Londo Sadumuk Bathuk
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Kolom Djoko Suud

Londo Sadumuk Bathuk

Rabu, 09 Nov 2011 08:18 WIB
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Londo Sadumuk Bathuk
Jakarta - Sadumuk bathuk sanyari bumi. Seluas jidat se-lebar jari, tanah negeri ini harus dipertahankan. Harta benda dikorbankan untuk menjaganya. Malah bila perlu nyawa dipertaruhkan. Prinsip menjaga keutuhan negara itu yang melatari Arek-Arek Suroboyo menantang Inggris dan dibom habis-habisan di Sepuluh November tahun 1945.

Itu gara-garanya Jenderal Mallaby mati. Inggris yang kampiun di medan perang di berbagai belahan dunia itu ternyata apes di Surabaya. Ketika pasukannya sedang bersidang merundingkan peralihan kekuasaan dari Jepang ke sekutu di Gedung Internatio, AWS Mallaby yang dikenal juga sebagai Brigadir Jenderal Mallaby itu memonitor di dekat Jembatan Merah.
Dia ada di dalam mobil Buick yang ditumpangi. Di dekatnya ada Gubernur Suryo dan Ruslan Abulgani. Yang terakhir ini jabatannya mencolo putro-mencolo putri. Menjabat apa saja tergantung kebutuhan. Bertemu jenderal jabatannya jenderal. Menemui kolonel pangkatnya kolonel. Itu karena sebegitu banyak pemimpin yang ada di Surabaya kala itu, hanya Cak Ruslan yang bisa berbahasa asing.

Jarak Jembatan Merah dan Gedung Internatio hanya dua ratus meter. Lengang di gedung itu. Pasukan Gurkha yang dibawa Mallaby dari India berjaga-jaga dengan senjata. Perundingan gencatan senjata itu memang berjalan tegang. Sebab Jepang yang takluk sudah dilucuti senjatanya oleh Arek-Arek Suroboyo. Maunya Inggris, senjata rampasan itu harus diserahkan, sebelum Indonesia dikembalikan sebagai Hindia Belanda, jajahan Belanda.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Saat di dalam gedung sedang beradu argumen dan para pimpinan yang berada di luar gedung menunggu hasil kesepakatan, tiba-tiba terdengar tembakan. Itu dari pasukan Gurkha. Sebab dari belakang gedung muncul serombongan pemuda asal Madura meneriakkan yel-yel 'merdeka atau mati', sambil mengibarkan bendera merah putih yang merahnya dari darah.

Saling tembak pun tak terhindarkan. Arek-Arek Suroboyo termasuk pemuda dari Madura yang semuanya bersenjata hasil rampasan dari tentara Jepang meladeni. Perundingan bubar. Suasana menjadi chaos. Cak Ruslan dan Gubernur Suryo bersembunyi di bibir sungai. Menghindari rentetan peluru yang berdesingan. Dan tidak diketahui, itu dari lawan atau tembakan arek-arek sendiri.

Tidak lama setelah itu terdengar suara dentuman. Granat diledakkan. Mobil Mallaby terbakar. Seorang pemuda sambil berlarian menghampiri Cak Ruslan. Katanya, "Wis tak entek-i londone, cak." (Cak atau mas atau kakak, panggilan akrab di Surabaya 'sudah kuhabisi belandanya'). Belanda yang dimaksud adalah Mallaby, orang Inggris yang bule, dan setiap kulit putih selalu disebut londo.

"Jadi penyebab perang sepuluh Nopember dan Mallaby mati itu ya tretan dzibik (saudara sendiri = orang Madura). Gara-gara itu aku sama Cak Suryo (Gubernur Suryo, gubernur pertama Jawa Timur) pulang nyeker (tanpa alas kaki) menyusuri lumpur tepi kali (sungai)," kata almarhum Cak Ruslan bergurau.

Peristiwa yang terjadi tanggal 30 Oktober 1945 itu membuat Inggris marah besar. Mereka merasa dipermalukan. Apalagi Mallaby adalah komandan Brigade 49 Divisi India dengan kekuatan 6.000 pasukan. Maka Mayor Jenderal EC Mansergh yang menggantikan Mallaby itu menemui Bung Karno, meminta rakyat Surabaya minta maaf dan menyerahkan senjatanya tanpa syarat.

Bung Karno tidak mengiyakan. Proklamator itu menyerahkan semuanya pada Arek-Arek Suroboyo. Bung Tomo yang sudah membakar semangat Arek-Arek Suroboyo tumbu oleh tutup (klop). Teriakan merdeka atau mati menggema. Dan parikan (pantun) 'tali duk tali layangan, nyowo situk elang-elangan' (nyawa satu diikhlaskan hilang) menggemuruh. Surabaya pun dibombardir dari darat, laut dan udara. Menangkah kita?

Kita tidak menang perang, memang. Malah dijadikan bulan-bulanan Gurkha. Tentara pelajar saja, TRIP terdesak, dikejar-kejar sampai di Malang Selatan. Tapi untung kita merdeka, dan tiap 10 Nopember peristiwa nekad yang heroik itu kita peringati sebagai Hari Pahlawan. Benarkah sekarang kita sudah merdeka?

Penjajahan bentuk baru bukanlah penguasaan tanah. Kolonialisme itu mimikri dalam bentuknya yang plastis di sektor ekonomi dan kebudayaan. Adakah ekonomi rakyat kita sudah baik? Sejahterakah kita? Mandirikah kita? Ah, ternyata kita masih dijajah! 'Perang' lagi dong kita.

*) Djoko Suud Sukahar adalah pengamat sosial budaya. Penulis tinggal di Jakarta.

(vit/vit)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads