Foke-Jokowi
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Kolom

Foke-Jokowi

Kamis, 20 Sep 2012 09:56 WIB
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Foke-Jokowi
Jakarta - Lepas Lohor nanti, kemungkinan kita sudah akan bisa mengetahui siapa Gubernur yang akan memimpin Jakarta lima tahun ke depan 2012 – 2017.

Perhitungan survey pada putaran kedua kali ini lebih berhati-hati. Kalau pada putaran pertama semua lembaga survey menjagokan Foke Nahrowi menang mencolok - yang yang kemudian ternyata salah dan menjadi bahan olokan luas perihal keakuratan dan keotentikan survey yang mereka lakukan – pada putaran kedua, hanya sebagian kecil lembaga survey saja yang berani meramalkan siapa yang akan menjadi Gubernur DKI Jakarta. Kalaupun merilis angka hasil pilihan untuk kedua calon beda tipis tidak lebih 1%.

Menurut pengamatan saya, pemilihan Gubernur DKI Jakarta kali ini merupakan proses terheboh dalam sejarah Pilkada di Indonesia. Dari skala kampanye, dana yang disebar untuk berbagai acara dan cara untuk menarik pemilih maupun kampanye di media. Lebih menarik lagi, karena pertama kali social media mulai dari Facebook, Youtube, Twitter, Blackberry Messenger, My Space, Linked in, Yahoo, Internet Forum, hingga blog pribadi, digunakan secara intensif khususnya dari kubu Jokowi-Ahok yang utamanya didukung kalangan muda.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kedua pasangan diberi kesempatan untuk “memasarkan” visi dan misi mereka lewat media televisi. Lewat TV lokal melalui “Jak TV” dan TV nasional lewat “Metro TV”. Di “Jak TV” menurut saya perdebatanya lumayan bagus - ketika mereka dengan cerdas menyampaikan visi misi mereka dalam waktu yang singkat dua hingga lima menit. Tidak demikian di media nasional. Justru penampilannya mirip “dagelan”. Kedua pasangan terlihat tidak memiliki bahan lain kecuali saling mencerca dan dicela.

Tampak sekali tim sukses kedua pihak yang bersaing gagal untuk mempersiapkan jagonya secara lebih baik sehingga kampanye lewat media televisi yang sangat berpengaruh dan mahal itu menghasilkan pemahaman serta pengaruh yang tidak efektif terhadap pada calon pemilih di Jakarta atau siapapun yang menonton acara tersebut.

Foke tampil dengan gaya yang ingin menampakkan diri sebagai pemimpin yang cerdas lulusan Doktor dari Technische Universität Braunschweig, Jerman – kaku dan menyampaikan pertanyaan filosofis yang tujuan hanya untuk melecehkan Jokowi. Sementara Jokowi dengan gaya “ndeso”nya menjawab dengan asal-asalan, nyelekit gaya wong Solo. Paling lumayan malah Ahok yang setiap kali bicara menyampaikan data-data faktual yang bermutu seraya dengan cerdik memanfaatkan waktu yang sedemikian singkat menampilkan “jurus-jurus ampuh”.

Paling menggelikan adalah gaya guyonan Nahrowi. Sulit dimengerti kok bisa-bisanya calon Wakil Gubernur berpangkat Mantan Pati TNI bisa berperilaku seperti itu dilayar TV – tidak sadar atau tidak tahu cara berdebat di televisi. Atau mungkin saya yang salah mengharapkan debat televisi yang cerdas seperti dilakukan calon Presiden Amerika dari partai Republik Richard Nixon dan Partai Demokrat John F. Kennedy tanggal 26 September 1960 di stasiun televisi CBS, Amerika yang kemudian menjadi tradisi politik negara itu setiap kali pemilihan presiden baru. Ternyata kita semua masih harus banyak belajar, dan jangan buru-buru berharap.

Sementara itu banyak stigma dilansir terhadap dua pasangan: ada yang mengatakan ini perseteruan antara david melawan goliath. Pasangan yang dari kota kecil di Jawa Tengah dan Beliton berhadapan dengan pasangan incumbent yang “ahli” mengelola ibukota, didukung oleh enam partai besar yang secara teoritis mewakili 80% pemilih sementara mereka hanya dua partai yang mewakili sisanya. Adapula menyebut kedua pasangan terdiri dari dua kelompok: kelompok “rasional” dan yang lainnya “emosional”. Artinya mereka yang memilih kubu “Foke-Nahrowi” mewakili kelompok yang berfikir “rasional”. Jakarta adalah kota metropolitan yang berpenduduk 10 juta jiwa dengan APBD termasuk tertinggi di Indonesia. Ibukota Negara dan menjadi sekaligus pusat keigatan bisnis yang menguasai lebih dari separuh kegiatan ekonomi dan moneter Indonesia, - tentunya harus dipimpin oleh seorang yang ahli, berpengalaman, didukung oleh koalisi enam partai politik besar.

Sementara yang memililh Jokowi-Ahok merupakan para pendukung kelompok “emosional” yang mengharapkan rakyat pemilih secara emosional mendukung Jakowi-Ahok yang dianggap lebih berani melakukan perubahan karena melihat bahwa Gubernur incumbent telah gagal memenuhi keinginan dan hasrat mereka menjadikan Jakarta lebih ramah, bersih dan tenang dengan fasilitas bagi masyarakat bawah, meskipun hanya didukung dua partai politik saja.

Kalau pemilih rasional ini berhasil membawa “jagonya” menjadi gubernur berikutnya, itu berarti bahwa kekuatan pemikiran rasional lebih unggul daripada sekadar emosional. Partai politik berarti memang masih dipercaya dan memiliki kekuatan menggiring konstituennya untuk memilih pasangan Foke-Nahrowi. Fauzi Bowo sebagai Gubernur berikutnya konsekwensinya harus bekerja keras membangun Jakarta sambil bersiap untuk repot “membalas budi” koalisi enam partai pendukungnya. Ia memang bisa lebih mudah untuk “mengatur” DPRD khususnya dalam alokasi anggaran pembangunan infrastruktur: transportasi umum, penangkal banjir, pembangunan jalan, fasilitas kesehatan, pendidikan dan perumahan untuk rakyat yang dijanjikan selama kampanye. Akan lebih banyak waktu untuk didedikasikan untuk negosiasi.

Di lain sisi sebagai incumbent yang akan memasuki masa jabatan kedua, Fauzi lebih bebas untuk “memaksakan” kalau perlu mengabaikan desakan partai koalisi yang telah berhasil mengusungnya ke kursi Gubernur, agar program-program yang dijanjikan terlaksana apapun risikonya sehingga ia bisa meninggalkan Jakarta dengan sebuah legacy. Di pihak lain seadainya kelompok “emosional” yang menang, itu artinya rakyat sudah tidak percaya (paling tidak dalam Pilkada DKI sekarang) pada partai-partai politik yang ada. Setidaknya sudah “mbalelo” dengan keputusan partai.
Jokowi tentunya lebih mudah menjadi dirigen dari barisan pendukungnya yang memang hanya terdiri dari dua partai, meski di sisi lain harus berhadapan dengan oposisi yang sangat kuat di DPRD. Ia akan diuji akankah mampu memimpin Jakarta yang demikian besar dan banyak masalah lewat keahliannya bernegosiasi dan merangkul siapa pun termasuk lawan-lawan politiknya, seperti telah dilakukannya dengan sangat baik di Solo selama ini. Jokowi juga diuntungkan memiliki pasangan Wakil Gubernur yang muda, berpengalaman, bertintegritas dan menjadi bench mark perubahan yang begitu secara emosional diharapkan oleh penduduk Jakarta khususnya orang-orang muda.

Di balik semua itu pasangan Jokowi dan Ahok mempunyai modal yang sangat kuat kalau ia terpilih, telah didukung oleh bagian terbesar pemilih yang tidak terikat secara rasional dengan partai politik tapi mempunyai kedekatan emosional/roso dengan mayoritas penduduk Jakarta. Ini adalah modal utama.


Kita akan lihat nanti seusai Lohor. Kemungkinan hasil penghitungan cepat (quick count) sudah bisa diketahui. Bagaimana Jakarta di masa datang dikelola? Mudah-mudahan akan jauh lebih baik.

*) Ishadi S.K, wartawan senior, tokoh pers

(asy/asy)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads