"Istri saja tidak berubah, masa HP ikut berubah?" kelakar Gumilar memberikan alasan beberapa waktu lalu di hadapan sejumlah wartawan.
Dalam wacana post modern, teks adalah cermin dari konteks. Tidak ada teks tanpa konteks. Dalam budaya populer, ponsel adalah cerminan sebuah tanda perubahan sosial. Sebagai sebuah tanda, ponsel mencerminkan budaya populer: kebutuhan dan pemersatu jarak.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Guna mengejar simbol tersebut, jangan heran ratusan orang berdesak-desakan untuk mendapatkan BlackBerry seri 9790 yang didiskon 50 persen dua pekan lalu. Mereka rela panas-panasan, terkilir hingga pingsan untuk mengejar sebuah simbol.
Dalam perubahan yang sangat cepat, saling tumpang tindih dan yang hitam putih menjadi abu-abu, maka tidak bisa dipecahkan menggunakan analisa secara rasional modern. yang harus dipikirkan berfikir deduktif spekulatif bergeser menjadi empirik analitik. Lalu diperbaiki lagi menjadi holistik empirik.
Cara berpikir ini lalu dimunculkan dalam makna simbolik dan konstruksi ruang bangunan. Sebuah bangunan yang menjadi tempat interaksi semua komponen lintas ilmu. Interaksi antar orang dari berbagai disiplin pendidikan. Itulah Postmodern.
Dahulu, orang selalu berpikir 'siapa saya'. Pertanyaan yang merupakan warisan pemikiran usang dari era pertengahan abad pertengahan. Pertanyaan yang menjadikan manusia lari ke simbol-simbol kehidupan. Jika di masa lalu lari ke hal-hal transendental maka masa kini ke ponsel.
Lewat postmodern maka pertanyaan tersebut berubah yaitu menjadi 'inilah saya'. Pertanyaan kesadaran diri untuk menjadi manusia yang eksis dan mandiri. Manusia yang bisa mendeskripsikan dirinya sebagai manusia otonom. Bukan mendeskiripsikan berdasarkan bantuan tanda-tanda yang dibuat oleh orang lain. Bukan manusia yang terjebak pada simbol-simbol belaka.
Lantas mengapa Rektor UI tetap dengan Nokia E90-nya? Hanya dia dan Tuhan yang tahu.
*) Andi Saputra adalah wartawan detikcom. Tulisan ini tidak mewakili kebijakan redaksi.Β
(asp/vit)











































