Berdamai dengan Banjir Ala Tai Chi Master
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Kolom

Berdamai dengan Banjir Ala Tai Chi Master

Senin, 09 Apr 2012 17:10 WIB
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Berdamai dengan Banjir Ala Tai Chi Master
Jakarta - Musim hujan datang, banjir pun menghadang para warga kota. Acara tahunan bagi para wartawan peliput berita. Kenduri tahunan bagi sebagian para politisi penebar pesona. Dosa tahunan bagi pengelola kota yang sibuk menyalahkan curah hujan, sungai meluap dan permukaan air laut naik.

Curah hujan, air sungai dan air laut itu sudah ada sejak bumi ini terbentuk, bermetamorfosa dan akan terus berevolusi. Proses alam ini dimulai jauh sebelum warga Betawi menempati Jakarta, jauh sebelum pembangunan pamurbaya (pantai timur Surabaya) dan jauh sebelum orang Indonesia pertama menggunduli hutan-hutan pantai selatan Jawa. Dengan kemajuan ilmu, semua itu sudah jelas ukurannya, jelas siklusnya dan jelas penambahan setiap tahun akibat perubahan iklim global.

Tapi, kenapa setiap ada kelebihan curah hujan, kelebihan air di sungai dan kelebihan air di laut sekitar manusia selalu heboh, merasa tersakiti dan merasa dizalimi oleh alam? Manusia pun dengan congkak mengatakan ini pembawa bencana, harus dienyahkan! Kecongkakan ini pun diejawantahkan dalam bentuk-bentuk rekayasa alam seperti reklamasi, normalisasi, biopori dan lain sebagainya. Kecongkakan ini pun telah menjadi budaya atas nama industrialisasi dan modernisasi. Manusia pun menabuh genderang perang sesombong-sombongnya lagu pengurangan bencana sebagai akibat kecongkakan mereka sendiri.
Β 
Kawan, bertobatlah. Bertobatlah pada Penguasa dan Pencipta curah hujan, air sungai dan air laut. Dia pencipta yang maha sempurna. Tentu, tidak mungkin menciptakan barang setengah jadi atau BS (below standard). Dia menciptakan semuanya berpasangan. Dia menciptakan semuanya pada keseimbangan dan keharmonisan. Keseimbangan dan keharmonisan juga lah yang menjadi prinsip dasar Tai Chi dalam mengalahkan lawan petarung secara mematikan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Prinsip keseimbangan dan keharmonisan itu menjadi kerangka pikir dalam Tai Chi. Prinsip itu kemudian menjadi sumber inspirasi tarian-tarian mematikan lawan. Dia lentur tapi keras, dia menghindar tapi juga menyerang. Kerangka fikir inilah yang seharusnya mulai diubah pada masyarakat kita terhadap bencana. Tren bencana di dunia yang dilansir oleh EMDAT pun sudah menunjukkan bahwa dunia semakin akan sering dikunjungi oleh bencana-lebih sering dan lebih tinggi skalanya. Tidak mungkin dikurangi sehingga pengurangan bencana menjadi bagian dari mission impossible.

Oleh karenanya, mulailah berpikir bahwa ketika ada bencana atau tidak ada bencana, kehidupan kita harusnya tidak banyak terganggu. Artinya, kita harus hidup harmoni dengan banjir dan kita harus menyeimbangkan kemampuan kita menanggung beban bencana dengan membagi resiko. Jika tidak bisa, lebih baik kita tinggalkan tanah yang sudah dikunjungi banjir ratusan tahun sebelumnya secara periodik, yaitu: daerah-daerah hilir ataupun tanah-tanah alluvial sebagai hasil proses sedimentasi jangka panjang.

Layaknya Tai Chi, perubahan satu komponen akan mempengaruhi keseimbangan komponen lainnya. Ketika Sang Pencipta sudah menciptakan hutan sebagai penampung sementara air hujan. Janganlah kita kurangi daya tampungnya dengan alasan pembangunan. Sejak SD selalu diajarkan untuk tidak menggunduli hutan, tapi apa lacur, negeri ini terlalu banyak teori yang tidak berevolusi menjadi praksis. Stop penggundulan hutan! Saatnya reboisasi! Hukum maksimal para pe-illegal logging! Gugatlah para aparat yang senang membuat aktivitas berlebih di tengah hutan! Di sisi lain, makmurkan kabupaten di hulu sungai, berilah mereka kompensasi atas keterbatasan lahan mereka. Daripada uang dihabiskan untuk biaya pengerukan sungai, apakah tidak lebih baik untuk menjaga agar tidak ada erosi berlebihan di hulu?

Seorang Tai Chi master mengalahkan lawan dengan mengalirkan energinya, bukan dengan mematahkan energi lawan. Begitu juga dengan air, ia pasti mengalir dari atas ke bawah melalui sungai. Berilah ruang kepada sungai untuk bereskpresi. Ekspresi sungai itu berwujud pada pindah-pindahnya aliran sungai, berkelok-keloknya wujud sungai dan kadang-kadang meluapkan airnya. Pemberian ruang itu artinya mengalirkan energi air itu sendiri. Pengekangan kebebasan berekspresi akan menimbulkan dampak fatal karena energi air akan mengumpul dan tiba-tiba dilepaskan.

Ini bukan sikap genit dari sungai tapi semua materi hasil ciptaan-Nya memerlukan ruang ekspresi termasuk manusia sendiri. Bangsa ini sudah mengerti bagaimana rasa dikekang kebebasannya selama 32 tahun lamanya dan direbut hak-haknya selama 3,5 abad lamanya. Jadi tidak logis jika kita mendukung pengekangan ekspresi sungai dan air. Tidak logis, jika kita mendukung sempadan diduduki. Tidak masuk akal, jika kita membiarkan sungai semakin mengecil bahkan buntu. Tidak sopan, jika kita membiarkan penyumbatan sungai dengan sampah. Dan tidak manusiawi, jika kita mengekang sungai dengan menentukan kemana sungai tersebut harus mengalir. Dengan pengekangan itu, sama saja mendorong kita untuk terus maju menuju pintu kematian kita sendiri.

Kawan, kita sekarang berada di perahu yang sama bernama daerah aliran sungai. Melubangi perahu hanya untuk mendapatkan air layaknya kawan kita yang terus menebangi pepohanan di kawasan hulu atas nama pembangunan. Janganlah begitu, bekerja samalah wahai orang gunung dengan anak pantai, aturlah mekanisme disinsentif-insentif atas pengorbanan orang gunung di hulu. Dan, berdamailah dengan banjir.

*) Adjie Pamungkas adalah dosen perencanaan wilayah dan kota dari ITS, kandidat doktor dari RMIT, Australia. Email: adjieku@gmail.com

(vit/vit)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads