Ada Apa dengan Suster Ngesot?
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Kolom

Ada Apa dengan Suster Ngesot?

Senin, 19 Des 2011 16:04 WIB
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Ada Apa dengan Suster Ngesot?
Jakarta - Gara-gara ingin membuat kejutan untuk temannya yang ulang tahun, seorang remaja putri di sebuah apartemen, di Bandung, Jawa Barat, memerankan diri sebagai Suster Ngesot. Tak disangka ternyata rencana itu membuat masalah panjang, pasalnya ketika hendak menakut-nakuti temannya, dirinya malah ditendang satpam apartemen.

Merasa tak terima dengan tendangan satpam, karena tendangan itu membuat dirinya pingsan dan giginya patah maka satpam itu dilaporkan ke polisi. Dibawanya masalah ini ke proses hukum rupanya membuat rasa empati dan simpati masyarak kepada satpam, pasalnya 3 hari setelah dibukat group dukungan kepada satpam penendang Suster Ngesot, jumlahnya mencapai 12.000 netter. Jumlah ini tentu akan bertambah bila proses hukum terus berjalan dan diamati oleh masyarakat.

Orang menjadi setan-setanan saat ini rupanya menjadi tren. Apa yang terjadi di Bandung itu bukan yang pertama. Sebelumnya di Kenjeran, Surabaya, Jawa Timur, ada seorang yang menjadi pocong. Tujuannya ya seperti di Bandung tadi yakni menakut-nakuti orang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Budaya menjadi setan-setanan ini lahir seiring dengan semakin derasnya tayangan di televisi dan film yang menampilkan hantu-hantu yang aneh-aneh. Dalam tayangan itu setan atau hantu digambarkan tidak hanya dalam dunia khayalan namun diujinyatakan, lewat kamera, bahwa di suatu tempat ada hantunya. Dan sering terbukti pocong, kuntilanak, atau hantu jenis lainnya tertangkap kamera. Padahal dalam acara itu sebenarnya juga sering menunjukan tak ada yang aneh di tempat yang diuji apakah ada setannya atau tidak.

Itu saja tidak cukup, dalam sebuah reality show, sering kisah seseorang didramatisasikan sedemikian rupa bahwa dirinya telah bersekutu dengan setan. Dramatisasi yang bagus dari pembuat tayangan mengesankan seolah-olah itu nyata, padahal yang demikian lebih banyak bumbunya.

Tayangan dan tontonan tadi rupanya masuk ke dalam perasaan dan jiwa masyarakat bahwa kuntilanak, pocong, dan setan jenis lainnya memang benar-benar ada. Selama ini para remaja khususnya dan masyarakat pada umumnya mengetahui setan-setan itu dari bualan mulut ke mulut.

Tayangan dan tontonan itu juga membuat masyarakat cepat menyimpulkan sesuatu yang aneh di malam hari dengan setan, padahal itu belum tentu, mungkin saja yang lewat di malam hari itu adalah binatang malam, kelelawar contohnya. Misalnya saja di daerah Jakarta di sebuah RW sering ribut-ribut karena masyarakat melihat pocong duduk di atas pohon atau pocong terbang di atas rumah. Padahal bukti secara valid itu setan atau bukan belum jelas faktanya.

Dari maraknya tontonan, berita, film, reality show, atau uji nyali yang berhubungan dengan setan membuat perilaku setan menjadi tuntunan dan gaya hidup masyarakat. Buktinya hanya untuk membuat suprise temannya, seseorang harus menjadi setan. Emang nggak ada cara lain?

Merasuknya gaya hidup setan ke dalam masyarakat karena saat ini pembuat film setan-setanan semakin kreatif menyuguhkan setan ke dalam mata, bahkan mereka menciptakan setan jenis baru, seperti kuntilanak duyung. Dan Ketika kehabisan judul dan bahan cerita, mereka membuat judul yang aneh-aneh, seperti Pocong Ngesot. Menjadi pertanyaan sejak kapan pocong jalannya ngesot?

Tak hanya Pocong Ngesot yang terasa lucu judulnya, ada beberapa film horor Indonesia yang judulnya tidak logis sehingga membuat kita tertawa lucu dan mengejek, seperti Pocong Vs Kuntilanak, Hantu Binal Jembatan Semanggi, Darah Janda Kalong Wewe Nafsu Pocong, Hantu Jamu Gendong, Suster Keramas, Hantu Puncak Datang Bulan, dan judul sejenis lainnya. Sebagian pembuat film memang juga sengaja membuat film setan ada yang tidak menakutkan namun menjadi lucu, akibatnya penonton tidak menjerit-jerit saat di dalam gedung film, namun justru mereka tertawa terpingkal-pingkal.

Untuk mengatasi korban yang lebih banyak, baik orang yang pura-pura menjadi setan (gara-gara menjadi pocong-pocongan seorang pria di Kenjeran, Surabaya, ditangkap polisi. Demikian pula gara-gara menjadi Suster Ngesot seorang remaja putri ditendang satpam sampai pingsan dan gigi rontok) maupun masyarakat yang lari terbirit-birit mengetahui setang bohongan itu maka harus dibuat tayangan yang lebih mendidik yang tidak membuat masyarakat menjadi aneh-aneh. Kelak jika tayangan aneh-aneh, masyarakat akan menjadi aneh-aneh, dan ujung-ujungnya negara dan bangsa ini akan menjadi aneh juga.

Inilah tanggung jawab kita semua, khususnya pembuat tayangan dan program yang bermutu baik di televisi maupun layar lebar, untuk menampilkan tontonan yang bisa menjadi tuntunan yang baik.

*) Ardi Winangun adalah siswa Sekolah Pemikiran Pendiri Bangsa-Megawati Institute. Penulis tinggal di Matraman, Jakarta. No kontak: 08159052503

(vit/vit)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads