Menghitung Peluang Hatta Rajasa
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Kolom

Menghitung Peluang Hatta Rajasa

Kamis, 08 Des 2011 12:17 WIB
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Menghitung Peluang Hatta Rajasa
Jakarta - Terdapat dua momen politik penting bagi Hatta Rajasa yang mungkin dapat mengantarkan dirinya menuju RI-1. Pertama, pernikahan Aliya Rajasa (putri dari Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa) dengan Edi Baskoro Yudhoyono atau Ibas (putra dari Presiden SBY). Kedua, Rapat Kerja Nasional (Rakernas) PAN pada 9-11 Desember 2011 yang akan berlangsung di Kemayoran.

Momen politik pertama terkait dengan kemungkinan terjadinya perkawinan politik antara Hatta dan SBY. Momen ini penting bagi Hatta untuk mendapatkan dukungan politik dari SBY dan mesin politiknya, Partai Demokrat. Apalagi saat ini tidak ada satu kader dari Partai Demokrat yang memiliki nilai jual politik untuk dapat dipilih oleh publik.

Kader-kader muda dari Partai Demokrat seperti Anas Urbaningrum dan Andi Mallarangeng, tidak dapat diharapkan untuk maju sebagai capres pada 2014 karena sejumlah kasus korupsi yang diduga oleh publik telah melibatkan keduanya. Dalam konteks ini, Hatta sepertinya akan menjadi pilihan politik paling strategis bagi SBY untuk didukung pencalonannya sebagai capres 2014. Ditambah lagi SBY telah memberikan sinyal, dengan mengatakan bisa saja Partai Demokrat memilih calon dari luar partainya sebagai capres Demokrat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Momen politik kedua terkait dengan akan diumumkannya pencalonan Hatta sebagai capres PAN pada Rakernas di kemayoran. Kepastian itu dikatakan oleh anggota Komisi III DPR RI dari Fraksi PAN, Yahdil Abdi Harahap. Menurut Yahdil, keputusan itu sifatnya pasti, karena secara fatsun politik, ketua umum sebuah partai politik biasanya dijadikan sebagai calon presiden.

Untuk mengukur peluang Hatta, setidaknya terdapat dua pertanyaan yang dapat diajukan. Pertama, sejauh mana elektabilitas Hatta di mata publik. Untuk mengetahui hal ini akan diulas hasil rekam survei capres 2014 yang telah dilakukan oleh Lingkaran Survei Indonesia (LSI) pada September lalu. Kedua, sejauh mana modal kekuatan politik yang dimiliki Hatta untuk dapat maju menjadi capres 2014. Dengan mengukur dua hal itu, kita dapat menghitung peluang Hatta Rajasa, minimal untuk saat ini, sebagai bakal calon presiden 2014.

Elektabilitas Hatta

Sepanjang tahun 2011 ini, begitu banyak lembaga survei yang telah merilis hasil surveinya terkait dengan elektabilitas calon presiden 2014. Untuk memfokuskan bahasan, tulisan ini akan merujuk survei yang dilakukan oleh Lingkaran Survei Indonesia (LSI) pada awal September lalu. Survey dilakukan dengan mengunakan metode multistage random sampling. Jumlah responden 1.200 orang tersebar di 33 propinsi di seluruh Indonesia. Wawancara dilakukan tatap muka dengan margin of error plus minus 2,9 persen.

Untuk mengetahui elektabilitas capres 2014, LSI membagi 3 tingkatan divisi berdasarkan usia. Di sini survei LSI menemukan bahwa para politisi yang berusia di bawah 50 tahun bertengger di divisi tiga capres 2014 yang dukungannya di bawah 3 persen. Mereka yang termasuk di dalamnya adalah Anas Urbaningrum (42 tahun), Puan Maharani (38 tahun), dan Edhie Baskoro (31 tahun).

Sedangkan capres yang berada pada divisi dua capres 2014, dengan dukungan 3-10 persen diisi oleh politisi berusia di atas 50 tahun ke atas. Ada nama Hatta Rajasa (52 tahun) dan Ani Yudhoyono (59 tahun). Dan untuk divisi satu capres 2014 yang dukungannya di atas 10 persen justru diisi oleh tokoh tua yang berumur di atas 60 tahun. Mereka adalah Aburizal Bakrie (65 tahun), Prabowo Subianto (60 tahun), dan Megawati Soekarno Putri (64 tahun).

Dari rekam survei LSI diketahui bahwa suara Hatta Rajasa berada pada divisi kedua, yang suaranya masih di kisaran 3-10%. Dan hasil ini ternyata didukung oleh hasil survei lembaga lain seperti Lembaga Survei Institute for Strategic and Public Policy Research (Inspire) yang melakukan survei pada bulan April lalu dan Soegeng Sarjadi Syndicate (SSS) yang melakukan survei pada Oktober lalu. Dan ternyata hasil surveinya mirip dengan LSI. SSS dalam surveinya juga menemukan bahwa suara Hatta berada dikisaran 2,8%, sementara Inspire mendapati suara Hatta dikisaran 3,8%. Bahkan Jaringan Suara Indonesia (JSI) sendiri dari hasil surveinya diketahui bahwa Hatta hanya mendapatkan suara 1,6%.

Dengan merujuk survei yang dilakukan LSI, SSS, Inspire, dan JSI, maka dapat disimpulkan jika pilpres diadakan saat ini, peluang Hatta untuk meraih dukungan agak berat. Namun begitu, tetap ada peluang karena pemilu masih tiga tahun lagi.

Modal Politik Hatta

Hasil survei di atas tentu tidaklah final, karena perhelatan akbar pemilu presiden 2014 masih 3 tahun lagi. Dengan waktu yang selama itu masih banyak hal yang akan terjadi. Suara dari masing-masing capres dapat berubah, tergantung dari bagaimana modal politik capres mampu dimaksimalkan dengan baik. Dalam konteks itu, Hatta sesungguhnya masih memiliki peluang yang sama besarnya dengan capres-capres lainnya.

Dalam hal ini terdapat tiga modal politik penting yang dapat dimaksimalkan Hatta agar dapat mendongkrak suaranya. Pertama, Hatta adalah tokoh politik yang terbilang bersih. Hal itu dapat diketahui dari isi pemberitaan media massa yang terbilang positif tentang dirinya. Bandingkan dengan Anas Urbaningrum dan Andi Mallarangeng yang diberitakan miring karena dugaan korupsi. Dengan modal ini, Hatta dapat melakukan politik pencitraan dengan mengkampanyekan dirinya sebagai politisi bersih.

Kedua, Hatta dapat lebih merekatkan hubungannya dengan presiden SBY, dari hubungan besan menjadi hubungan politik. Dengan modal ini, Hatta akan memiliki peluang yang cukup besar untuk dapat dicalonkan sebagai presiden PAN sekaligus Partai Demokrat. Dengan melihat hasil pemilu 2009, Partai Demokrat yang berhasil memenangkan pemilu dengan raihan suara 20,85 persen dan PAN dengan raihan suara 6,01 persen, jika digabungankan, dengan dukungan SBY, maka akan jadi mesin politik kuat yang dapat menyokong Hatta pada pilpres 2014.

Ketiga, agenda Rekernas PAN yang difokuskan untuk menyusun strategi pemenangan pemilu 2014 melalui program perekonomian, pembenahan aparatur negara dan reformasi kebijkan, serta lingkungan hutan, juga dapat dijadikan modal politik bagi Hatta. Karena di ketiga sektor itu, kader PAN menduduki posisi sentral di Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II. Saat ini Ketua Umum DPP PAN Hatta Rajasa menjabat sebagai menteri koordinator perekonomian.

Di samping itu, PAN juga memiliki dua kadernya di kabinet yaitu Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Azwar Abubakar serta Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan. Jika ketiga sektor ini mampu dimaksimalkan dengan baik dan menyentuh langsung kepada rakyat, hal ini akan memberikan efek positif tidak hanya bagi PAN tapi juga bagi Hatta Rajasa yang akan ikut berkompetisi pada pilpres 2014.

*) Asrudin adalah pengamat politik, analis media sosial di LSI Network dan penulis buku Global Warming.


(vit/vit)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads