Rakyat Melawan
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Kolom Djoko Suud

Rakyat Melawan

Kamis, 29 Mar 2012 19:51 WIB
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Rakyat Melawan
Jakarta - Rakyat melawan. Itu dilakukan dengan demo menolak kenaikan BBM. Jika tidak arif menyikapi, jangan tercengang kalau yang tak terduga bakal menorehkan tinta hitam dalam sejarah negeri ini. Terbaik, tunda sementara kenaikan BBM!

Mahasiswa, buruh dan rakyat turun ke jalan. Mereka 'menekan' agar kebijakan itu urung direalisasi. Aksi ini berjalan pekan-pekan ini dan mungkin masih panjang lagi. Intensitasnya kian meninggi, bervariasi dari yang santun dan anarki. Dari yang murni menyuarakan aspirasi sampai yang ditunggangi.

Dari aksi itu terdapat satu benang merah. Rakyat semakin tidak percaya dengan pemerintah dan wakil-wakilnya di dewan. Dari fakta itu kita bertanya, masihkah pemerintah tetap tuli melihat realitas itu? Dan benarkah ini sekadar akibat BBM naik?

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam pameo Jawa, peristiwa yang kini marak itu diistilahkan sebagai kriwikan dadi grojokan. Kebocoran kecil yang mampu menjebol tanggul setangguh apa saja. Kesalahan kecil menyulut terjadinya musibah nasional. Berdarah-darah yang menguras airmata sambil keheranan bertanya-tanya.

Itu karena demo kali ini adalah akumulasi. Titik kulminasi dari maraknya pejabat korup, penindakan koruptor yang 'manusiawi', pembohongan publik para pejabat negara, kian dominannya asing menguasai perekonomian nasional, nasib rakyat kecil yang tidak diperdulikan, serta ketidak-tegasan pemimpin.

Akibat itu, ketika rakyat meyakini nasibnya kian terpuruk dengan kenaikan BBM dan kemungkinan listrik, maka rakyat merasa pemerintah dan wakil rakyat yang mengklaim sebagai mandataris itu tidak layak sebagai penerima amanah. Rakyat marah dengan kebijakan itu. Mahasiswa hanyalah stimulator. Termasuk buruh.

Aksi demo di berbagai daerah itu diprediksi akan terus marak dan kian anarkhis jika BBM dinaikkan. Ini sebagai bentuk keprihatinan terhadap kemungkinan kian terpuruknya kehidupan wong cilik. Sebab BBM naik memicu berbagai kebutuhan ikut menyesuaikan diri. Melemahkan daya beli rakyat. Dan menimbulkan sejuta problem bagi kehidupan rumahtangga yang tak berpunya.

Aksi ini jika dibawa dalam tataran budaya, gerakan yang berlangsung kini masuk kategori gerakan Ratu Adil. Rakyat tidak percaya dengan pemimpinnya, sedang mencari figur baru yang perduli terhadap nasib mereka. Mengerti tangis rakyat, memahami keprihatinan rakyat, dan memberi perhatian lebih pada mereka.

Dalam sejarah pergerakan rakyat yang terbungkus dalam idiom Ratu Adil, aksi seperti ini sulit dicarikan solusi jika pangkal masalah (BBM naik) sudah terjadi. Dalam gerakan Erucokro, perlawanan Ngaisah, atau gerakan Mbah Suro pun untuk menanggulanginya harus dilakukan bumi hangus. Tipu daya dan senjata. Adakah karena itu tentara dilibatkan dalam meredam aksi unjuk rasa anak bangsa (mahasiswa) sebagai calon pemimpin negeri ini di masa depan itu?

SBY harus hati-hati dengan situasi chaostis hari-hari ini. Wakil rakyat dan partai politik yang mengayomi juga wajib waspada dengan aksi ini. Sebab demo kali ini tidak sekadar amuk. Ini puncak kejengkelan rakyat yang meletup bersamaan isu sensitif yang tidak populis. Kalau gegabah menangani, maka revolusi sosial riskan meledak.

Untuk meredam sementara, batalkan kenaikan BBM. Ataukah SBY dan pemimpin partai memang lebih punya nyali besar jika menggencet rakyat dan mahasiswa?

*) Djoko Suud Sukahar adalah pemerhati sosial budaya. Penulis tingga di Jakarta.

(vit/vit)



Berita Terkait