Apakah karena Mereka Atlet Cacat?
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Kolom

Apakah karena Mereka Atlet Cacat?

Jumat, 12 Okt 2012 11:30 WIB
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Apakah karena Mereka Atlet Cacat?
Jakarta - Tak satu manusia di Bumi ini yang ingin lahir cacat, atau mengalami kecelakaan sehingga membuat fisiknya cacat. Tentu semua orang ingin tumbuh dan berkembang sebagaimana umumnya.
 
Mereka yang menyandang cacat terkadang menjadi bahan cemoohan. Apalagi saat mereka masih anak-anak. Namun hebatnya banyak orang dengan keterbatasan fisik malah sanggup mencatat prestasi gemilang di bidang olahraga.

Ini dapat dibuktikan dalam perhelatan akbar Pekan Paralimpik Nasional (Peparnas) XIV di Riau. Para atlet dengan keterbatasan fisik berdatangan dari berbagai penjuru Tanah Air untuk membuktikan bahwa mereka juga mampu berkair di dunia olahraga.
 
Mereka datang untuk mengukir prestasi, juga sebagai hiburan bagi rakyat Riau sebagaimana pesta PON XVIII. Sekalipun mereka dapat mengibur rakyat, tapi juga hati ini kadang tersayat. Karena mereka ada yang buta, tuli, kaki dan tangan yang tidak normal, ada yang punya satu tangan, atau satu kaki. Ada yang terlahir cacat, namun ada juga yang terlahir normal namun menjadi cacat akibat kecelakaan.
 
Para atlet ini berasal dari berbagai latar belakang, termasuk dari keluarga tidak mampu. Meski begitu mereka tidak gengsi atau malu, tapi mereka justru bangga karena menjadikan kekurangannya menjadi kelebihan. Bahkan mental juara melekat sehingga para atlet ini berkeinginan mengukir prestasi hingga jenjang internasional.

Sayangnya mental dan ketulusan mereka seakan tidak mendapat perhatian memadai. Atlet cacat kerap dianaktirikan. Seolah pemerintah membuat batas sehingga tercipta diskriminasi. Misalnya saja dari segi bonus, atlet cacat hanya menerima bonus Rp 50 juta untuk medali emas di ASEAN Paralimpik Games. Sedangkan atlet yang normal menerima bonus Rp 200 juta.
 
Di Riau, pembukaan PON untuk atlet normal dilaksanakan di stadion utama yang menelan dana Rp 1,2 triliun. Kesan mewah begitu terasa. Sedangkan paralimpian alias atlet cacat menggunakan stadion tua Kaharudin Nasution.
 
Padahal paralimpian juga rakyat yang punya hak dan kewajiban sama. Karena mereka juga, di Riau digelar perhelatan akbar, yang belakangan diketahui untuk pembangunan venue yang berbau korupsi.
 
Oknum pejabat daerah dan pusat menggerogoti dana pembangunan venue PON dan Peparnas. Pejabat berdalih, pembangunan venue demi kemajuan olahragawan Tanah Air, termasuk atlet cacat. Tapi KPK membuktikan hal itu cuma 'judulnya' saja.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

KPK menangkap anggota DPRD Riau, pejabat Pemprov Riau yang terlibat korupsi di sarana dan prasarana pembangunan venue PON itu. Malah DPR RI juga diendus turut menikmati Rp 9 miliar dari Pemprov Riau sebagai imbalan untuk meloloskan dana APBN untuk pesta PON dan Peparnas. Sampai sekarang kasus ini masih diselidiki KPK.

Sungguh tega para oknum pejabat yang menggerogoti duit rakyat tersebut, termasuk mengabaikan hak atlet cacat. Mereka ibarat menari di atas penderitaan para atlet cacat. Terlebih lagi masih ada pembedaan fasilitas untuk mereka yang kekurangan. Tak etis juga bila kita berharap para pejabat yang bermental korup kelak keturunannya menjadi cacat. Dan yakinlah, atlet cacat di Tanah Air kita juga tidak berharap adanya generasi yang terlahir atau senasib seperti mereka.
 
Yang jelas, atlet cacat dengan segala kelemahannya, masih jauh lebih baik mentalnya ketimbang pejabat di pusat maupun daerah yang terjerat kasus korupsi atau menyalahgunakan kekuasaannya. Para atlet tersebut boleh cacat, tapi moral mereka masih normal. Yang cacat sesungguhnya itu adalah pejabat dengan fisik normal, dengan segala embel-embel jabatannya, tapi bermasalah dengan moral, perilaku, dan mentalnya.

*) Chaidir Anwar Tanjung adalah wartawan detikcom. Tulisan ini tidak mewakili kebijakan redaksi.

(/)


Berita Terkait