Meski pertandingan itu lingkupnya hanya untuk anggota UEFA, namun negara-negara di luar badan sepakbola Eropa ikut merasakan pestanya. Piala Eropa yang berlangsung berkala, selama 4 tahun sekali itu, oleh negara-negara di seluruh dunia, dijadikan referensi untuk bagaimana mengelola sepakbola secara keseluruhan, mulai dari pembinaan pemain hingga soal kemegahan stadion.
Seperti dalam Piala Eropa sebelumnya, dalam Piala Eropa 2012 ini akan bertabur bintang-bintang sepakbola. Bila kita biasa melihat pemain yang berlaga di La Liga, Primer League, Bundesliga, de Eredivisie, dan Ligue 1, maka bintang-bintang dalam liga di Spanyol, Inggris, Jerman, Belanda, dan Perancis, itu akan hadir di Polandia dan Ukrania. Kita akan melihat Asholey Cole, Gary Cahill, John Terry, Steven Gerrad, Frank Lampard, Wayne Rooney, Karim Benzema, Nasir Samir, Mezut Oesil, Zlatan Ibrahimovic, Xavi Hernandes, Xabi Alonso, Peter Cech, Christian Ronaldo, dan banyak pemain bintang lainnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bila dalam laga liga mereka beda klub dan sering bersaing untuk meraih kemenangan, maka dalam Piala Eropa mereka akan bersatu, satu negara, dan bertekad untuk bahu membahu untuk meraih trofi. Contoh, saat semifinal Champion Cup 2012, antara Bayern Muenchen dan Real Madrid; Mezut Oziel dan Sami Khadira yang bermain di Real Madrid, berhadapan dengan Philip Lahm, Mario Gomez, Thomas Muller, yang bermain di Bayern Muenchen. Mereka semua yang sebagai warga negara Jerman, dalama Piala Eropa 2012, tidak lagi mengenal Real Madrid dan Bayern Muenchen, yang dikenal mereka adalah, Jerman. Demikian pula Xavi Hernandez yang bermain di Barcelona FC dan Xavi Alonso yang bermain di Real Madrid, mereka tidak akan el clasico, sebab dalam Piala Eropa 2012 ini mereka dalam satu bendera, tim nasional Spanyol.
Kaos kebanggaan klub akan digantung dan berganti dengan kaos tim nasional. Pemain nasional Polandia, Robert Lewandowski, yang bermain di Bundesliga di Borussia Dortmund, yang telah sukses menghantarkan klub itu sebagai juara Bundesliga, ditantang untuk bermain prima, membela Polandia dalam Piala Eropa 2012. Pasti ia akan menunjukkan kualitas bermainnya saat bersama Borussia Dortmund sama ketika membela Polandia.
Dalam momen seperti ini, antara kapitalisme dan nasionalisme saling terpaut. Pemain-pemain tersebut di atas, yang memiliki nilai kontrak yang tinggi, pasti akan menjadi seorang nasionalis, sebab pasti akan menjadi bagian dari tim nasional negaranya. Ia akan berjuang mati-matian untuk membela tim nasionalnya.
Dalam momen ini pula, seorang nasionalis akan menunjukkan kelihaiannya dalam bermain bola agar nilai kapitalnya naik atau melejit. Contoh, pemain nasional Denmark, Nicklas Bendtner, yang menjadi andalan negaranya, dalam menjalani profesinya sebagai pemain sepakbola bayaran selama ini kurang bersinar. Tercatat pada tahun 2005, ia bermain di Arsenal FC, namun ia lebih banyak duduk di bangku cadangan. Kondisi yang demikian membuat ia dipinjamkan ke Birmingham City FC, 2006-2007, dan ke Sunderland, 2011-2012.
Dalam catatan, selama 5 musim di Arsenal FC, Bendtner hanya bermain 115 kali dan mencetak 45 gol, serta 21 asis. Saat di Birmingham City, ia mencetak 13 gol dan 9 asis dari 48 laga. Di Sunderland hanya mencetak 8 gol dan 5 asis dalam 32 laga.
Untuk menunjukkan bahwa ia memang benar-benar pemain yang hebat dan berhak memiliki nilai kapital yang tinggi, maka ia akan bermain sebaik-baik dan sekuat-kuatnya untuk Denmark. Bila Denmark mampu menjadi dinamit berkat kerja keras atau nasionalisme Bendtner, maka secara kapital, dirinya akan terkerek. Dengan nasionalismenya itu, ia juga akan mudah untuk mencari klub, tentu dengan nilai kapital yang tinggi pula.
Kesimpulannya adalah, pertama, bila pemain bola ingin memiliki nilai kapital yang tinggi, maka ia harus menunjukan nasionalisme ketika membela tim nasionalnya. Menunjukkan nasionalisme di sini adalah bermain dengan serius, konsentrasi, menunjukkan talenta dan bakat, serta tak kenal menyerah sebelum peluit berbunyi sebagai akhir dari pertandingan. Kesimpulan yang demikian terlihat selepas Piala Dunia 2010, di Afrika Selatan, di mana Mezut Oezil dan Sami Khedira, yang telah menunjukkan nasionalisme kepada tim nasional Jerman, meski Jerman Juara III, ia ditawari kontrak untuk bermain di Real Madrid FC.
Kedua, pemain yang memiliki nilai kapital yang tinggi, ia dituntut untuk bisa menunjukkan nasionalisme. Dalam sebuah liputan majalah Time (Februari 6, 2012) tentang Lionel Messi, dikupas kehebatan Messi tidak akan ada artinya bila dalam Piala Dunia 2014 di Brasil, ia tidak mampu membawa negaranya, Argentina, menduduki tempat terhormat dalam ajang sepakbola sejagad itu. Di sinilah tantangan para โkapitalismeโ untuk menunjukkan nasionalismenya.
Penggemar Sepakbola
(nrl/nrl)











































