Dari Vladivostok Menuju Bali
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Kolom

Dari Vladivostok Menuju Bali

Rabu, 12 Sep 2012 08:42 WIB
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Dari Vladivostok Menuju Bali
Jakarta - Sejuknya udara kota Vladivostok, Rusia, khususnya Russky Island sepertinya menjadi gambaran hasil positif yang dicapai oleh negara-negara APEC selama rangkaian Summit. Bertempat di Kompleks Far Eastern Federal University (FEFU) yang megah, para leaders dari 21 negara Asia Pasifik terus menyamakan visi dan aksi serta mencari solusi dalam upaya menyelamatkan perekonomian kawasan dan dunia. Walau sempat terjadi ketegangan di sana-sini guna menggolkan agenda masing-masing, namun secara keseluruhan suasana keakraban lebih tampak mengemuka.

China misalnya, terus meyakinkan negara-negara maju agar bambu masuk ke dalam products list Enviromental Goods (EG). Sementara Indonesia harus bekerja lebih keras meyakinkan APEC members untuk menerima kelapa sawit sebagai produk yang juga ramah lingkungan. Walaupun belum seratus persen berhasil, namun sejumlah negara APEC telah memahami posisi sawit yang memiliki kekhasan Indonesia serta ramah lingkungan. Amerika, negara yang sejak awal mempermasalahkan sawit juga mulai melunak setelah delegasi Indonesia yang dipimpin Presiden SBY melakukan diplomasi 'total football'. Di mana kita terus melobi dan bernegoisasi agar AS lebih fair membuat kategori sehingga tidak hanya barang-barang produksi negara maju saja yang lolos verifikasi.

SBY Pasang Badan untuk Sawit

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Presiden sendiri berkali-kali menekankan pentingnya menjaga posisi kelapa sawit dari 'sabotase' negara-negara maju. Sebab sawit tidak hanya menyangkut nilai ekonomis semata, melainkan juga ikon Indonesia. Mengapa? Sebab sejak beberapa tahun lalu kita adalah the biggest exportir country in the world. Langkah maju sudah kita dapat saat EPA (badan pengawas makanan AS) merekomendasikan sawit untuk bisa masuk negara tersebut. Dengan kata lain, perjuangan tinggal beberapa tahap lagi untuk memastikan sawit masuk ke dalam EG. "Dalam dua sampai tiga bulan kita akan lihat hasilnya," demikian ujar Presiden.

Kalangan pengusaha sawit juga mendukung penuh langkah Presiden. Sebagaimana disampaikan Joko Supriyanto, Direktur PT Astra Agro Lestari Tbk bahwa pemerintah memang harus siap pasang badan membela sawit karena ini menyangkut hajat hidup orang banyak, terutama terkait kepentingan petani sawit yang jumlahnya sangat besar. Ia berharap komitmen pemerintah membela sawit bisa diwujudkan dengan sungguh-sungguh, termasuk melalui negosiasi dengan negara-negara konsumen.

Di luar isu bambu dan kelapa sawit, APEC 2012 kali ini membahas mengenai open trade and investment, integrasi ekonomi, ketahanan pangan dan inovative economy. Keterbukaan perdagangan dan investasi menjadi penting, sebab ini merupakan prasyarat untuk merealisasikan pertumbuhan ekonomi kawasan yang tumbuh seimbang serta berkelanjutan. Masalahnya adalah saat ini justru terjadi tren penurunan pertumbuhan karena devisit ekspor dan adanya resesi di sejumlah kawasan. Eropa dan AS, dua kawasan yang sebelumnya 'mengendalikan' ekonomi dunia, hari ini kondisinya jauh dari stabil. Tercatat, Yunani, Irlandia, Spanyol dan Portugal mengalami krisis yang memaksa IMF turun tangan. Sementara di AS beberapa bulan terakhir angka pengangguran terus meningkat.

Solusi Ala Indonesia

Solusi yang ditawarkan Indonesia atas problem global tersebut, investasi di negara-negara APEC harus digenjot. Pasalnya hanya dengan adanya investasi, maka pertumbuhan bisa dihasilkan. Sementara untuk mengatasi penurunan volume ekspor, Indonesia menawarkan kebijakan penguatan pasar domestik sehingga itu bisa menjadi alternatif saat tren global kurang menguntungkan. Dan ini bukan wacana semata, melainkan tawaran kebijakan berbasis experience.

Pada 2008 hingga 2011, Indonesia tercatat mampu mempertahankan pertumbuhan di atas 6 persen. Padahal di saat yang sama banyak negara justru stagnan ataupun mengalami pelambanan. Mengenai menurunnya kesempatan kerja, Indonesia menawarkan jalan keluar berupa pembangunan infrastruktur. Sebab, dengan infrastructure building akan tercipta lapangan kerja baru sehingga dapat menekan pengangguran.

Selain terlibat aktif dalam sidang-sidang APEC, Presiden SBY juga melakukan pertemuan bilateral dengan sejumlah negara. Pertemuan dengan PM China, Hu Jintao misalnya, walaupun sudah sering dilakukan, namun China tetaplah negara strategis mengingat kekuatan ekonominya. Sejak pemerintahan SBY, 2004 hingga kini, kerjasama ekonomi Indonesia – China berada pada posisi yang baik. Sejauh ini volume perdagangan kedua negara mencapai US$ 50 milyar, dan pada 2015 ditargetkan meningkat menjadi US$ 80 milyar.

Lalu pertemuan dengan Thailand, SBY dan Yingluck Sinawatra terlibat pembicaraan intensif untuk menjaga produksi karet kedua negara penghasil itu, dan tentunya membuat langkah bersama untuk memproteksi karet dalam perdagangan global. Dengan Korea Selatan juga dilakukan bilateral meeting walaupun sejauh ini perdagangan kedua negara cukup baik (indeks perdagangan terus meningkat) dan terjadi transfer teknologi. Korea juga dikenal negara yang masuk dalam innovative economy sehingga cocok dengan visi jangka panjang ekonomi nasional. Bahkan dalam pertemuan tersebut disepakati kerjasama baru dengan Korea, yaitu untuk memproduksi electric car maupun hybrid car di Indonesia.

Dengan Menteri Perdagangan Australia, mewakili PM Julia Gillard yang pulang lebih cepat karena ibunya meninggal, Presiden SBY menindaklanjuti kunjungan ke Darwin beberapa waktu lalu dengan fokus pada peternakan. Ada kemajuan antara Indonesia dan Australia untuk merealisasikan pembukaan peternakan di Provinsi NTB dan daerah lainnya. Dari kawasan Amerika Latin, Presiden SBY tercatat bertemu dengan pemimpin Meksiko, Peru dan Chile. Ketiga negara tersebut ingin meningkatkan kemitraan dengan Indonesia, terutama dalam kerangka comprehensive economic partnership yang disepakati pada KTT G-20 Los Cabos beberapa bulan lalu.

Kepala Tegak

Secara umum dapat kita tarik benang merah bahwa posisi Indonesia di dunia sekarang ini lebih baik dari masa-masa awal reformasi. Dengan latar belakang tersebut memudahkan langkah kita untuk tampil apik di panggung-panggung internasional. Dan dunia mengakui itu. Sebagai gambaran, dalam rangkaian pertemuan bilateral di KTT G-20 dan APEC lalu inisiatif pertemuan sebagian besar berasal dari negara sahabat. Ini artinya kita dianggap negara penting dan strategis di kawasan.

Maka tak heran pada CEO Summit APEC, Presiden SBY dengan kepala tegak menyampaikan perkembangan demokrasi dan ekonomi di Indonesia yang prospektif. Presiden menjelaskan, pada 2011, di tengah kelesuan ekonomi dunia, ekonomi Indonesia mampu tumbuh 6,5 persen. Sekitar 60 persen pertumbuhan yang tinggi ini didorong konsumsi domestik. Dari 240 juta penduduk, Indonesia memiliki 50 persen usia produktif. Selain itu, Indonesia menempati peringkat ke-15 negara besar dengan produk domestik bruto (PDB) US$ 1 triliun berdasarkan kekuatan daya beli masyarakat.

Lebih lanjut, SBY menyajikan data bahwa sekitar foreign direct investment (FDI) yang masuk ke Indonesia terus meningkat, mencapai US$ 20 miliar. Atas catatan ini, sejumlah lembaga seperti UNCTAD, Bloomberg, dan AT Kearney telah menempatkan Indonesia dalam '10 Negara Tujuan Investasi Dunia'. Sebelumnya Moodys's dan Fitch sudah menaikkan rating Indonesia ke level 'investment grade'. Menuju APEC Bali 2013, Indonesia menetapkan tema 'Resilient Asia Pacific: The Engine of Global Growth', yang menegaskan kuatnya pengaruh kawasan Asia Pasifik dalam ekonomi dunia.

Sampai ketemu di Bali tahun depan! Бпасибо, Spasibo Russia!

*) Zaenal A Budiyono adalah Assisten Staf Khusus Presiden/ anggota delegasi Indonesia di APEC Rusia 2012.

(vit/vit)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads