Meski banyak hal positif dalam setiap KTT ASEAN, namun negara-negara Asean saat ini dibayang-bayangi oleh semakin ekspansifnya China, sebagai kekuatan militer dan ekonomi, yang langsung berhadap-hadapan dengan negara ASEAN. Hadirnya China di kawasan Asia Tenggara sendiri disikapi secara beragam oleh para pemimpin ASEAN, ada yang cemas, ada pula yang biasa-biasa saja. Bentuk kecemasan para pemimpin negara ASEAN juga beragam, ada yang cemas karena kekuatan ekonominya, ada pula yang cemas terhadap kekuatan militernya yang dari waktu ke waktu semakin bergerak ke arah selatan.
Tidak satunya sikap para pemimpin negara Asean terhadap China, kelak masalah China akan diselesaikan secara sendiri-sendiri oleh para pemimpin ASEAN. Bahkan akan melibatkan kekuatan di luar ASEAN untuk mengatasi masalah itu. Sehingga kesepakatan yang sudah disepakati antara ASEAN dan China dalam setiap pertemuan menjadi tidak efektif.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
'Undangan' Filipina terhadap Amerika Serikat tentu disambut baik. Amerika Serikat sangat berkepentingan untuk mencegah semakin ekspansifnya China di kawasan ini. Selepas menarik pasukannya di Irak dan Afghanistan, selanjutnya pasukan itu oleh Amerika Serikat akan ditempatkan di Australia. Sebelum ke Nusa Dua, Bali, Presiden Barack Obama mengadakan kunjungan ke Australia. Dalam pidatonya, Obama siap dan tidak takut menghadapi China di kawasan Asia Timur dan Tenggara. Untuk mendukung 'operasi' militer itu maka bila sebelumnya jumlah marinir Amerika Serikat hanya 250 tentara, meningkat menjadi 2.500 tentara.
Hadirnya Amerika Serikat di kawasan ini tentu akan membuat rasa nyaman bagi Filipina dan Australia khususnya, dan diam-diam juga didukung oleh Malaysia, Vietnam, Brunai, termasuk Indonesia, karena arogansi China akan teredam, dan main klaim di wilayah Laut China Selatan tidak bisa seenaknya sendiri dilakukan China.
Bila China tidak gentar dalam menghadapi hadirnya Amerika Serikat di kawasan Asia Tenggara dan Timur, tentu hal ini menjadikan wilayah Asia Tenggara dan Timur menjadi tidak aman dan bisa memunculkan perang besar yang melibatkan banyak negara.
Mengapa para pemimpin ASEAN membiarkan Filipina berjalan sendiri dalam menghadapi China? Ini bisa terjadi karena ASEAN tersandera dengan prinsipnya sendiri. Salah satu prinsip utama Asean adalah "Tidak mencampuri urusan dalam negeri sesama negara anggota." Nah, masalah antara China dan Filipina inilah yang dilihat oleh para pemimpin ASEAN adalah urusan masing-masing, bukan urusan ASEAN.
ASEAN sering gagal mendorong demokratisasi, kebangkitan ekonomi secara mandiri, dan sebagai kekuatan baru di kawasan karena sering menyerahkan masalah yang tidak bisa ditangani secara bersama kepada urusan masing-masing.
Pada KTT Asean XIII, November 2007, di Singapura, juga demikian. Pada saat itu kalangan pro demokrasi sangat kecewa dengan KTT itu. Dalam pertemuan yang diharapkan mampu menekan junta militer Myanmar ternyata justru para pemimpin negara-negara kawasan ASEAN tidak menggangap penting masalah demokratisasi di Myanmar.
Berbagai alasan dikemukakan pemimpin negara anggota ASEAN mengapa mereka menolak membawa masalah pemberangusan kekuatan demokrasi di Myanmar dalam pertemuan itu. Pada saat itu, PM Myanmar Thein Sein mengatakan isu domestik Myanmar adalah urusan dalam negeri Myanmar sehingga negara lain tidak berhak mencampuri urusan itu. Anehnya hal demikian didukung oleh PM Singapura Lee Hsien Loong.
Ia menyebut para pemimpin ASEAN berusaha keras mencegah isu Myanmar masuk dalam bahasan sebab bisa merusak upaya untuk memperkuat intergrasi dan membangun komunitas ASEAN. Lee Hsien mengatakan, kita tekankan agar ASEAN fokus pada piagam bersejarah dan rencana integrasi ekonomi. Akibat kesepakatan para pemimpin-pemimpin Asean itu maka utusan PBB Ibrahim Gambari ditolak kehadirannya ketika hendak memberi laporan tentang masa depan Myanmar dalam pertemuan puncak itu.
Tentu saja hasil pertemuan puncak Asean XII itu bagi dunia internasional dan kalangan prodemokrasi sangat mengecewakan. Aktivis Myanmar yang tinggal di Thailand, Khin Ohmar, mengatakan apa yang dilakukan Asean menunjukkan persatuan bangsa-bangsa kawasan Asia Tenggara itu berpihak kepada junta militer. Padahal menurutnya, Myanmar merupakan aibnya Asean. Bagi ahli Myanmar dari Macquarie University Australia, Sean Turnell, keputusan itu merupakan sesuatu yang mengecewakan dan keputusan yang kacau. Ucapan yang sama dikatakan ahli ASEAN dari S Rajaratnam School of International Studies Singapura, Hiro Katsumata, hasil itu membuktikan Myanmar menang atas ASEAN.
Tidak hanya itu saat pertemuan Menteri Luar Negeri Asean di Phuket, Thailand, Juli 2009, para menteri luar negeri tidak berani tegas terhadap Myanmar. Para menteri luar negeri hanya mengharap agar Junta Militer membebaskan Suu Kyi dan tahanan politik lainnya. Langkah itu dikatakan sebagai langkah rekonsiliasi dan dialog yang melibatkan seluruh pihak menuju Pemilu 2010.
Dalam pertemuan itu, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Hillary Clinton, yang juga hadir, mengusulkan agar Myanmar dikeluarkan dari Asean, namun usulan itu ditolak oleh Perdana Menteri Thailand Abhisit Vejjajiva. Dikatakan oleh Abhisit, tidak ada cukup alasan untuk mengeluarkan Myanmar dari ASEAN. "Apabila Myanmar dikeluarkan, itu akan semakin mengisolasi mereka. Apakah itu akan menyelesaikan masalah?" ujarnya.
Demikian pula saat KTT Asean XVII di Vietnam Oktober 2010, tidak ada pembahasan khusus dan tekanan terhadap Myanmar. Dalam KTT itu hanya membahas pembangunan Komunitas ASEAN(ASEAN Connectivity).
Noda hitam di Myanmar bagi pemimpin ASEAN sepertinya bukan masalah, masalah itu dianggap urusan dalam negeri dan tak berhak untuk dicampuri, sehingga pemimpin Asean tidak peduli apa yang terjadi di dalam negeri itu. Giliran menjadi Ketua ASEAN 2014 yang jatuh kepada Myanmar tidak dipermasalahkan oleh para pemimpin Asean. Segala masa lalu junta militer Myanmar dianggap sudah lewat.
Paparan di atas menunjukan bahwa masa depan ASEAN belum menggembirakan. Masa depan ASEAN belum bisa diharapkan karena secara ekonomi dan militer belum mapan. Negara-negara ASEAN masih memiliki ketergantungan yang tinggi dalam urusan ekonomi dan militer dari kekuatan lain, seperti China dan Amerika Serikat. Hal inilah yang menyebabkan masing-masing negara ASEAN juga memiliki kepentingan dan agenda sendiri-sendiri terhadap kekuatan-kekuatan itu. Demi kepentingan dan agenda itu, para pemimpin ASEAN sendiri rela melanggar kesepakatan diantara negara ASEAN yang sudah diteken.
*) Ardi Winangun adalah wartawan dan peminat studi hubungan internasional. Nomor kontak:08159052503. Email: ardi_winangun@yahoo.com
(vit/vit)











































