Mereka antusias menyambut Ariel selain karena menggemari lagu-lagunya yang enak didengar, juga bisa dikarenakan sosoknya yang dibilang gagah dan ganteng, sehingga yang tertarik tidak hanya anak-anak baru gede di kampung namun juga para artis-artis. Sehingga banyak artis perempuan ya ya saja ketika diajak begituan.
Untuk menyambut Ariel Peterpan, di sebuah media diceritakan, seorang fans dari Brebes, yang bernama Rosyikun, sampai menggadaikan BPKB motornya demi mendapatkan ongkos ke Bandung. Sama seperti Rasyikun, seorang fans dari Bekasi, yang bernama Roji, ia rela mengajukan cuti dengan alasan ingin bertemu kakaknya di Bandung. Cuti dengan asalan bertemu kakaknya di kota kembang, sebab menurutnya bila cuti alasan menyambut Ariel Peterpan pasti nggak akan dikasih.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketua Umum Komisi Nasional Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait, di sebuah media mengatakan seharusnya pembebasan Ariel tak perlu dipublikasikan berlebihan. Ia bukan ikon yang pantas ditiru. Ariel bukan seorang pahlawan dan tidak layak diperlakukan sedemikian rupa. Saya lihat rata-rata fans Ariel remaja yang rela menjemputnya di Rutan Kebon Waru. Lebih lanjut Arist mengatakan dirinya khawatir bahwa antusiasme para remaja atas bebasnya sang idola mereka bisa mengubah perilaku para remaja. Disebutkan, Ariel itu pria penyimpang seks. Bisa saja gara-gara itu mereka menafsirkan perbuatan Ariel itu sah-sah saja dan ditiru. Itulah dampak negatifnya.
Para anak baru gede penggemar Ariel yang datang dari berbagai daerah dan rela berdesak-desakan untuk menyambutnya, bisa jadi ia belum paham betul bahwa apa yang dilakukan itu akan mendorong bagi artis-artis yang memiliki kejiwaan yang sama dengan Ariel akan melakukan tindakan yang sama. Mereka berpikiran meski sudah melakukan kesalahan secara moral dan hukum, namun masih diterima oleh masyarakat (baca fans).
Apa yang dilakukan oleh penyambut Ariel itu akan mendorong semakin massifnya kebiasaan yang tidak bermoral di masyarakat. Sebab dengan melihat sambutan atas bebasnya Ariel muncul anggapan bahwa tidak bermasalah bila melakukan tindakan yang tak senonoh.
Penyambut Ariel yang bagian dari masyarakat bisa jadi karena masyarakat sendiri mengalami problem dalam soal etika dan moral sehingga hal ini menambah semakin keruhnya suasana di masyarakat. Problem dari soal etika dan moral di masyarakat muncul dari akibat kebebasan yang tidak terkendali, budaya politik yang tidak sehat, dan budaya konsumtif di masyarakat.
Kebebasan yang tidak terkendali di satu sisi dan suburnya budaya konsumtif dan masih banyaknya ketimpangan sosial akan membuat masyarakat melakukan tindakan yang melawan hukum, yakni ingin mencari jalan pintas agar cepat kaya. Cara ini bila dilakukan oleh orang-orang yang tidak mempunyai pekerjaan, ia akan merampok. Bila dilakukan oleh politisi atau penyelengggara negara, ia akan korupsi. Dan bila ia seorang artis, ia mencari sensasional dengan lebih menampilkan indahnya bentuk tubuh daripada bakat seninya.
Hal-hal demikian akhirnya menciptakan figur-figur yang tidak bisa menjadi panutan. Bagaimana kita bisa meneladani politisi-politisi jika sikapnya merugikan negara dan selalu berlindung di balik kebohongannya. Bagaimana kita bisa melihat dan menikmati seni yang indah bila lebih banyak ditampilkan seni yang lebih memamerkan bagian-bagian yang mengundang tindak kejahatan.
Apa yang muncul di tengah masyarakat saat ini, baik politisi yang korup atau artis yang kurang pantas, akan menginternalisasi di kalangan anak baru gede. Tak ada tegasnya hukum membuat politisi dan artis itu semakin berkeliaran di panggung televisi dan koran. Kondisi yang demikian menginternal di dalam otak anak-anak baru gede sehingga berakibat seperti menyambut orang yang sebetulnya tak pantas disambut.
Orang salah itu wajar, namun orang salah yang tidak berbuat salah itu yang paling penting. Saat ini Ariel bisa bebas dan semua pasti berharap agar dia tidak mengulang kesalahannya, namun bisakah kebebasan ini menjamin ia tidak melakukan kesalahan? Nah itu yang kita tunggu. Tetapi dengan sambutan yang luar biasa dari fans-nya itu akan menjadi kesombongan tersendiri bagi Ariel. Mungkin ia bisa saja dalam hatinya berkata, saya ternyata masih memiliki banyak fans meski saya sudah melakukan tindakan yang tidak pantas, jadi sepertinya tindakan saya itu tidak masalah.
Nah di sinilah letak tidak pahamnya para anak baru gede itu dalam menyambut bebasnya Ariel Peterpan. Silahkan saja ia menyambut Ariel namun setelah terbukti ia tidak mengulang perbuatannya. Namun saat ini para anak baru gede itu tidak mempunyai panutan di dalam masyarakat. Ini merupakan akibat dari menjadikan tontonan yang ada menjadi tuntunan. Sayangnya tontonan yang ada tidak menampilkan sosok atau figur yang bisa menjadi tuntunan. Bangsa ini sepertinya memang kehilangan figur yang bisa diteladani.
*) Ardi Winangun adalah pengamat sosial-budaya. Penulis tinggal di Matraman, Jakarta. Nomor kontak: 08159052503
(vit/vit)











































