Kata end, bisa jadi akan dialami oleh anggota DPR dengan inisial KMN dan AB (JP, 25/4/12), yang terekam dalam video porno, di mana videonya itu saat ini tersebar di masyarakat luas. Mengapa end, sebab terlibat dalam video porno merupakan aib yang sangat memalukan dibanding dengan kasus korupsi yang jumlahnya miliaran rupiah. Bila seorang korupsi dengan jumlah yang sangat banyak, mereka masih bisa senyum-senyum atau tertawa-tawa di depan masyarakat. Hal ini berbeda bila mereka terlibat dalam skandal video porno. Mereka akan menyembunyikan, memenjarakan, dan mengucilkan diri dengan batas waktu yang tidak tahu sampai kapan.
Apa yang dilakukan oleh KMN dan AB, sebenarnya bukan yang pertama, sebelumnya ada kasusnya Yahya Zaini dan Max Moein. Namun entah mengapa kedua kasus itu tidak dijadikan pelajaran dan kehati-hatian oleh anggota DPR lainnya. Kasus yang sudah-sudah sepertinya malah digunakan entah untuk apa. Kasus yang terdahulu terbukti telah memenjarakan atau mengucilkan Yahya Zaini dan Max Moein dalam pergaulan masyarakat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
End dari karier seseorang bila terlibat dalam hubungan suami istri yang tidak legal, di Amerika Serikat tidak hanya pada lingkup politisi atau pejabat negara, Secret Service yang melakukan demikian pun 'dipaksa' untuk mengundurkan diri. Ketika, Secret Service Presiden Amerika Serikat, Barack Obama, bertugas mengamankan Presiden saat Konferensi Amerika, di Cartagena, Kolombia, para Secret Service itu menyewa para pekerja seks komersial untuk melayani nafsu mereka. Hal demikian, selain tidak pantas, juga membahayakan keamanan Presiden, sebab siapa tahu para pekerja seks komersial itu mata-mata atau teroris.
Akibat yang demikian, puluhan anggota Secret Service dipulangkan ke Amerika Serikat, dan begitu kasusnya menjadi isu politik di Negara Paman Sam itu, mereka malu dan mengundurkan diri. Barack Obama pun mengecam dan mendorong Kepala Secret Service untuk menindak mereka. Pengunduran diri merupakan sesuatu bentuk dari pertanggungjawaban mereka atas kecerobohan yang dilakukan. Karier para Secret Service yang melakukan tidak pantas itu pun akhirnya end.
Banyak politisi di dunia kariernya end, ketika melakukan hal yang tidak pantas itu. Pada Mei, 2007, publik Amerika Serikat dihebohkan dengan ancaman germo kelas kakap di Washington, Deborah Jeane Palfrey, yang ingin membocorkan 15 ribu nama pejabat Amerika Serikat yang telah menggunakan jasanya untuk menyediakan pekerja seks komersial. Meski sang germo, yang akrab disebut Madam DC, melakukan gertak sambal, namun gertakan itu sudah membuat Kepala USAID, Randall Tobias, mundur karena terkait dengan pemakaian jasa dari para perempuan yang 'diasuh' Madam DC.
Bila politisi dan pejabat publik kariernya end saat terlibat dalam hubungan yang tidak pantas, lain halnya dengan artis. Bila artis terlibat dalam hal-hal yang tidak pantas, kariernya tidak akan end, bahkan malah melesat. Tak heran bila artis suka menyerempet-nyerempet dalam wilayah ini dengan alasan untuk meningkatkan popularitasnya.
Contohnya, tersebarnya video porno dengan pelaku Ariel, Luna Maya, serta Cut Tari, sepertinya tidak membuat mereka malu. Meski video pornonya sudah menjadi konsumsi masyarakat luas, karier mereka tidak tamat seperti politisi. Anehnya mereka masih dipuja-puja bahkan kehadirannya di atas panggung atau di layar televisi ditunggutunggu.
Luna Maya dan Cut Tari, sekarang pun masih dapat tawaran kerja dalam dunianya dan mereka sepertinya tidak bersalah ketika melanggar norma yang ada. Saat ini Luna Maya semakin eksis dengan menjadi bintang iklan sebagai bidadari yang jatuh dari langit, sedang Cut Tari menjadi presenter dalam sebuah acara di salah satu stasiun televisi. Paling aneh di Indonesia, ketika ada beberapa sosok wanita di Indonesia yang terlibat dalam video tak pantas malah didukung menjadi calon wakil kepala daerah.
Dari semua paparan di atas, ada hal yang bisa disimpulkan, Pertama, skandal seks atau video porno, pelakunya bisa siapa saja, dari orang paling rendah sampai orang paling atas. Motif yang dilakukan dari yang mulai iseng, komersial, sampai upaya untuk menjatuhkan lawan politiknya. Di Indonesia, hal demikian dilakukan dari bocah SMP, anggota DPRD, DPR, kepala daerah, mantan menteri, dan lain sebagainya. Namun sepertinya hal demikian dilakukan karena lebih banyak mengumbar hawa nafsunya yang tidak pada tempatnya.
Problem dari masalah yang demikian apabila terbongkar dan tersiar ke masyarakat luas, lebih-lebih bila pelakunya adalah orang yang seharusnya menjadi tauladan, pejabat, atau orang yang ditokohkan. Harapan kita adalah, tokoh-tokoh yang menjadi tauladan seharusnya menampilkan citra yang baik dengan menjauhi dari hal-hal yang demikian, sebab bila hal demikian terbongkar dan tersiar ke masyarakat, tidak hanya membuat kariernya end, namun juga mencoreng institusi di mana ia berada.
Kedua, bila pejabat publik atau politisi terlibat dalam video tak pantas kariernya menjadi end, lain halnya bagi para artis. Dunia hiburan dan entertaiment yang sepertinya tidak mementingkan norma dan kepatutan yang ada tidak terlalu memusingkan masalah itu. Urusan yang demikian sepertinya dianggap hal yang biasa, urusan masing-masing, bahkan menjadi batu loncatan untuk lebih mempopulerkan diri. Harus diakui 'muka' para artis lebih tebal dibanding dengan politisi, meski mereka sudah melakukan yang demikian mereka tidak malu-malu tampil di depan umum. Para artis yang melakukan demikian masih bisa lenggak-lenggok, menyanyi, tersenyum, tertawa, di atas panggung atau di layar televisi dan film.
Ketiga, bila ada anggota DPR atau pejabat publik melakukan hal yang demikian, seharusnya mereka dengan suka rela mengundurkan diri. Bila Kepala Secret Service memecat anggotanya ketika mereka melakukan hal yang tidak pantas, maka partai asal dari politisi yang melakukan demikian seharusnya melakukan tindakan yang tegas. Ini sebagai sebuah bentuk pertanggungjawaban atau untuk memberi pelajaran bagi yang lain agar tidak melakukan hal yang sama. Ada sebuah contoh yang bagus, ketika ada anggota DPR yang kepergok melihat situs porno saat Sidang Paripurna, ia mengundurkan diri.
*) Ardi Winangun adalah Ketua Forum Alumni Sekolah Pemikiran Pendiri Bangsa. Penulis saat ini tinggal di Matraman, Jakarta Timur. Kontak: 08159052503
(vit/vit)











































