Di tengah anak-anak, Presiden Soeharto mampu bersikap luwes dan supel. Dalam acara yang diselenggarakan itu, panitia mengundang Ria Enes dengan boneka Suzannya. Di tengah acara itulah Presiden Soeharto bercanda dengan jenaka, bahkan sesekali mencolek boneka Suzan. Suzan dengan gaya anak kecilnya, dengan suara kenes, pun bertanya-tanya kepada Presiden Soeharto, seperti siapa idola Pak Harto dan apakah Pak Harto tidak capek menjadi presiden. Pak Harto pun dengan mengumbar senyum menjawab semua pertanyaan Suzan. Dengan suguhan acara seperti itu maka anak-anak yang hadir semuanya riang gembira, tertawa, dan melonjak-lonjak kegirangan, tak ada yang bengong apalagi tertidur.
Suasana seperti itu berbeda dengan acara Hari Anak tahun 2012 ini. Acara yang digelar di TMII di Theater Imax Keong Mas, awalnya tampak meriah, ada tari-tarian dan gerakan massal memainkan alat bunyi-bunyian dan payung. Namun selanjutnya acara berlangsung dengan serius. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pun memberi sambutan, entah karena kata-katanya terlalu serius, terlalu berat, dan ilmiah, maka ada beberapa anak yang tertidur. Anak-anak yang tertidur ini rupanya dilihat oleh pria asal Pacitan, Jawa Timur, itu. Sehingga ia dengan tegas kepada panitia mengatakan, "Tolong bangunkan yang tidur, itu ada satu dua yang tidur." Acara yang awalnya meriah pun berubah menjadi sedikit tegang dan kaku.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tentu oknum Paspampres itu bertindak berlebihan, dengan wilayah acara yang sudah disterilkan, pengamanan yang ketat, dan anak-anak itu masih lucu, pasti anak-anak tidak membayakan keselamatan presiden. Sangat disayangkan bila anak-anak disamakan dengan pengacau atau teroris yang hendak mengancam jiwa keselamatan Presiden. Atas insiden itu Ketua Dewan Pembina Komisi Nasional Perlindungan Anak, Seto Mulyadi (Kak Seto), mengatakan "Anak itu menangis karena kepalanya pusing sehabis ditoyor anggota Paspampres".
Menegur audiens yang tidur atau ngobrol saat pidato digelar telah beberapa kali dilakukan Presiden SBY. Saat acara resmi di Istana Negara maupun acara Partai Demokrat, teguran pada yang tidur atau ngobrol pernah dilakukan. Menteri Pendidikan Mohammad Nuh dan Menteri Kesehatan Siti Fadillah Supari pernah mendapat teguran SBY ketika SBY memberi pidato dalam sebuah acara di Istana Negara. Bahkan dalam tatap muka dengan kepala daerah dan sebuah acara Partai Demokrat, SBY benar-benar marah ketika ada peserta tertidur ketika dirinya menyampaikan pidato.
Dari kebiasaan menegur yang dilakukan SBY kepada audiens menunjukkan SBY belum bisa meninggalkan kebiasaan-kebiasaan di militer. SBY bisa jadi terbiasa dalam kebiasaan militer ketika ada pidato atau pengarahan, seluruh audiens harus siap siaga, konsentrasi, dan tidak boleh tidur. Bila ada yang melanggar maka akan ditindak keras. Nah di sinilah mungkin SBY harus diingatkan bahwa tidak seluruh masyarakat bisa seperti tentara atau polisi yang bisa konsentrasi ketika mendengar pidato.
Tim yang berada di belakang Presiden SBY seharusnya mampu memberi masukan kepadanya bagaimana gaya tubuh dan pidato ketika melakukan pidato dengan audiens yang berbeda-beda. Disayangkan dalam Hari Anak 2012 pidato SBY tidak berbeda dengan pidatonya saat berada di depan anggota parlemen, di hadapan menteri, kepala daerah, dan anggota Partai Demokrat, buktinya anak-anak yang lucu dan lugu pun ditegurnya. Sasaran audiens yang berbeda tentu gaya dan cara menyampaikan pesan juga harus berbeda. Seharunsya dalam Hari Anak, SBY lebih cair, luwes, simple, dan bila perlu menyanyi, sebab ia sendiri memiliki hobi menyanyi.
Gaya monoton dalam berpidato inilah yang sepertinya membuat ratusan anggota DPR berani bolos saat SBY melakukan Pidato Kenegaraan, 16 Agustus 2012, di Gedung Nusantara, Kompleks Gedung MPR/DPR/DPD. Bahkan dalam pidato RAPBN 2013 dan Nota Keuangan, jumlah anggota DPR yang tidak hadir semakin bertambah.
Maka di sini pentingnya untuk mengubah gaya-gaya pidato SBY. Biasanya kalau pidato seseorang membosankan atau tidak nyambung dengan audiens, maka apa yang dipidatokan itu dicuekin, masuk telinga kanan keluar telinga kiri, dan bila perlu ditinggal tidur. Namun bila seseorang pidatonya menarik, variatif, dan memberikan harapan, maka audiens dari awal hingga akhir akan tetap setia mendengarkannya. Lihat saja bagaimana menariknya pidato Presiden Soekarno, dari rakyat kecil, buruh, tani hingga politikus sekelas Hatta, Natsir, dan Syahrir, bisa menikmatinya.
*) Ardi Winangun adalah pengamat politik. Penulis tinggal di Matraman, Jakarta Timur. Email: ardi_winangun@yahoo.com. Nomor kontak: 08159052503
(vit/vit)











































