Menatap Olimpiade Selanjutnya
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Kolom

Menatap Olimpiade Selanjutnya

Kamis, 09 Agu 2012 11:50 WIB
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Menatap Olimpiade Selanjutnya
Jakarta - Olimpiade London 2012 sepertinya menjadi olimpiade yang paling sial dialami oleh kontingen Indonesia semenjak tradisi mendulang emas pada Olimpiade Barcelona 1992 diraih. Kekalahan ganda campuran Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir dari pasangan Cina, Xu Chen/Ma Jin, dalam semifinal membuat harapan Indonesia meraih emas menjadi sirna. Pasangan Tontowi/Lily diharapkan meraih emas sebab pasangan ini disebut sebagai salah satu ganda campuran terkuat di jagad perbulutangkisan.

Dengan tak ada raihan emas maka posisi Indonesia dalam ranking perolehan medali peserta olimpiade akan semakin terpuruk. Bandingkan dengan posisi Indonesia dalam Olimpiade Barcelona 1992 di mana Indonesia mampu meraih 2 medali emas lewat nomor tunggal putra dan tunggal putri, yakni Susi Susanti dan Alan Budikusuma, dengan rangking 24. Selanjutnya pada Olimpiade Atlanta 1996, raihan emas oleh ganda putra Rexy Mainaky/Ricky Subagja, ranking 41. Olimpiade 2000 di Sydney dari ganda putra Tony Gunawan/Candra Wijaya ranking 38. Olimpiade 2004 di Athena lewat Taufik Hidayat, ranking 48. Dan Olimpiade Beijing 2008 melalui ganda putra Markis Kido/Hendra Setiawan, ranking 42.

Kesialan Indonesia dalam Olimpiade London 2012 ini bukan hanya Indonesia tak melanjutkan tradisi emas dari cabang bulu tangkis namun juga tercoreng dari strategi yang terbongkar. Strategi terbongkar ketika Federasi Olahraga Bulutangkis Dunia (BWF) mendiskualifikasi ganda putri Indonesia, Meiliana Jauhari/Greysia Poli. Mereka didiskualifikasi sebab ganda putri Indonesia, bersama dengan ganda putri dari Korea Selatan dan China, dituduh bermain tidak fair. Tidak hanya sial namun kontingen Indonesia juga mengalami sia-sia ketika atlet tembak, Diaz Kusumawardhani, terlambat datang di arena lomba sehingga dirinya berada pada urutan kedua dari belakang, 55 dari 56 peserta.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kegagalan Indonesia dalam Olimpiade London 2012 ini menunjukan kegagalan Indonesia dalam membina cabang-cabang olahraga. Selama ini ketika mengirimkan kontingen ke olimpiade, pemerintah hanya memfokuskan ke cabang bulu tangkis. Memang iya kalau dikatakan dari cabang bulu tangkis peluang meraih emas paling tinggi, namun konsentrasi pada cabang bulu tangkis saja membuat cabang-cabang yang lain kurang mendapat perhatian yang lebih serius dan fokus. Kalau kita lihat sebenarnya tidak hanya bulu tangkis yang mampu menyumbangkan medali. Cabang angkat besi juga sebagai penyumbang, meski bukan emas. Namun ketika cabang ini lebih diseriusi bisa jadi angkat besi bisa memberi emas.

Untuk itu pemerintah selepas Olimpiade London ini harus mulai memikirkan dan melakukan pembinaan terhadap cabang-cabang olah raga lain yang mempunyai potensi tinggi untuk meraih medali. Sudah selayaknya Indonesia meniru China dan Korea Selatan. Perhatiannya yang sama kepada semua cabang olahraga membuat kedua negara itu tidak hanya mengandalkan pada satu cabang saja, misalnya bulu tangkis.

Ketika hanya mengandalkan bulu tangkis maka seperti inilah akibatnya. Bayangkan bila kita lebih serius memperhatikan Triyatno dan Eko Yuli Irawan, pasti kedua atlet angkat besi dari Lampung itu bisa lebih maksimal. Pun pengalaman dalam Olimpiade 2000 di Sydney, atlet angkat besi Indonesia, Lisa Rumbewas, berhasil meraih medali perak. Menjadi pertanyaan mengapa kesuksesan Lisa Rumbewas ini tidak diteruskan oleh atlet-atlet angkat besi perempuan selanjutnya? Jawabannya bisa jadi karena tidak ada pembinaan dari pemerintah.

Kalau kita lebih mau bicara mundur, kita mengetahui dalam Olimpiade Seoul 1988, tiga srikandi Indonesia, yakni Lilis Handayani, Nurfitriyana Saiman, dan Kusuma Wardani mampu meraih medali perak dari cabang panahan nomor FITA beregu di olimpiade. Dari kesuksesan tiga srikandi itulah membuat seluruh bangsa sepakat dan menegaskan bahwa Indonesia pergi ke olimpiade bukan lagi mencari pengalaman namun harus meraih medali.

Dari semangat inilah maka dalam olimpiade selanjutnya Indonesia selalu meraih medali, emas, perak, dan perunggu. Menjadi pertanyaan lagi kenapa pembinaan di cabang panahan ini tidak ditekankan agar bisa menjadi tradisi untuk meraih medali dalam olimpiade? Jawabannya bisa jadi pemerintah tidak memperhatikan cabang ini secara penuh.

Susahnya kita meraih medali, khususnya emas, dalam olimpiade memang banyak faktornya. Persaingan yang ketat, dari 204 negara, juga dikarenakan faktor fasilitas pelatihan yang dimiliki, pengalaman bertanding, dan ukuran fisik orang Indonesia yang lebih kecil dibanding dengan orang Eropa, Afrika, dan Amerika.

Kalau kita lihat sejarah olimpiade bahwa kompetisi ini diadakan berdasarkan kekuatan fisik yang ada, seperti kuat berlari atau adu fisik. Namun dalam perkembangannya, pertandingan yang diadakan tidak hanya mengandalkan kekuatan fisik semata namun juga adu keterampilan. Negara-negara yang mampu memadukan kekuatan fisik dan ketrampilan inilah yang mampu berbicara banyak dalam olimpiade.

Bangsa seperti China, Amerika Serikat, Rusia, Jerman, Korea Selatan, Korea Utara, Australia, Jepang, Inggris, adalah bangsa yang memiliki bentuk fisik yang lebih bila dibanding dengan Indonesia, namun bentuk fisik yang lebih bila tidak ditunjang dengan ketrampilan tentu tidak akan maksimal. Mereka bisa memadukan dua kekuatan itu sehingga atlet-atlet yang dikirim menjadi tidak sia-sia. Perenang Amerika Serikat, Michael Phelps, misalnya, tubuhnya yang tinggi dan besar serta atletis tidak akan berarti banyak bila tidak melakukan latihan yang kuat. Perpaduan antara bentuk tubuh yang sempurna dan latihan yang kuat membuat dirinya mampu meraih 19 medali emas dalam cabang renang.

Untuk olimpiade selanjutnya, pemerintah Indonesia harus bisa membaca kelemahan dan peluang yang ada. Bila faktor fisik menjadi penghambat maka Indonesia harus lebih memfokuskan pada cabang-cabang yang lebih mengandalkan keterampilan seperti panahan, anggar, dan menembak. Dengan membaca kelebihan dan kekurangan inilah, kehadiran Indonesia bisa lebih berarti.

*) Ardi Winangun adalah pemerhati sosial budaya. Penulis tinggal Matraman, Jakarta Timur. Nomor kontak: 08159052503. Email: ardi_winangun@yahoo.com

(vit/vit)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads