Kemajuan Diplomasi Mahmoud Abbas dan Fatah
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Kemajuan Diplomasi Mahmoud Abbas dan Fatah

Senin, 07 Nov 2011 17:34 WIB
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Kemajuan Diplomasi Mahmoud Abbas dan Fatah
Jakarta - Sebuah kemajuan diplomasi yang dilakukan oleh Presiden Mahmoud Abbas, ketika negeri yang dipimpinnya, Palestina, menjadi anggota UNESCO, badan yang bernaung di bawah PBB yang mengurusi bidang pendidikan, kebudayaan, dan ilmu pengetahuan. Proses penetapan Palestina sebagai anggota UNESCO cukup dramatik, di mana dari 195 negara anggota, 107 menyatakan setuju, 14 suara menolak, 52 abstain, dan sisanya tidak hadir dalam sidang yang digelar di Paris, Perancis, pada 31 Oktober 2011 itu. Dua negara yang menolak pastinya bisa ditebak, yakni Amerika Serikat dan Israel.

Bagi Amerika Serikat dan Israel, dukungan banyak negara kepada Palestina ini merupakan sebuah malapetaka. Sebagai bentuk ketidaksukaan diterimanya Palestina sebagai anggota Unesco, kedua negara itu melampiaskan kemarahan kepada Unesco dengan cara akan menghentikan bantuan. Bantuan kepada UNESCO dari Amerika Serikat mempunyai nilai yang lumayan, 22%, sedang dari Israel hanya 3%.

Terlepas dari ketidaksukaan Amerika Serikat dan Israel serta masa depan UNESCO yang bisa jadi kekurangan dana untuk melaksanakan program-programnya, apa yang terjadi di Paris, Perancis, itu menunjukan sebuah keberhasilan Mahmoud Abbas dalam memperjuangkan kemerdekaan Palestina dengan cara-cara diplomasi. Diplomasi yang telah digalang ke berbagai negara telah menumbuhsadarkan pemahaman dunia bahwa Palestina adalah bangsa yang teraniaya dan terjajah oleh Israel sehingga perlu didukung kemerdekaannya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selama ini, bangsa Palestina dalam memperjuangkan kemerdekaannya di tempuh dengan dua cara, Hamas yang dikomandoi oleh Perdana Menteri Palestina Ismail Haniya yang cenderung menggunakan cara-cara kekerasan, sedang Fatah yang dipimpin oleh Mahmoud Abbas lebih suka menggunakan cara-cara diplomasi.

Kegagalan cara-cara diplomasi dalam memperjuangkan Palestina sebelumnya, menyebabkan dalam Pemilu Palestina pada Januari 2006, Hamas memenangi pemilu. Namun kemenangan Hamas dalam pemilu itu tidak diakui oleh Uni Eropa, Amerika Serikat, dan Israel. Untuk menghadang pemerintahan yang dibentuk Hamas, maka Palestina diembargo oleh Israel dan Amerika Serikat. Selain itu, Amerika Serikat dan Israel lebih suka menyelesaikan masalah Palestina lewat Fatah. Sebab Fatah menggunakan cara-cara yang lebih lunak dibandingkan Fatah.

Rentang dari pemilu 2006 hingga sebelum penetapan Palestina menjadi anggota UNESCO, rakyat negeri itu dilanda kegelisahan sebab di dalam negeri, faksi-faksi yang ada tidak bersatu, sedang di luar negeri cara-cara diplomasi yang lebih diterima tidak membuahkan hasil.

Penolakan Amerika Serikat terhadap keinginan Mahmoud Abbas untuk menjadikan Palestina sebagai anggota PBB merupakan ‘pengkhianatan’ hubungan Amerika Serikat terhadap Mahmoud Abbas dan Fatah yang selama ini telah terjalin sejak lama lewat pertemuan-pertemuan diplomasi. Dalam menyelesaikan masalah Palestina, Amerika Serikat selama ini memilih Fatah daripada Hamas.

Hal demikian dirasa karena Fatah lebih dianggap moderat dan toleran dengan menggunakan cara-cara diplomasi ketika berhadapan dengan Israel. Sedang Hamas dalam memperjuangkan Palestina sejak dahulu lebih menggunakan cara-cara kekerasan atau senjata. Upaya-upaya diplomasi yang dilakukan Mahmoud Abbas untuk menjadikan Palestina sebagai anggota PBB tidak hanya ditentang oleh Amerika Serikat dan Israel, namun juga tidak didukung oleh Hamas.

Penolakan Hamas ini bisa jadi karena adanya rivalitas untuk merebut pengaruh rakyat Palestina juga karena adanya perbedaan idealisme dalam soal wilayah dan kedaulatan Palestina. Hamas menilai apa yang dilakukan oleh Fatah untuk mendirikan negara yang berdampingan dengan Israel, dengan Jerusalem Timur sebagai ibu kota, sama saja dengan menjual Palestina. Hamas sendiri berniat menciptakan negara Islam berdasarkan sejarah Palestina.

Upaya diplomasi yang dikembangkan Mahmoud Abbas sebelumnya sering mengalami kegagalan. Hal demikian bisa menimbulkan ketidakpercayaan rakyat Palestina kepada Mahmoud Abbas dan Fatah. Dan akan menyebabkan munculnya radikalisasi yang lebih kuat di kalangan rakyat Palestina untuk memerdekakan diri dengan atau tanpa bergabung dengan Hamas.

Setelah diterimanya Palestina menjadi anggota UNESCO, secercah harapan dilihat oleh rakyat Palestina. Mereka berpikir, selangkah lagi mereka bisa menjadi anggota PBB. Diterimanya Palestina menjadi anggota UNESCO tidak hanya menjadi sebuah kemenangan bagi rakyat Palestina, namun juga kemenangan bagi faksi Fatah.

Dengan cara-cara diplomasi, Fatah mengatakan bahwa cara seperti itu lebih efektif dan bisa diterima oleh dunia internasional daripada cara-cara kekerasan seperti yang dilakukan oleh faksi rivalnya, Hamas. Kemenangan diplomasi Mahmoud Abbas dalam Sidang UNESCO ini pulalah yang bisa menjadi amunisi bagi Fatah untuk menggalang dukungan rakyat dalam membentuk pemerintahan di Palestina maupun pemilu yang akan datang.

Kemenangan diplomasi Mahmoud Abbas ini menunjukan kepada rakyat Palestina bahwa faksinya telah melakukan langkah yang sukses di dunia internasional, dibanding dengan Hamas yang bisa dikatakan belum membuahkan hasil bagi masa depan Palestina.

*) Ardi Winangun adalah peminat Studi Timur Tengah dan Pengurus Presidium Nasional Masika ICMI. Penulis tinggal di Matraman, Jakarta Timur. Nomor kontak: 08159052503. Email: ardi_winangun@yahoo.com

(vit/vit)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads