Rhoma, Tahta dan Wanita
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Kolom Djoko Suud

Rhoma, Tahta dan Wanita

Senin, 19 Nov 2012 11:11 WIB
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Rhoma, Tahta dan Wanita
Jakarta - Rhoma Irama nyapres. Yang merespons baru PPP. Mengaku didukung habib dan ulama, Bang Haji kukuh maju. Soal poligami dicarikan pembenaran pada Putra Sang Fajar, Bung Karno. Dan kekenalan berhulu ketenaran dianggapnya sebagai kekuatan dari rakyat untuk menjatuhkan pilihan. Jangan heran jika pencapresan ini dianggap mop. Sekadar kelakar.

Rhoma Irama tak ada yang tak kenal. Lagunya mengalun di dinding-dinding reyot. Membius penghuni rumah kontrakan, desa-kampung yang jauh dari mapan. Lagu Rhoma penyemai hidup. Sebagai peneduh dari gersangnya urip di belantara adu nasib dan adu untung bagi para paria yang berkutat memperbaiki kasta.

Puluhan tahun lewat, saat saya masih muda dan hidup di desa, untuk membiayai kegiatan berkesenian, ketenaran Rhoma saya gunakan. Bersama teman-teman saya gelar misbar (gerimis bubar). Film Rhoma Irama saya putar di tengah pasar. Penonton membeludak penuh dengan tawa dan airmata, sesekali diiringi tepuk tangan jika Rhoma menang dalam berkelahi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Saya dan teman-teman sempat was-was ketika kilat dan halilintar bersahutan di langit gelap. Takut penonton kabur berteduh dan uang diminta kembali karena film belum habis diputar. Tapi Rhoma Irama memang bertuah. Saat hujan lebat mengguyur, penonton yang basah kuyup tidak beringsut. Alhasil saya sukses menangguk untung, berhasil membiayai pagelaran teater di bulan berikutnya.

Di puluhan tahun lalu, aura Rhoma memang luar biasa. Para gadis mengidolakan. Para perjaka iri tak kesampaian. Mbok-mbok dan bapak-bapak keranjingan suara Rhoma. Malah lagu-lagunya mampu menterapi untuk melupakan kesedihan saat Bengawan Solo membanjiri puluhan desa di Lamongan, dan mengusir penduduk agar tidur di tanggul-tanggul yang rawan.

Rhoma, kala itu, tidak hanya sebagai penyanyi. Dia penyemai dari jiwa-jiwa yang kerontang. Penyulut yang tidak punya harapan untuk berharap-harap. Dan yang tak bisa diingkari, lagu Rhoma adalah perangkai dari setumpuk kisah cinta bagi kalangan muda di desa-desa. Lagu Rhoma seperti memberi penegasan, cinta tak harus bernafsu dan liar. Cinta itu adalah senandung Qois yang memabukkan Layla. Dari cinta kasat mata menuju cintanya Rabi’ah Al-Adawiyyah.

Jika saat-saat itu situasi politik seperti sekarang, apa saja yang diinginkan Rhoma insyaallah akan terlaksana. Tak terkecuali jika maju sebagai orang nomor satu negeri ini. Sebab Rhoma tidak hanya memberikan kesejukan melalui lagu, tetapi memberi contoh bagaimana orang berbudi. Pemusik yang luhur pekertinya.

Namun itu dulu. Kini Rhoma bukanlah pembawa bulu perindu. Bukan pula figur, yang secara kebudayaan punya etika dan moral mumpuni. Poligami adalah satu dari sekian banyak ‘noda’ yang menyusutkan catatan baik di hati kecil rakyat negeri ini. Dan tudingannya pada Jokowi dalam Pikada DKI adalah ‘keburukan’ lain yang harusnya tidak hadir transparan di saat seperti itu.

Rhoma yang dulu diidolakan adalah Rhoma yang lugu dan lembayung. Santun dan teduh jika bicara. Belum arogan. Belum kawin-mawin dengan banyak perempuan. Dan juga tidak suka mencela.

Mendengar Rhoma Irama akan maju mencalonkan diri sebagai presiden, dalam hati terngiang paweling (pengingat) Jawa, bahwa nafsu itu berporos pada tiga hal, yaitu harta, tahta, dan wanita. Kekuasaan di tangan menghasilkan harta, harta itu memekarkan bunga-bunga.

Rhoma sudah lengkap menjalani godaan itu dengan cara yang baik. Cara yang dibolehkan agama. Harusnya Rhoma bersyukur dengan itu. Namun jika kini ada ambisi yang lain lagi, adakah cara yang syariatnya benar itu dibenarkan rakyat?
Batin rakyat negeri ini, kebaikan Rhoma itu tidaklah baik. Dan itu yang akan diberikan rakyat jika Rhoma Irama memaksakan diri maju nyapres.

*) Djoko Suud, pemerhati budaya tinggal di Jakarta

(asy/asy)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads