Kolom

Ketika Orang Susah Naik Sedan Mercy

- detikNews
Selasa, 03 Jan 2012 08:33 WIB
Jakarta - Di suatu sore, beberapa puluh tahun silam, penulis sedang duduk mengobrol dengan Bang Melan, diteras rumahnya di Bendungan Jago, Kemayoran, Jakarta Pusat. Kala itu, jalanan di depan rumah masih tanah, belum diaspal, karena kondisi ekonomi Indonesia sedang morat marit ditengah masa Dwi Kora.

Tiba-tiba datang sedan Mercy 180 berhenti dan keluarlah seorang lelaki paruh baya. Dengan logat Jawa kental dia bertanya alamat rumah Pak Haji Muhammad Hasan. Beberapa saat setelah dia berlalu, Bang Melan memberi komentar, "Orang Jawa susah tuh".

Dengan terhenyak agak kaget, penulis langsung bertanya, "Kenape susah? Die kan naek Mercy?". Dengan entengnya, Bang Melan menjawab, ‚ÄĚKalo die orang senang, dia tetep di kampungnye, enggak kemari. Karena di sane susah, dia ke Jakarta tuh".

Inilah sepenggal percakapan penulis dengan Bang Melan. Pola pikir Bang Melan tersebut sederhana sekali, namun bila dihayati, hakikatnya sangatlah dalam, dan masih akurat sampai saat ini, di era 'Digital Society'. Untuk memahami teori ini tidak diperlukan seorang pakar sosial, karena ini kenyataan sosial sehari-hari. Siapa pun yang berinteraksi dengan masyarakat luas, pasti sadar akan kenyataan seperti ini.

Dalam konteks urbanisasi, arus pendatang masuk ke kota Jakarta sangat deras. Banyak teori, studi dan praktik telah dilakukan untuk menguranginya, namun langkah-langkah yang dilakukan seperti menggarami air laut alias sia-sia. Meminjam istilah si Bungkus, seorang tukang es di Jembatan Haji Ung dikala itu, "Ampe ujan bekelir, enggak bakalan brenti tu pendatang". Hujan bekelir atau hujan berwarna, mengasosiasikan pada hal-hal yang tidak mungkin, mana ada hujan berwarna kuning, merah, hijau atau biru, memangnya warna parpol?

Bagi Jakarta, isu urbanisasi bagai buah simalakama. Bila pertumbuhan berhenti otomatis timbul masalah. Sebaliknya, perkembangan yang pesat akan menciptakan berbagai problem. Urbanisasi sudah menjadi komponen dari aturan main ekonomi; 'supply versus demand'. Sebagai gambaran, salah satu sumber urbanisasi adalah permintaaan tentang pengasuh anak atau istilah kerennya baby sitter. Di kalangan pasangan muda dengan strata sosial ekonomi ABC, 'demand' untuk pengasuh anak sangat tinggi. Hal ini disebabkan bermacam alasan; benar-benar butuh, malas mengurus anak atau sekedar untuk pencitraan.

Di mal, restoran dan tempat-tempat rekreasi, sudah lumrah bila para suami istri di kawal baby sitter. Dan hebatnya, jumlah mereka proporsional dengan jumlah anak; dua anak ya dua baby sitter, bukan main! Bisakah ini dilarang? Tentu saja tidak, nanti disangka anti-HAM.

Secara kasar, jumlah baby sitter di DKI mudah diprediksi. Dengan penduduk sekitar 9 juta, dan rata-rata setiap rumah dihuni 6 orang, maka ada 1,5 juta rumah. Bila 30 persen dari rumah tersebut adalah golongan ABC, dan rata-rata memiliki 2 pengasuh anak, maka jumlah mereka sudah sekitar 900 ribu orang, setara dengan sepertiga populasi Singapura.

Berkaitan dengan ini, menjadi mustahil bila Jakarta diharuskan bekerja sendiri menangani isu urbanisasi. Penanganan urbanisasi seharusnya menjadi program nasional yang harus dimotori oleh instansi terkait seperti Kementerian Percepatan Daerah Tertinggal.

Indikasinya sederhana, tidak usah jauh-jauh kita ke Morotai atau Pulau Rote, cukup melirik ke daerah Pantura Jawa. Bila daerah-daerah di wilayah pesisir utara Jawa Tengah, sejak Cirebon sampai ke Semarang berhasil ditumbuhkembangkan dengan berbagai program percepatan pembangunan yang tepat guna, niscaya daerah-daerah tersebut akan menjadi makmur. Kemakmuran lahir dan batin ini akan membuat penduduknya nyaman, karena segala fasilitas hidup yang dibutuhkan sudah tersedia dan bisa dinikmati, dari pendidikan, ekonomi, kesehatan, sosial dan lain-lain.

Bila ini bisa dicapai, akan berlaku hukum alam yaitu populasi yang sudah nyaman di satu tempat, akan segan meninggalkan kediamannya. Seperti komentar Bang Melan tadi, bila mereka senang di kampungnya, tak akan mereka datang ke Jakarta. Soal dampaknya ke Jakarta di mana pasangan muda akan susah mencari pengasuh anak dari daerah di Pantura Jawa, itu isu lain, yang bisa kita ulas di lain waktu. Marilah kita majukan Indonesia, melalui program pembangunan tepat guna yang proporsional dan merata ke semua provinsi.

Sebagai informasi, Bang Melan (alm), lahir pada tahun 1911, nama lengkapnya Haji Ran Ramelan, adalah ayah kandung penulis. Beliau merupakan salah satu tokoh Betawi, pemrakarsa Lembaga Kebudayaan Betawi, pejuang, wartawan tiga jaman, penulis cerita dan film, beberapa diantaranya sangat melekat di hati masyarakat, seperti Macan Kemayoran, Lagoa Jago Tanjung, Singa Betina Dari Marunda, Mbah Suro dan Cagar Budaya Condet.

*) Marsda TNI (Purn) H. Prayitno Ramelan adalah pengamat intelijen dan isu keamanan. Untuk artikel lainnya kunjungi www.ramalanintelijen.net

(vit/vit)