Sepertinya tawuran antar mahasiswa di Makassar ini sudah menjadi penyakit menahun. Peristiwa Black September 1992 di mana terjadi tawuran antarfakultas, Perkapalan dan FISIP, Universitas Hassanuddin, dan menimbulkan kerugian fasilitas pendidikan, tidak dijadikan pelajaran bagi pihak-pihak kampus di kota itu, mahasiswa, aparat, dan pemerintah daerah. Bukti tak dijadikannya pelajaran buktinya adalah peristiswa tawuran kembali terulang.
Dengan belum ditemukannya solusi yang manjur untuk mengatasi tawuran antar mahasiswa di Makassar, apa yang terjadi di Universitas Negeri Makassar sepertinya bukan tawuran yang terakhir, kemungkinan masih akan ada lagi tawuran-tawuran selanjutnya. Untuk itu sebaiknya semua pihak mampu mengendalikan dan menahan diri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk itu di sinilah pentingnya mahasiswa untuk lebih menahan diri menanggapi isu-isu yang belum jelas asal usulnya. Sebaiknya mahasiswa berpikir lebih panjang ketika memutuskan sikapnya. Tentunya bila berpikir pendek, banyak kerugian yang akan diterimanya. Tawuran tidak hanya merugikan persahabatan namun imbasnya juga akan mempengaruhi keberlangsungan pendidikan buat mereka. Pastinya selepas tawuran, proses kuliah bisa dihentikan untuk sementara waktu. Hal ini tentu akan mempengaruhi proses transfer ilmu di kampus. Proses penghentian kuliah bisa lebih lama apalagi bila fasilitas-fasilitas pendidikan yang ada rusak atau terbakar. Jadi di sini tawuran sangat merugikan, tidak hanya menimbulkan korban jiwa, namun juga mengganggu proses perkuliahan. Bila proses perkuliahan sering terganggu maka akan mempengaruhi kapasitas mereka ketika sudah bergelar sarjana.
Kedua, tawuran massal menunjukkan ketidakjantanan. Mereka berani melakukan tindakan hanya ramai-ramai, namun ketika sendiri masing-masing mengkeret. Padahal masalah yang muncul biasanya adalah masalah sepele dan sifatnya person, namun mengapa masalah yang asalnya pribadi dibawa ke tingkat massa?
Tawuran massal dipertunjukan bisa jadi untuk menunjukan bahwa komunitasnya adalah paling jago, sehingga komunitas yang lain, jangan sekali-kali menganggu. Bisa saja kalau ada sebuah fakultas atau kampus yang sering melakukan tawuran mereka ingin menunjukan dirinya sebagai komunitas yang tidak bisa disepelekan.
Ketiga, tawuran di kampus merupakan sebuah proses kebuntuan komunikasi antar mahasiswa dan antar lembaga mahasiswa. Sebenarnya di dalam kampus ada lembaga perwakilan mahasiswa, apakah itu BEM atau Senat, dari tingkat jurusan, fakultas, hingga tingkat perguruan tinggi. Adanya lembaga-lembaga itu diharapkan mampu menjadi media komunikasi antar mahasiswa, antar jurusan, dan antar fakultas. Bila ada perselisihan muncul, seharusnya lembaga pewarkilan mahasiswa seharusnya segera tampil ke depan. Namun sayangnya peran lembaga mahasiswa dalam mengatasi masalah tawuran rekan-rekan mereka sendiri, selama ini belum pernah terdengar.
Keempat, tawuran antar mahasiswa ini seharusnya juga menjadi tanggung jawab organisasi-organisasi ekstra kampus. Sebagai organisasi ekstra kampus, pastinya berkepentingan terhadap mahasiswa di dalam kampus. Mengapa organisasi ekstra kampus perlu bertanggungjawab? Sebab saat ini banyak mahasiswa yang masuk dalam organisasi ekstra kampus. Mereka dididik oleh organisasi ekstra kampus dengan berbagai pendidikan karakter dan kepemimpinan. Nah menjadi masalah ketika anggota organisasi ekstra kampus itu menjadi pelaku tawuran, apakah perkaderan yang diberikan organisasi ekstra kampus itu salah? Inilah yang seharusnya menjadi renungan bagi organisasi ekstra kampus terhadap pola perkaderan yang diberikan.
Organisasi-organisas ekstra kampus harus memberikan sikap ketika tawuran itu terjadi. Jangan lepas tangan ketika anggotanya bersikap salah. Karena karakter dan watak mereka dibentuk juga oleh pola perkaderan yang diberikan.
*) Ardi Winangun adalah pengamat politik. Penulis tinggal di Matraman, Jakarta. Nomor kontak: 08159052503.
(vit/vit)











































