu yang belum tentu benar melalui rasionalisasi yang berujut paparan angka sebagai data.

Tapi bagaimana jika hitungan itu benar dan Mega-JK tampil sebagai pemenang? Rasanya itu pun tidak menguntungkan keduanya, juga untuk negeri ini. Sebab kita tahu bagaimana watak Mega dan JK. Mega adalah sosok yang tidak akomodatif, kalau tidak boleh disebut kaku. Matahari kadang memang harus seperti itu. Tapi kalau terlalu, maka panasnya akan membakar semuanya.

JK tak terkecuali. Saat mendampingi SBY, hanya karena menilai terlalu lamban, JK harus menabrak aturan-aturan melalui aturan yang dibuatnya sendiri. Ini dalam pakem memerintah versi Jawa disebut sebagai matahari kembar. Risikonya salah satu tersingkir atau terjadinya asas tijitibeh, mati siji mati kabeh. Dua-duanya jadi korban.
Dengan begitu, pasangan Mega-JK selain besar kemungkinan gagal menang dalam Pilpres tahun 2014 mendatang, kalaulah berhasil pun sandungannya amat besar. Bisa Mbak Mega bludrek, saling bertabrakan, dan negara gonjang-ganjing tidak karu-karuan. Benarkah begitu?

Sambil menunggu apa yang kemungkinan terjadi pada wacana pasangan ini, sebagai referensi, buka lagi prediksi saya soal JK di kolom ini tahun 2007 silam.

*) Djoko Suud, pemerhati politik dan budaya

(asy/asy)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads