Rumor Anas akan dilengserkan dari jabatannya sebagai Ketua Umum Partai Demokrat (PD) itu sebenarnya sudah basi. Mengemuka tahun lalu, meruncing setelah terpilih dalam Munas Bandung. Kalahnya 'duet' Andi Mallarangeng dengan Ibas dianggap sebagai 'benih' pertentangan yang terus berkecambah. Mengancam posisi Anas, karena diasumsikan sebagai kekalahan jago SBY.
Pesaing ketat Anas dalam Munas, Marzuki Alie, juga menyisakan luka mendalam di tubuh partai. Faksi-faksi terbentuk. Mengerucut dalam bentuk kubu-kubu-an. Ini tampil transparan dalam banyak kesempatan. Itu yang melegitimasi partai ini sebagai partai 'yang dianggap belum dewasa' berpolitik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di tengah kondisi yang tak kunjung bisa 'bersatu' itu, Nazaruddin, bendahara PD kena perkara Wisma Atlet. Dia ke Singapura (katanya berobat), melanglang ke berbagai negara ketika berstatus tersangka. Buron itu menebar serangan melalui pengakuan-pengakuan faktual atau fiksi, dan internal PD silang-sengkarut menyikapi perkara ini.
Nazaruddin adalah password untuk mengorek borok itu. Perkara ini seperti bom bunuhdiri. Mantan Bendahara PD itu menyebut tidak 'makan' sendiri. Uang-uang itu ditebar pada banyak kalangan di partai ini. Persis pencuri ayam menyembelih ayam curiannya untuk dimakan rame-rame. PD pun dihajar banyak pihak.
Di dalam tubuh PD, friksi yang berseberangan memanfaatkan kesempatan. Saling tunjuk tidak terelakkan. Ada kekuatan lain merasuk dalam kasus Nazaruddin. Itu yang menipiskan nama-nama Ibas dan Andi Mallarangeng dalam penyebutan saksi di pengadilan, dan semakin kencangnya nama Anas dikibarkan. Ini rasanya akan berbalik 180 derajat jika Neneng istri Nazaruddin yang sudah ditetapkan sebagai tersangka bisa ditangkap. Sebab 'kebebasan' wanita ini diindikasikan alat untuk 'bargaining' itu.
Di tengah dacin tidak berimbang itu rumor Anas akan dijatuhkan teraktualisasi kembali. Itu ketika SBY mengumpulkan Dewan Pembina Partai Demokrat (DP PD) di Cikeas. Dalam pertemuan ini, kendati terbatas, tapi hampir pasti perkara Anas menjadi agenda yang diperbincangkan. Rumor itu dibelah. Dicari implikasi kalau Anas dilengserkan atau tetap dipertahankan.
Rumor Anas dilengserkan tidaklah sekadar rumor. Rumor itu telah lama dicari pasal untuk membuatnya nyata. Andi Mallarangeng yang direncanakan sebagai pengganti, tetapi muskil karena Menpora ini juga terkait dengan perkara Wisma Atlet yang mendegradasi citra PD itu.
Tahap berikutnya dimunculkan nama Pak De Karwo, Gubernur Jatim, sebagai kandidat. Namun masalalu yang memberi ruang permilih PD di Jawa Timur akan anjlok mengganjal laju calon ini. Itulah yang kemudian memunculkan rumor, bahwa yang ideal menggantikan Anas memimpin PD adalah Joko Suyanto. Joko adalah sosok yang integritasnya terhadap PD tidak perlu diragukan. Loyalitasnya terhadap SBY juga setara dengan Sudi Silalahi.
Rumor itu naga-naganya masih sangat lama tetap menjadi rumor. Itu selain sikap SBY yang selalu mencari alat sebelum bertindak, juga mulai timbulnya kesadaran dari pihak Anas, bahwa segalanya harus diperjuangkan. Berjuang demi diri dan jabatan, termasuk menjaga eksistensi gerbong yang sekarang dikemudikannya.
Jika rumor itu dipaksakan untuk menjadi realitas dalam tahun-tahun ini, maka posisi PD bakal terancam. Partai ini akan ambruk. Dijauhi rakyat, dan konstituen yang ada terbelah, entah akan lari ke mana. Dari kalkulasi itu nampaknya Anas masih akan menempati posisinya sebagai Ketua Umum Partai Demokrat. Ketua Umum yang selalu dirumorkan akan diganti.
*) Djoko Suud Sukahar adalah pemerhati sosial budaya. Penulis tinggal di Jakarta.
(vit/vit)











































