Pancasila Rumah Dunia
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Pancasila Rumah Dunia

Jumat, 05 Okt 2012 16:59 WIB
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Pancasila Rumah Dunia
Jakarta - Pancasila dikenal sebagai ideologi negara Indonesia yang menjadi pondasi utama untuk menjaga keutuhan NKRI. Kelahiran Pancasila sebelumnya berada dalam masa-masa perdebatan panjang antara tokoh-tokoh bangsa, negarawan dan para pejuang-pejuang kemerdekaan.

Pencetusan pancasila penuh dengan sejarah perjuangan demi kemandirian dan kemerdekaan. Sukarno membentuk BPUPKI dan PPKI untuk mempersiapkan segala hal-hal yang menyangkut dasar kenegaraan seperti UUDS 1945, Pancasila, lambang negara, dan sistem politik negara. Dalam proses ini, perdebatan panjang terjadi, namun karena keuletan para tokoh bangsa dengan komitmen untuk dapat menunaikan seluruh sumpah jabatan mereka dalam memangku amanat negara. Pondasi Pancasila adalah perekat keragaman Indonesia dari Sabang sampai Merauke yang terdiri dari suku, adat, budaya, warna kulit, ras, dan bahasa. Persfektif keragaman ini mampu menyatukan seluruh unsur perbedaan baik secara ideologi maupun kebudayaan.

Kelebihan Pancasila dan seluruh batang tubuhnya mewakili berbagai kelompok, kepentingan, nilai-nilai, humanisme, pembebasan, kebebasan dan cara pandang masyarakat sendiri. Dengan demikian, di sinilah letak kesaktian Pancasila yang menjadi rujukan ideologi dunia. Sebagaimana tahun 2010 lalu disinggung oleh Presiden Amerika Serikat Barack Obama di saat pidato di Universitas Indonesia bahwa "Pancasila akan menjadi ideologi dunia, Pancasila usulan yang bagus untuk menjadi rujukan bagi negara berkembang dalam menciptakan rasa aman, tenteram dan kebebasan informasi maupun kebebasan beragama dan lebih jauh pancasila rumusan multicultural milik dunia dan saya selalu bersama pancasila".

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dari apa yang dikemukakan oleh Barack Obama adalah sebuah harapan yang sangat agung dan bijaksana bahwa pancasila mempunyai energi positif sebagai mainstream ideologi dunia.

Dalam perkembangan sejarah bangsa ini, Pancasila mendapat tantangan yang sangat besar sehingga membuat dasar sila Pancasila menjadi matang. Pada hakikatnya Pancasila adalah wadah bernaung sebuah institusi negara. Meskipun rakyat Indonesia terdiri dari banyak perbedaan yang sangat mencolok. Mengutip Gibson dan Arnold Toynbee berkata, "Peradaban besar, tinggi, dang agung tidak akan hancur tenggelam, kecuali jika dia merusak dan memecah diri sendiri, merobek-robek dirinya sendiri dalam-dalam".

Maka Pancasila berada dalam fase yang diungkapkan oleh Gibson dan Toynbee dari dulu hingga sekarang ini. Kristalisasi Pancasila sebagai rumah dunia adalah tugas mendesak negara dalam konteks internalisasi nilai-nilai Pancasila dalam wawasan kebangsaan. Karena ideologi Pancasila sebagai suatu cara pandang yang mendunia dalam kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat maupun dalam aspek kehidupan global.

Apalagi dalam membangun hubungan antar negara baik secara bilateral dan multilateral bahwa Pancasila harus menjadi spirit bersama dalam mengangkat isu-isu kemanusiaan dan keadilan sosial sebagai ciri khas dari kepentingan negara. Inilah kewajiban utama setiap generasi kepemimpinan bangsa ini agar Pancasila menjadi proyek solusi setiap konflik kepentingan, perbenturan budaya, penjajahan dihapuskan, melakukan pendistribusian kesejahteraan dan melaksanakan keadilan sosial bagi seluruh rakyat dunia. Indonesia harus membangun cita-cita dunia dengan Pancasilaisme.

Kesaktian Paripurna

Perbedaan mendasar adalah pada masa-masa dahulu setiap tahun, tepatnya tanggal 1 Oktober memperingati Hari Kesaktian Pancasila (HKP) dengan euphoria bahwa Pancasila merupakan ideologi yang tak tertandingi. Namun sekarang pasca pemerintah Orde Baru dan masuknya reformasi, Pancasila semakin tergerus oleh nilai-nilai asing dalam tubuhnya dan bahkan cita-citanya teramputasi dalam mengatasi polemik kebangsaan.

Secara historis pengujian kesaktian Pancasila melalui berbagai tahap yakni tahap perintis, di mana dicetus oleh Yamin dan disampaikan oleh Bung Karno pada sidang BPUPKI dan PPKI dengan merumuskan 5 (lima) sila Pancasila sebagaimana kita ketahui sekarang ini. Tahap penegas, para pejuang kemerdekaan ketika mencetus Pancasila sebagai kesepakatan bersama, walaupun waktu itu kelompok pejuang Islam menuntut sila pertama berdasarkan hasil sidang BPUPKI dan PPKI yang berbunyi, "Sila Ketuhanan Yang Maha Esa dan berkewajiban memeluk syariat".

Usulan itu tentu menjadi perdebatan panjang dan Bung Karno secara langsung meminta kepada Ki Bagus Hadikusumah sebagai perwakilan tokoh Islam agar kalimat "kewajiban memeluk syariat" itu dapat di hapuskan dengan alasan bahwa Pancasila mengakomodir seluruh nasib dan wawasan nusantara bangsa Indonesia. Namun sebelum Ki Bagus Hadikusumah menjawab, terlebih dahulu meminta saran dan nasihat kepada kelompok Islam lainnya. Setelah mendapat jawaban, maka Ki Bagus Hadikusumah memberikan perintah kepada Bung Karno agar dalam sila pancasila hanya kalimat "Tuhan Yang Maha Esa" sebagai sila pertama Pancasila.

Tahap percobaan, rentang waktu tahun 1945 - 1965 pancasila dalam masa percobaan sebagai ideologi negara antara mampu dan tidaknya melewati masa krisis itu, pertanyaan akan keraguan itu terjawab ketika Pancasila menunjukkan geliatnya sebagai pondasi bangsa dalam menghadapi kolonialisme global, sehingga dengan semangat itu, Pancasila mampu mengusir penjajahan di atas tanah air Indonesia. Tahap pertahanan dan pendobrak, ketika pemberontakan G 30 S PKI.

Opini yang muncul bahwa PKI ingin mengganti ideologi negara dengan asas komunis, tetapi mereka gagal dan justru kekuasaan diambil alih oleh TNI (Tentara Nasional Indonesia) yang dulunya disingkat ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia). Pancasila dalam kritis, hampir lapuk hanya dimakan ide para pendiri, namun dengan kekuatan roh jiwa spirit yang sangat menjiwai, maka pancasila kembali eksis secara ideologis dan di internalisasikan dalam kehidupan berbangsa, bernegara, bermasyarakat dan berkeluarga bahkan aspek individu melalui ajaran-ajaran pendidikan di sekolah dengan cara menghapal, meyakini dan pengamalan pancasila. Sehingga menjadikan pancasila mampu sebagai pendobrak kejumudan atas problem krisis negarawan, kepemimpinan dan memperkuat persatuan nasional.

Tahap meyakini Pancasila dikenal kesaktianya sangat paripurna karena Orde Baru selama 32 tahun melakukan implementasi Pancasila untuk menjaga persatuan kesatuan nasional. Pancasilaisme itulah menjadi darah daging dalam tubuh rakyat Indonesia sampai anak berumur 5 (lima) tahun sudah diwajibkan menghafal Pancasila dan meyakini sepenuh hati.

Keyakinan terhadap Pancasila inilah seluruh gerak-gerik global yang bersifat mengancam keutuhan bangsa Indonesia dapat teratasi sendiri dengan menunjukkan kekuatan solidaritas nasional rakyat Indonesia. Tahap reformasi, berdasarkan semangat Pancasila yang terdiri dari berbagai sila itu dianggap tidak sesuai dengan kehendak rakyat Indonesia.

Di bawah kekuasaan totaliter rezim militer, Pancasila disalahgunakan oleh pemerintah dengan selalu melanggar asas Pancasila itu, sehingga tiba penghujung rezim totaliter yakni tepatnya pada bulan Mei 1998 gerakan mahasiswa bersama rakyat berkumpul menyuarakan perubahan. Seluruh kekuatan reformis yang mayoritasnya itu diwakili oleh para intelektual, cendekiawan muslim melakukan aksi protes dengan membuahkan hasil menurunkan Soeharto dari tampuk keprabon kekuasaan. Hal ini dilakukan oleh rakyat Indonesia secara objektif terhadap Pancasila sebagai bentuk kecintaan akan Republik Indonesia.

Tahap pelaksana internalisasi, pasca reformasi 1998 euphoria sistem politik Indonesia menjadi suram, diterpa ketidakjelasan. Seluruh aktivis mahasiswa 1966, 1977, 1998 dan aktivis rakyat lainnya berlomba masuk dalam partai politik dengan mengambil peran masing-masing sebagai bentuk tanggung jawab dalam melaksanakan pesan-pesan reformasi itu.

Dari pemilu ke pemilu, rezim berkuasa tidak kunjung memperbaiki image Pancasila sebagai ideologi tetap bangsa ini, bahkan beberapa ormas keagamaan mensinyalir bahwa Pancasila sudah tidak cocok dengan zaman modern dan globalisasi sekarang ini. Keadaan nasional bangsa ini terancam gagal baik secara politik, ekonomi, sumber daya alam, budaya dan pertahanan pun tidak lagi kuat. Bahkan rasa toleran dan saling menghargai terhadap nilai Pancasila sebagai spirit seluruh sektor semakin parah yang ditandai dengan liberalisasi. Sehingga membuat Pancasila tergusur secara pelan-pelan, bahkan sila-sila Pancasila kini terancam hilang maknanya.

Penyebabnya tidak lain adalah korupsi, penjarahan, dan perampokan harkat martabat bangsanya sendiri. Maka oleh karena itu, pasca pemilu 2009 dengan gagasan MPR RI menyemai ide 4 (empat) pilar kebangsaan yakni Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI. Empat pilar ini merupakan program nasional MPR RI, DPD RI dan DPR RI untuk melakukan internalisasi nilai-nilai pancasila terhadap seluruh rakyat Indonesia melalui insitusi organisasi sosial keagamaan, organisasi kemahasiswaan dan kepemudaan, LSM, perguruan tinggi, dan birokrasi pemerintahan serta partai politik. Proses internalisasi inilah berharap agar Pancasila kembali menjadi panglima dalam proses pengambilan keputusan maupun pemilihan pemimpin negara baik pusat, daerah dan pedesaan sehingga Pancasila tidak mengalami kematian.

Tahap mendunia, bagaimanapun kuatnya gempuran kapitalisme, kolonialisme, fasisme, neoliberalisme, demokrasi liberal sekulerian, oligarki, dan budaya transaksional, Pancasila sampai hari ini masih menjadi harapan dan cita-cita rakyat Indonesia, karena selain pancasila tidak ada yang relevan lagi untuk di hayati dan diyakini sebagai ideologi negara. Pancasila sudah final, dalam sistem apapun selalu sesuai dengan perkembangan dunia.

Kita lihat saja faktanya walaupun berbagai ideologi-ideologi lainnya menggempurkan Indonesia, toh Pancasila sampai sekarang hidup. Namun di tingkatan rakyat Indonesia harus kembali kepada asas Pancasila sebagai pondasi bernegara dan bermasyarakat. Seluruh keegoisan keyakinan agama, adat, suku dan lainnya harus tunduk di bawah Pancasila sebagai rumah besar dunia. Sehingga sila Pancasila dapat menghantarkan dunia pada pintu gerbang perdamaian dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat dunia akhirat.

*) Rusdianto adalah Direktur Segitiga Institute Jakarta dan mahasiswa Pasca Sarjana Komunikasi Politik Universitas Muhammadiyah Jakarta. Penulis tinggal di Menteng, Jakarta Pusat. Nomor kontak: 085755983882

(vit/vit)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads