Jokowi harus menentukan strategi untuk keluar dari situasi ini dan segera membalikkan tendens, agar potensi kerugian bisa segera dilokalisir. Patut disadari bahwa perhatian beberapa media pada kasus Rhoma tidak berbanding lurus dengan kepentingan Jokowi dalam menempuh jalan berat menuju kursi Gubernur DKI.Jokowi harus menyadari itu. Ingat, Rhoma Irama adalah sebuah 'institusi' sekaligus legenda hidup di bidangnya. Fans Rhoma sangat fanatik. Bukan lagi sekadar fans sebagaimana pada tokoh musik lainnya, tapi nyaris dapat disebut sebagai pengikut, lengkap dengan hal-hal irasionalnya.
Selain itu, secara substansi unsur 'penghinaan', menyebarkan 'kebencian' suku, agama, ras, dan antar-golongan (SARA) seperti terpantau dari pemberitaan beberapa media baru sebatas interpretasi sepihak atas video yang dibocorkan salah satu peserta ceramah tarawihnya Rhoma. Lembaga pengawas pasti terlebih dulu akan menerapkan azas audiatur et altera pars dengan memanggil Rhoma dan pihak-pihak terkait lainnya, sebelum bisa ditarik suatu kesimpulan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jadi, ojo koyo kuwi. Dibolak-balik, kesan ada 'Jokowi vs Rhoma' dan proses terhadap Rhoma sangat tidak menguntungkan bagi Jokowi. Hanya akan memecah konsentrasi dan menguras sumber daya. Lebih baik fokuskan konsentrasi ke Foke. Rival Jokowi adalah Foke, bukan Rhoma. Jokowi memerlukan soliditas dukungan dari semua elemen masyarakat, termasuk dari fans setia Rhoma. Eskalasi isu ini, jika tidak terkendali dengan baik, bisa kontraproduktif bagi Jokowi di putaran kedua.
Oostpoort, 7 Agustus 2012
Keterangan penulis:
Penulis adalah koresponden detikcom di Belanda. Tulisan ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan redaksi. (es/es)











































