Jago Capres
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Kolom Djoko Suud

Jago Capres

Senin, 31 Okt 2011 08:16 WIB
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Jago Capres
Jakarta - Calon presiden bermunculan. Tiap partai menampilkan jago dan mengklaim yang paling disukai rakyat. Lembaga survei diikutkan untuk itu. Akibatnya, tidak jelas mana jago yang benar-benar bisa dijagokan. Benarkah dukungan itu sekadar kompor untuk membakar mereka yang berambisi jadi presiden mendatang?

Partai Golkar telah memproklamirkan diri bertarung memperebutkan posisi RI-1 untuk pemilu tahun 2014 nanti. Aburizal Bakrie, ketumnya dijagokan untuk maju. Demi kepentingan itu, konvensi ditiadakan. Media penjaringan yang modern dan demokratis itu terpaksa harus dilupakan sejenak.

PKS tak mau ketinggalan. Tokohnya yang dianggap paling jempolan, Hidayat Nur Wahid disorong sebagai penantang. Mantan presiden partai yang lebih tepat sebagai ulama dibanding umaroh itu kembali digadang-gadang. Dan kini tidak lagi sebagai pendamping, tetapi sebagai calon orang nomor satu di Indonesia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Gerindra juga tidak tinggal diam. Prabowo Subianto kembali dimajukan. Tokoh yang gagal menang sebagai RI-2 bersama Megawati Soekarnoputri itu dicuatkan namanya. Lembaga survei menyebut putra almarhum begawan ekonomi Sumitro Djojohadikusumo itu masih diidam-idamkan rakyat negeri ini memberi optimisme.

Istana pun ikut meramaikan situasi. Patronisme belum hilang tergusur reformasi. Ani Yudhoyono ditimang dan disanjung agar berkemauan ikut bertarung di saat sang suami lengser. Keinginan itu yang terus digesek-gesek para pendukung yang ingin mengusungnya.
Selain itu masih ada Partai SRI yang mencalonkan Sri Mulyani, Hanura kembali mengusung Wiranto, dan PDIP yang masih dalam perdebatan. Adakah sang ibu, Mbak Mega yang akan maju, atau sang anak, yaitu Puan Maharani, yang naga-naganya membutuhkan proses panjang untuk menentukan konklusi akhir.

Daftar panjang itu semakin panjang lagi jika PAN jadi memajukan Hatta Rajasa dalam Pilpres mendatang. Sebab Ketum partai ini dirumorkan sudah lama bersiap ikut maju. PAN juga sudah memasyarakatkan itu. Hanya tinggal menunggu waktu tepat niatan itu dideklarasikan.

Untuk melihat siapa yang punya kans tampil sebagai pemenang rasanya masih terlalu jauh. Hanya jika menyaring suara yang berkembang di masyarakat, maka terdapat empat nama yang lebih punya peluang. Pertama adalah Sri Mulyani untuk masyarakat kota, Prabowo Subianto untuk kalangan bawah, Ani Yudhoyono untuk kalangan birokrat (karena SBY masih jadi presiden), dan Ical untuk Golkar.

Sedang Hidayat Nur Wahid yang dalam Pilpres lalu sempat bakal mendampingi SBY sebagai Wapres bersama Akbar Tanjung kini peluangnya menipis. Itu tidak lepas dari perilaku politik PKS yang ikut mendegradasi nama baik tokoh santun ini. Bagaimana dengan lembaga-lembaga survei yang tidak sinkron satu sama lain?

Lembaga survei yang tidak seragam memang mengindikasikan belum ada calon kuat. Bisa ditebak lembaga itu mungkin dibayar tokoh bersangkutan, organisasi yang memayungi, atau lembaga itu partisan. Sebab ini sama dengan 'proyek kompor'. Sekadar ngompori mereka-mereka yang punya ambisi berkuasa agar semakin ambisius.

Kompor seperti itu tidak hanya terdapat dalam lembaga survei. Perorangan atau organisasi apa saja juga melakukan kegiatan sama. Dengan begitu, untuk melihat kebenaran hasil siginya, maka perlu diamati siapa dan kemana afiliasi institusi yang bersangkutan. Taklah salah jika soal dukung-mendukung ini Mbak Mega sempat berkomentar 'buat apa kalau hanya jadi presidennya orang se-kampung'.

Jika masanya tepat dan dekat pemilu, berbagai lembaga survei itu akan seragam. Keseragaman itu diamini hati rakyat. Saat itulah siapa yang punya peluang besar untuk menjadi pemimpin negeri ini bisa diprediksi dengan hasil yang tak jauh dari realitas. Sebab hakikatnya, lembaga survei yang benar adalah corong batin. Dia cawan penampung roh kebenaran.

Jadi sekarang, kalau mendengar lembaga survei mengumumkan siapa leading dan siapa jeblok, maka harus dipahami, itu hanya kompor. Tidak perlu dipercaya kebenarannya. Kompor memang bukan untuk melihat dan mengukur kebenaran. Sebab kebenaran itu terselip di hati kecil kita masing-masing.

*) Djoko Suud Sukahar adalah pengamat sosial budaya. Penulis tinggal di Jakarta.


(vit/vit)


Berita Terkait