Bakat alam ditambah dengan latihan keras sejak usia 13 tahun di SC Munchen 06, membuat dirinya menjadi fenomena baru, pada era 1970-an, di dunia sepakbola. Sebagai pemain sepakbola, Beckenbauer mengawali kariernya dengan menempati posisi sayap kiri, dari posisi ini kemudian berevolusi menjadi sweeper atau libero.
Pria yang lahir di masa Perang Dunia II ini mempunyai banyak catatan prestasi. Setelah dirinya bergabung dengan Bayern Munchen pada tahun 1964, klub itu mampu masuk dalam Bundesliga. Masuknya Bayern Munchen dalam Bundesliga sebab adil besar dari Franz Beckenbauer. Dalam tampilan pertandingan sebanyak 31 kali, ia mampu mencetak 16 gol. Dua tahun setelah dirinya bergabung dalam Bayern Munchen, klub itu mampu merebut Piala Jerman dan Winners Cup.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kesuksesan Franz Beckenbauer di Bayern Munchen berbanding lurus dengan kesuksesannya di timnas Jerman. Dibuktikan dalam Piala Eropa 1972 dan Piala Dunia 1974 serta 1990. Dalam Piala Eropa tahun 1972, dengan posisi sebagai kapten timnas, Franz Beckenbauer mampu mengantarkan negaranya sebagai Juara Piala Eropa. Dua tahun berikutnya, ia mampu menjadikan Jerman menjadi Juara Dunia untuk kedua kalinya. Sebagai pelatih, pada Piala Dunia 1990, Franz Beckenbauer menjadikan Juara Dunia untuk ketiga kalinya. Ini merupakan puncak-puncak prestasi Franz Beckenbauer.
Ada yang menarik dalam hidupnya, pada tahun 1968, ia oleh teman-temannya dijuluki Der Kaiser atau Sang Kaisar. Mengapa disebut demikian? Setelah ia bersama pemain Bayern Munchen melakukan sesi foto bersama mantan kaisar Austria, Franz Joseph I, di mana foto itu diberi judul Fußbal Kaiser atau Kaisar Sepakbola. Selepas foto ceria itu, ia oleh teman-temannya dipanggil Der Kaiser.
Legenda Franz Beckenbauer yang monumental ini belum mampu ditandingi oleh generasi pesepakbola Jerman selanjutnya. Generasi penerus pesepakbola di Jerman, masih di bawah bayang-bayang Franz Beckenbauer. Belum ada kaisar baru di Jerman. Bila ada pemain Jerman yang mempunyai bakat yang gemilang, sebutannya masih mencantol pada sebutan yang melekat pada Franz Beckenbauer. Contohnya, semasa pemain Jerman, Michael Ballack, menunjukan kegemilangan kariernya, ia disebut-sebut dengan julukan, Kaisar Kecil.
Tak hanya Ballack yang mendapat julukan kaisar, pemain timnas Jerman yang bermain di Lazio FC, Miroslav Klose pun mendapat julukan kaisar. Direktur Olahraga Lazio, Igli Tare, menjuluki Klose dengan sebutan Kaisar Klose. Julukan itu diberikan, sebab menurut Tare, Klose memiliki mentalitas mutlak untuk menang.
Dalam Piala Eropa 2012 di Polandia-Ukraina, ada pemain Jerman yang sangat berperan, meski produktifitas golnya di bawah Mario Gomez, yakni Mezut Oezil. Di mata rakyat Jerman, Oezil lain daripada yang lain, selain memiliki kepiawaian dalam bersepakbola, ia bukan berdarah asli Jerman. Ia adalah generasi ketiga, dari imigrant Turki yang tinggal di Jerman selepas Perang Dunia II. Sebab memiliki kepiawaian dalam bersepakbola dan membela timnas Jerman, rakyat Jerman tidak rasis terhadap Oezil.
Bakat dalam bersepakbola ditunjukan Oezil saat bermain di Kota Gelsenkirchen dalam Rot-Weiss Essen FC. Dari sinilah kariernya menuju puncak, hingga saat ini ia bermain di Real Madrid. Di klub elit Spanyol itu ia menempati posisi gelandang serang. Kepiawaiannya dalam bersepakbola di negeri matador ini membuat dirinya dijuluki El Búho (Si Burung Hantu) karena kemampuan operannya yang teliti meliputi sudut yang luas.
Dalam timnas Jerman pun, Oezil pun mendapat tempat yang terhormat bahkan berperang penting dalam menang kalahnya timnas Jerman. Sejak remaja ia sudah akrab dengan timnas. Pada September 2006, ia sudah menjadi bagian dari timnas Jerman, meski pada U-17. Dari U-17 ia melompat di timnas U-21. Di timnas U-21, ia meraih man of the match dalam kemenangan 4-0 atas Inggris di final Piala Eropa U-21, tahun 2009. Dari sinilah ia masuk dalam timnas 'senior' Jerman. Di timnas Jerman, karier Oezil pun semakin bersinar, bukti dari itu adalah dirinya terpilih sebagai man of the match atau pemain terbaik, saat pertandingan perempat final Piala Eropa 2012, antara Jerman dan Yunani.
Menurut juri pemilihan pemain terbaik dalam pertandingan itu, mantan pemain timnas Perancis Christian Karembeu, bahwa Oezil benar-benar berfungsi sebagai pengatur permainan. Oezil disebut sebagai pembuka ruangan sehingga memberikan peluang bagi pemain Jerman lainnya untuk mencetak gol.
Dari kalangan rakyat Jerman pun memberi apresiasi kepada Oezil. Pelatih timnas Jerman, Joachim Loew, mengatakan Oezil bermain demi kepentingan tim dan ia penghubung antarlini. Kanselir Jerman, Angela Merkel, secara khusus pun mengucapkan selamat kepada Oezil selepas pertandingan yang mengantarkan Jerman menuju semifinal Piala Eropa 2012 itu.
Dari kegemilangan inilah, membuat Oezil sering terpilih sebagai man of the match, sehingga layak dirinya disebut sebagai Kaisar Turki. Julukan kaisar bagi pemain Jerman adalah sangat terhormat, yang mampu menyandingkan dirinya dengan Franz Beckenbauer. Sedang Turki, meski berwarganegara Jerman, namun orang-orang Jerman tetap menyebut Oezil sebagai orang Turki.
*) Ardi Winangun adalah pemerhati sosial budaya. Penulis tinggal di Matraman, Jakarta Timur.
(vit/vit)











































