Dalam pemilu gubernur dan wakil gubernur di DKI putaran kedua harus diakui berlangsung sangat ketat. Masyarakat Jakarta terbelah dua, sebagian mendukung dan memilih Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli, dan sebagian lagi mendukung dan memilih Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama.
Pemilukada merupakan salah satu ritual dalam demokrasi, di mana di Indonesia setiap lima tahun dilakukan pemilihan gubernur dan wakil gubernur. Sebagaimana layaknya dalam suatu pemilihan, selalu ada yang kalah dan menang. Pasangan calon gubernur dan calon wakil gubernur yang memperoleh suara terbanyak dalam pemilukada, ditetapkan sebagai pemenang dan dilantik sebagai gubernur dan wakil gubernur.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih hebat lagi, Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli dan timnya, tidak mengajukan sengketa ke Mahkamah Konstitusi (MK). Ini pelajaran dalam berdemokrasi yang sangat baik dan patut diteladani.
Walaupun mereka bisa menerima hasil pemilukada DKI, tetapi penerimaan itu sebaiknya ditindaklanjuti dengan berbagai program untuk mewujudkan rekonsiliasi. Ada berbagai bentuk rekonsiliasi yang bisa dilakukan.
Pertama, merangkul berbagai kelompok masyarakat yang tidak menjadi pendukung Jokowi-Ahok dalam pemilukada DKI. Kedua, memaafkan kalau ada yang kebablasan dan sangat fanatik mendukung Foke-Nara dan menafikkan pasangan Jokowi-Ahok.
Ketiga, sebaiknya tidak dilakukan politik bumi hangus dalam melakukan perubahan di birokrasi, tetapi perubahan melalui pendekatan 'the right man on the right place'.
Keempat, sebaiknya dibangun kebersamaan di kalangan seluruh kelompok masyarakat DKI, birokrasi dan politisi di DPRD DKI.
Bangun Kebersamaan
Kebersamaan mengandung makna yang selalu lekat pada setiap sisi kehidupan manusia. Jika kita tidak pernah menyadari pentingnya arti kebersamaan, maka tidak akan pernah sukses dalam melakukan sesuatu yang besar.
Dalam kehidupan rumah tangga saja, sebagai unit terkecil dalam masyarakat, sangat diperlukan kebersamaan seluruh keluarga untuk membangun bahtera rumah tangga yang baik dan sejahtera. Kalau dalam membangun keluarga saja memerlukan kebersamaan, apa lagi dalam membangun masyarakat DKI Jakarta yang multietnik, agama, budaya, partai politik, organisasi sosial, LSM dan lain sebagainya.
Tidak bisa dibayangkan sulitnya mengatasi dan memecahkan berbagai persoalan dan membangun Jakarta, jika tidak ada kebersamaan semua kekuatan di dalam masyarakat, pemerintahan, DPRD dan Polri-TNI. Pada dasarnya, pemerintah memerlukan partisipasi masyarakat, dan masyarakat memerlukan dukungan pemerintah. Untuk membangun Jakarta yang sangat kompleks, semua kekuatan di masyarakat harus disatu-padukan untuk membangun kebersamaan.
Kebersamaan Lahirkan Cinta
Manusia sebagai makhluk sosial tidak mungkin bisa bertahan hidup, jika tidak dibantu orang lain. Seorang ibu yang sedang hamil, sebelum, pada saat dan setelah melahirkan, memerlukan bantuan orang lain, apakah dokter, perawat, orang tua, dan keluarga terdekat.
Dengan demikian, hampir tidak ada sisi kehidupan manusia yang tidak memerlukan orang lain. Dalam berhubungan dan memerlukan orang lain, diperlukan cinta dan kasih sayang. Di dalam cinta, terbangun hubungan batin yang saling memerlukan, saling merindukan dan saling mengasihi. Demikian juga dalam membangun kebersamaan dengan masyarakat bawah pada khususnya, mesti dibangun hubungan batin yang dilandasi cinta dan kasih sayang.
Dengan begitu, hubungan antara yang memerintah dan yang diperintah (masyarakat) bersifat lahir batin. Tidak hanya hubungan kepentingan kekuasaan, tetapi dalam rangka pengabdian dan pemberdayaan.
Kebersamaan Lahirkan Semangat
Membangun masyarakat yang dilandasi kebersamaan, akan melahirkan energi positif. Lahirnya energi positif didorong oleh semangat. Salah satu semangat yang memberi dorongan ialah gotong royong.
Masalah gotong royong sangat penting ditumbuh-kembangkan di kalangan masyarakat Jakarta. Oleh karena masyarakat Jakarta semakin lama semakin tergerus semangat gotong-royongnya. Ini terjadi karena perubahan budaya yang semakin bercorak materialistik.
Dalam artian bahwa semua kegiatan yang dilakukan selalu diukur dari kepentingan materi belaka. Kalau mengerjakan sesuatu, segera terbayang apakah ada keuntungan kebendaan yang dikerjakan.
Pada hal di dalam kebersamaan dapat diraih dua hal. Pertama, kepentingan spiritual, seperti silaturahim, tolong-menolong dan bantu-membantu. Kedua, keuntungan kebendaan, seperti informasi peluang pekerjaan, peluang bisnis, permodalan dan sebagainya.
Bisa juga di dalam kebersamaan, tidak diperoleh sesuatu apapun, atau hanya memperoleh satu keuntungan, bisa peluang bisnis atau peluang pekerjaan. Kemampuan mendayagunakan momentum kebersamaan sangat diperlukan sehingga bisa diraih manfaat ekonomi dan manfaat immateri.
Kebersamaan Lahirkan Solidaritas
Solidaritas dapat diartikan kesatuan kepentingan. Dalam kamus bahasa Indonesia dijelaskan bahwa solidaritas yaitu sifat perasaan solider, sifat satu rasa (senasib dan sebagainya), perasaan setia kawan.
Kebersamaan, setidaknya bisa melahirkan banyak manfaat. Pertama, kesatuan kepentingan. Masalah ini sangat penting karena kepentingan bersama, mustahil bisa diraih jika tidak dibangun kebersamaan lahir dan batin.
Kedua, solidaritas sosial. Melalui kebersamaan yang dibangun, dapat melahirkan solidaritas sosial. Masalah ini semakin sulit dibangun karena manusia Indonesia semakin individualistik. Akan tetapi bukan berarti tidak bisa dibangun. Dalam banyak kasus, solidaritas sosial lahir bersamaan dengan terjadinya peristiwa alam seperti tsunami di Aceh yang merenggut nyawa cukup banyak. Artinya, di dalam diri bangsa Indonesia telah tumbuh dan berakar benih-benih solidaritas sosial.
Untuk melestarikan benih-benih solidaritas sosial, bangunan kebersamaan, sangat penting dikembangkan dan ditumbuh-suburkan, sehingga lahir dan tumbuh subur solidaritas dan kedermawanan sosial di dalam masyarakat.
Kebersamaan Lahirkan Persatuan
Manfaat lain dari kebersamaan yang bisa diraih ialah tumbuhnya persatuan dan kesatuan.
Di dalam kebersamaan, dipastikan akan lahir persatuan dan kesatuan. Masalah persatuan dirasa amat penting bagi bangsa Indonesia, sehingga dijadikan sila ketiga dari Pancasila yaitu Persatuan Indonesia.
Masalah persatuan Indonesia, semakin penting dipelihara, dijaga, dirawat dan ditegakkan di era Orde Reformasi. Karena konflik antar warga, antar pelajar, antar mahasiswa, antar warga dengan pengusaha, dan antar warga dengan aparat keamanan, sudah menjadi pemandangan umum hampir setiap hari di seluruh Indonesia.
Belum lagi konflik antar suku di Papua, dan adanya keinginan merdeka dari Papua dan berbagai persoalan eksternal seperti dari negara lain yang tidak rela melihat Indonesia menjadi negara besar. Maka, Indonesia harus diperlemah dari berbagai aspek sehingga tidak bisa maju seperti yang diharapkan bangsa Indonesia.
Oleh karena itu, kebersamaan yang hakiki sangat perlu dan penting dibangun pasca pemilukada DKI sebagai sarana membangun persatuan dan kesatuan seluruh masyarakat Jakarta.
Kesimpulan
Pemilukada DKI telah berjalan aman, damai, sukses, dengan asas luber dan jurdil.
Pelaksanaan pemilukada di DKI dapat menjadi contoh di berbagai daerah dalam melaksanakan pesta demokrasi.
Hasil pemilukada DKI telah melahirkan pemimpin baru yaitu Joko Widodo sebagai Gubernur dan Basuki Tjahaja Purnama sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta periode 2012-2017. Dalam pelaksaksanaan pemilukada DKI terjadi persaingan yang amat ketat, sehingga melahirkan berbagai permasalahan, yang sudah tentu belum sembuh seiring dengan berakhirnya pemilukada, ditetapkannya dan dilantiknya Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta.
Sehubungan itu, sangat diperlukan adanya rekonsiliasi di tingkat masyarakat dan DPRD sehingga diharapkan pemerintahan DKI dapat berjalan sebagaimana yang diharapkan.
Dalam rangka rekonsiliasi, maka sangat perlu dan penting dibangun kebersamaan bagi seluruh rakyat Jakarta. Melalui kebersamaan, diharapkan terbangun silaturahim, solidaritas sosial, persatuan dan kesatuan, semangat gotong royong dan lain sebagainya.
Akhirnya, mau tidak mau dan suka tidak suka, seluruh rakyat Jakarta tanpa kecuali harus berpartisipasi membangun DKI Jakarta dibawah pimpinan Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta, sehingga terwujud Jakarta yang aman, sejahtera dan maju.
*) Musni Umar adalah sosiolog dan Direktur Institute for Social Empowerment and Democracy (INSED).
(/)










































