Tokoh yang mendekati kriteria seperti itu adalah Dahlan Iskan. Menteri BUMN ini mulai digunjingkan untuk dipertandingkan mengisi lowongan RI-1 pasca SBY lengser. Dua partai politik sudah mulai meliriknya. Partai NasDem dan Partai Demokrat kabarnya terpana dengan ulah dan polah bos Jawa Pos itu. Bagaimana kans mantan Dirut PLN ini?
Survei masih menempatkan Prabowo Subianto, Megawati Soekarnoputri dan Jusuf Kalla (JK) bertengger di urutan atas. Kendati survei ini hanya melibatkan ribuan responden, tetapi ada asumsi, kalau pemilu digelar sekarang, merekalah pemenangnya. Itu yang dirilis Center for Strategic and International Studies (CSIS) tentang elektabilitas calon presiden tahun 2014.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jikalau yang 'banyak dipilih' dalam survei hanya figur-figur itu, maka ada kesan pilihan presiden lima-tahunan di negeri ini tak beda dengan arisan. Yang belum 'mbedol' kelak akan dapat giliran. Apalagi partainya juga itu-itu saja, yang bisa 'dibarterkan' untuk bagi-bagi kekuasaan.
Untung dalam budaya Jawa dikenal idiom Satrio Piningit. Sosok pemimpin yang belum dikenali. Atau dikenali hanya intip-intip, tiba-tiba saja mampu menyalip dalam tikungan, seperti SBY saat melawan Mbak Mega yang sedang berkuasa. Atau Mbak Mega ketika awal menerima kuasa.
Tokoh yang masuk kriteria 'figur inti-intip' itu tidak bisa disangkal, Prabowo salah satunya. Putra Begawan Ekonomi Sumitro Djojohadikusumo itu berhasil mencuri hati sebagian rakyat negeri ini. Gema suaranya soal nasionalisme poin penting. Citra yang terbangun atas kemenangan Jokowi-Ahok dalam pilkada DKI poin yang lain. Termasuk keberanian sang ayah yang masih membekas bagi pemilih lansia. Ini mengkristal dalam diri Prabowo.
Namun begitu, sosok Prabowo belum mengendap dalam nurani rakyat. Belum ada 'greget massal' yang mengindikasikan dia tampil dan menjadi pemenang. Masih ada yang ragu dan mencari sosok pembanding. Mencari figur lain yang dianggap lebih layak memimpin, sambil menunggu 'penguatnya', cawapres yang akan mendampingi Prabowo. Kenapa ada keraguan?
Itu karena zaman ini diasumsikan sebagai 'zaman keleme gabus timbule watu item'. Zaman tenggelamnya gabus dan mengambangnya batu hitam. Ini seloka yang menginisiasi zaman baru. Zaman tampilnya orang baik dan jujur, orang yang merakyat dan berjuang demi rakyat, tanpa embel-embel politisasi atas kebaikan dan perjuangannya.
Prabowo dalam soal ini, menyitir ungkapan Milan Kundera dalam The Book of Laughter and Forgetting, masih menyimpan kenangan yang belum terlupakan. Ada masa lalu yang mengganjal. Yang harusnya itu tidak terjadi dan melatari penampilan seorang pemimpin di zaman baru. Terus siapakah sosok kuda hitam yang kemungkinan bisa mengganjalnya itu?
Figur lain yang intip-intip itu adalah Dahlan Iskan. Menteri BUMN ini kendati belum menentukan pilihan untuk maju, tetapi yang dilakukan saban hari telah membawanya pada penguatan dukungan. Lapisan bawah dikuasai, berbagai komunitas terjaring, dan dengan sedikit sentuhan lagi, maka itu merupakan kekuatan riil yang akan secara mengejutkan mendongkrak namanya. Tapi bagaimana dengan gaya 'slebornya' itu?
Jika Dahlan maju sebagai capres, maka perlu pendamping yang paham politik. Sebab bos Jawa Pos ini sering gegabah. Asal benar dan baik untuk rakyat tidak dihitung 'risiko politiknya'. Itu yang sering menjadi batu sandungannya ketika jadi Dirut PLN maupun saat menjabat Menteri BUMN sekarang ini.
Untuk itu yang layak mendampingi Dahlan Iskan itu adalah Akbar Tanjung. Pengalaman, kenegarawan, dan sikap asih, asuh yang ditunjukkannya memberi ruang bagi Dahlan untuk mengeksplorasi ide dan gagasannya. Dengan Akbar sebagai wakilnya, maka Dahlan bisa bebas melakukan gebrakan, sedang Akbar Tanjung yang bertugas melakukan 'bersih-bersih'.
Tanpa pendamping yang 'baik dan kuat', maka yang terjadi akan seperti masa SBY memerintah sekarang ini. SBY tidak punya keberanian untuk berbuat lebih tegas. Itu karena setiap ketegasan yang dilakukan punya risiko yang harus dia tanggung sendiri. Wapres Boediono tidak punya kekuatan untuk membantu SBY dalam persoalan itu. Kapabilitas dia memang bukan di situ.
Adakah hanya Prabowo dan Dahlan Iskan yang kuat 'intip-intipnya'? Rasanya memang baru dua figur itu yang agak kuat 'intip-intip'-nya. Tentu, Jokowi juga perlu dihitung, selain satu figur lagi, yaitu Ani Yudhoyono.
Namun ucapan SBY yang berulangkali menyebut anak dan istrinya tidak akan maju merupakan ganjalan besar. Itu kalau diralat sama dengan menjilat ludah sendiri. Sabdo pandito ratu pantang untuk itu. Jadi, merekakah yang akan memimpin negeri ini ke depan?
Masih ada waktu setahun lagi untuk melihat turunnya pulung wahyu keprabon. Saat itulah calon pemimpin akan mulai kelihatan secara transparan. Sebab bisa saja yang kuat tahun ini tenggelam di tahun depan, seperti kemunculan Sri Mulyani tempo hari yang kini namanya sudah tidak terdengar lagi.
*) Djoko Suud Sukahar adalah pemerhati sosial budaya. Penulis tinggal di Jakarta.
(vit/vit)











































