Partai Islam atau Tokoh-tokoh Islam?
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Kolom

Partai Islam atau Tokoh-tokoh Islam?

Senin, 22 Okt 2012 08:28 WIB
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Partai Islam atau Tokoh-tokoh Islam?
Jakarta - Mendekati pemilihan umum tahun 2014, banyak isu mulai dilemparkan di masyarakat. Mulai tentang calon presiden dan calon wakil presiden sampai dengan partai-partai politik. Sebagian dari isu itu ada benarnya, sebagian lagi fitnah dan sebagian yang lain lagi sekadar untuk bikin heboh.

Suatu hal yang menarik adalah tentang partai dan ideologi Islam. Isu ini ada manfaatnya meskipun sebagai sebuah informasi tidak jelas ujung pangkalnya. Namun demikian cukup positif untuk membangunkan tokoh-tokoh Islam yang lagi tidur nyenyak. Akibatnya, tidak kurang dari mantan Ketua Umum PKS yang juga mantan Ketua MPR, Hidayat Nur Wahid, terpaksa angkat bicara.

Persoalan pertama yang perlu dipertanyakan sekitar isu itu adalah sejauh mana benar bahwa partai dan ideologi Islam sudah out of date atau sudah usang atau sudah expired? Istilah yang saya gunakan di sini mungkin terlalu keras, untuk tidak mengatakan tak ada peminatnya lagi. Apa benar demikian?

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Saya tidak melihat hal itu benar. Yang benar adalah bahwa masyarakat Indonesia dewasa ini kecewa, karena yang dicari tidak pernah dapat. Yang didapat, tidak serupa dengan namanya. Ada hakim yang fungsinya mengadili perkara atas nama Keadilan demi Ketuhanan Yang Maha Esa, yang didapat hakim yang memperjual belikan keadilan atas nama Tuhan. Ada lembaga Negara yang namanya mewakili rakyat, bersumpah demi Tuhan untuk memperjuangkan aspirasi dan kepentingan rakyat, yang didapat sebaliknya. Ada partai politik yang fungsinya mengangkat aspirasi rakyat menjadi kebijakan negara untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat, yang didapat sarang penyamun.

Di dalamnya termasuk tokoh-tokoh partai Islam, yang di tangannya biji-biji tasbih berputar tanpa henti. Agaknya yang dihitung bukan kalimah taubah, tapi kekayaaan hasil korupsi yang telah dan yang belum dibukukan. Ada lembaga yang dibiayai dengan uang rakyat untuk melindungi mereka, tapi di dalamnya ada oknum yang bertengger atas nama lembaga, tapi berbuat untuk kepentingan pribadi atau konconya. Karena itu rakyat mulai bingung. Bingung untuk mendapatkan sesuatu yang asli. Yang serupa luar-dalamnya. Yang sama sifat dengan namanya. Mereka bukan benci pada partai Islam, tapi benci pada kepalsuan. Makin rindu rakyat pada kebenaran, makin kecewa terhadap kepalsuan.

Akibat dari kebingungan itu tentu saja terkena kepada siapa saja, termasuk kepada partai-partai yang bernama partai Islam. Didalam kelompok partai-partai ini ada yang dari mulanya memang malu menamakan diri partai agama atau partai Islam. Karena itu perilaku tokoh-tokohnya memang serupa dengan layaknya partai tak beragama. Arogansi, pola pikir dan perilakunya dalam menolak apa yang dipandang rakyat sebagai kebenaran, tak ubahnya seperti gaya tokoh-tokoh komunis di Era Orde Lama. Kalau tokoh-tokoh partainya demikian, bagaimana tidak mungkin partai Islam tidak akan besar kemungkinan ditolak rakyat pada tahun 2012?

Karena itu, saya sepakat untuk menganjurkan tokoh-tokoh Islam seperti Hidayat Nur Wahid untuk menertibkan kader-kader oleng yang ada dalam partainya terlebih dahulu kalau mau mendapat simpati rakyat seperti semula, ketika beliau memimpin partai itu.

*) Said Zainal Abidin adalah ahli manajemen pembangunan daerah (regional development management) dan kebijakan publik, guru besar STIA LAN. Sekarang sebagai penasihat KPK.

(vit/vit)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads