Memaknai Komitmen Inggris terhadap Indonesia
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Memaknai Komitmen Inggris terhadap Indonesia

Senin, 05 Nov 2012 11:22 WIB
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Memaknai Komitmen Inggris terhadap Indonesia
Jakarta - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) melakukan kunjungan kenegaraan ke Inggris pada 31 Oktober hingga 2 November 2012. Kunjungan ini merupakan atas undangan Ratu Elizabeth II, serta dalam konteks peningkatan hubungan kerja sama antara Inggris dan Indonesia yang semakin berkembang dari tahun ketahun.

Kedatangan SBY ke Black Country, merupakan bentuk dari kelanjutan kunjungan kenegaraan Cameron ke Jakarta pada April lalu. Ketika bertemu di London, Cameron menyampaikan kegembiraan dirinya kepada Presiden Yudhoyono.

Pada saat berkunjung ke Indonesia, Cameron mengagumi pertumbuhan ekonomi nasional yang tetap stabil bertahan dari goncangan krisis ekonomi global. Selain itu, mengumumkan komitmen untuk menggandakan perdagangan baik barang dan jasa pada tahun 2015 menjadi 4,4 triliun Poundsterling. Apa yang dikemukakan PM Inggris ini, menunjukan sebuah pengakuan dunia internasional, terhadap pertumbuhan ekonomi nasional dalam menghalau awan kelabu krisis global yang bertiup dari Eropa dan Amerika Serikat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pencapaian ekonomi nasional, selama beberapa tahun ini, penulis akui, bergerak di luar dugaan banyak kalangan. Bahkan, yang cukup mencengangkan, pertumbuhan nasional ini, pada triwulan II 2012 tercatat 6,4 persen atau naik dibandingkan dengan triwulan yang sama 2011 sebesar 6,3 persen.

Dengan PDB atas dasar harga berlaku pada triwulan II 2012 yang mencapai Rp2.050,1 triliun dan PDB perkapita yang mencapai USD3.542,9 di 2011, Indonesia dikelompokkan sebagai negara berpenghasilan menengah (middle income countries)
Tak mengherankan ekonomi nasional saat ini, berpotensi melakukan akselerasi di saat sebagian besar negara dunia mengalami pertumbuhan ekonomi yang cenderung negatif. Untuk ukuran Indonesia dengan ekonomi US$ 850 ribu pertumbuhan saat ini, tergolong tinggi. Pencapaian pertumbuhan ini, merupakan pencapaian tertinggi sejak negara ini berdiri.

Dalam keterangan tertulis, Menteri Luar Negeri Inggris, William Hague menyatakan, keinginan dari pemerintah Inggris untuk menjadi pintu bisnis Indonesia di Eropa. Bahkan, Inggris siap menawarkan banyak kesempatan untuk investasi di bidang energi, transportasi, maupun infrastruktur.

Sebelum keberangkatan menuju Inggris, Yudhoyono mengatakan Indonesia dan Inggris fokus pengembangan kerjasama di lima bidang yang saling menguntungkan. Kelima bidang prioritas itu adalah perdagangan, investasi, pendidikan, lingkungan hidup, serta demokrasi dan kerjasama antar-agama.

Kerja sama strategis antar kedua negara ini, dari tahun ketahun terus mengalami peningkatan. Bahkan, tercatat hingga saat ini, investasi Inggris di Indonesia telah mencapai US$ 3 miliar dan menempatkan negara itu di posisi dua besar, setelah Singapura.

Di sektor pariwisata, wisatawan Inggris yang berkunjung ke Indonesia merupakan tertinggi untuk wisatawan asal Eropa. Menurut data Kementerian Pariwisata & Ekonomi Kreatif dari tahun 2006–2011 jumlahnya meningkat dari 137.655 menjadi 192.355

Keinginan pemerintah hingga tahun 2015 mendatang, nilai investasi Inggris di Indonesia dapat mencapai dua kali lipat. Tak mengherankan pada kunjungan ini, Presiden didampingi oleh delegasi bisnis dalam jumlah besar, kesempatan ini, sekaligus untuk meningkatkan perdagangan antar kedua negara.

Paul Christopher, seorang broker ahli strategi yang berbasis di Wells Fargo Advisors AS, menyarankan agar investor membeli saham di Indonesia. Alasannya, pertumbuhan ekonomi terbesar ke-16 di dunia ini telah melampaui angka 6 persen, yang dinilainya kian menarik di mata para investor dunia.

Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat, total perdagangan Indonesia dengan Inggris pada tahun 2011 mencapai 2,4 triliun Poundsterling, naik 10 persen per tahun. Tercatat untuk tahun 2011, ekspor barang dan jasa Inggris ke Indonesia senilai 0,97 triliun Poundsterling, meningkat sebesar 28 persen. Sementara impor Inggris dari Indonesia meningkat 0,6 persen menjadi 1,4 triliun Poundsterling.

Kerjasama strategis antar kedua negara ini terus mengalami peningkatan. Bahkan tercatat hingga saat ini, investasi Inggris di Indonesia telah mencapai US$ 3 miliar dan menempatkan negara itu di posisi dua besar, setelah Singapura.
Di sektor pariwisata, wisatawan Inggris yang berkunjung ke Indonesia ternyata tertinggi untuk wisatawan asal Eropa. Kementerian Pariwisata & Ekonomi Kreatif mencatat dari tahun 2006–2011 jumlahnya terus mengalami peningkatan dari 137.655 menjadi 192.355

Pemerintah Indonesia menginginkan, sampai tahun 2015 mendatang, nilai investasi Inggris di Indonesia dapat mencapai dua kali lipat. Tak mengherankan pada kunjungan ini, Presiden didampingi oleh delegasi bisnis dalam jumlah besar, kesempatan ini, sekaligus untuk meningkatkan perdagangan antar kedua negara.

Upaya ini, setidaknya menunjukkan keseriusan Pemerintah Indonesia dalam melakukan perburuan investasi dari luar negeri. Bukan tanpa alasan, hal ini dilakukan mengingat kinerja positif ekonomi Indonesia di tengah resesi global yang saat ini masih melanda sebagian besar negara-negara di dunia.

Pada akhirnya penulis menyimpulkan kunjungan Presiden SBY ke Inggris selain atas undangan Ratu Elizabeth II, juga membawa misi menarik investasi dan meningkatkan volume perdagangan. Langkah ini setidaknya menunjukkan keseriusan Pemerintah Indonesia melakukan perburuan investasi dari luar negeri dalam upaya menyelamatkan pertumbuhan nasional.

Adanya ketertarikan Inggris untuk meningkatkan iklim investasi di Indonesia, menunjukan adanya pengakuan dari dunia internasional terhadap pertumbuhan ekonomi nasional, sekaligus mematahkan adanya ungkapan Indonesia negara auto pilot atau negara yang mengalami kegagalan.

*) Ferry Ferdiansyah, Penulis merupakan Mahasiswa Pasca Sarjana Universitas Mercubuana Jakarta Program Studi Magister Komunikasi

(nwk/nwk)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads