Kabinet Ndelek Bolo
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Kolom Djoko Suud

Kabinet Ndelek Bolo

Rabu, 19 Okt 2011 08:32 WIB
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Kabinet Ndelek Bolo
Jakarta - Menteri baru sudah diumumkan. Ada kejutan dan keterkejutan. Kejutannya SBY tidak segarang gembar-gembornya. Keterkejutannya, menteri yang bermasalah dipertahankan. Wanprestasi tidak dihitung. Apalagi jika masih bisa disebut punya prestasi. Benarkah ini 'Kabinet Ndelek Bolo', kabinet cari teman?

Tidak salah PKS bersuara keras dan semi-mengancam. Ternyata memang itu β€˜tek-tekan’ (rahasia) SBY. Perlu 'dikerasi dan diintimidasi' agar keder. Rasa keder itu yang dipola agar tidak kelihatan seperti didikte. Berkat itu PKS beruntung. Tiga kadernya masih dipakai. Hanya satu yang didelete.

Partai Golkar juga lihai menggocek SBY. Jatah tidak berkurang. Hanya sayangnya, Fadel terdepak. Menteri yang punya 'nasionalisme' tinggi ini posisinya digantikan Cicip yang masih perlu pembuktian. Dan tentu, implikasi politiknya, di internal Golkar akan kisruh sementara waktu jika bisa diredam.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

PAN yang ewuh pakewuh (serba tidak enak) karena Hatta besan SBY harus tukar tambah. Posisi menteri strategisnya, Menkumham, Patrialis Akbar diganti. Amir Syamsuddin menempati kementerian ini dibantu Denny Indrayana. Adakah ini bemper SBY jika tersandung masalah?

Mari Pangestu hanya dilukir. Dipindahkan menggantikan Jero Wacik di pariwisata. Mari mungkin lebih berhasil di kementerian baru ini. Dia kreatif dan pekerja keras. Hanya kalau di perdagangan dipakai untuk mengimpor barang, mudah-mudahan sekarang bisa dijadikan untuk mengimpor orang (wisatawan).

Yang aneh adalah Jero Wacik di ESDM. Loncatannya agak nyeleneh. Banyak yang ragu dia mampu memperbaiki kinerja sektor ini. Terkesan SBY memaksakan diri dan kurang serius untuk memberdayakan kementerian ini. Adakah jabatan itu sebagai pemberian atas kedekatan atau kebaikan antar-pribadi?

Dahlan Iskan menggantikan Mustafa Abubakar. Wartawan ini cukup berhasil di PLN. Sebagai pemilik Jawa Pos Grup, Dahlan tidak hanya kapabel dalam kerja, tetapi dia sangat strategis bagi 'keamanan' SBY jika kelak digoyang. Dengan jaringan se Nusantara, maka ada jaminan SBY tidak akan 'digebuki' media. Itu sudah dibuktikan Dahlan di PLN dengan program apa saja aman-aman saja.

Jika disuruh mengapresiasi, saya hanya optimis terhadap dua kementerian. Satu Menkumham yang naga-naganya lebih baik dibanding sebelumnya, Patrialis Akbar yang lebih layak sebagai menteri HAM saja ketimbang menteri hukum (saking lembeknya). Yang kedua kementerian BUMN yang kini dipandegani Dahlan Iskan.

Kementerian lain yang masih memungkinkan lahirnya optimisme baru adalah Kementerian Perdagangan. Setelah Mari Pangestu menjadikan kementerian ini sebagai pintu gerbang melubernya produk impor di negeri ini, Gita Wiryawan yang belum diketahui rekam jejaknya itu masih bisa diharap mampu mengukir prestasi, menciptakan kemandirian negeri ini. Kendati dari latar pendidikannya memberi ruang besar bagi menjamurnya neolib di sektor ini. Punyakah dia nasionalisme yang diharap rakyat itu?

Sedang menteri-menteri di kementerian yang lain hanya 'dolanan' SBY. Mainan SBY untuk representasi partai politik, kekerabatan, 'kultus individu', dan upah bagi para cantrik yang sudah lama 'menghamba'. Dengan kata lain, jika reshuffle kabinet kali ini disebut langkah akselerasi dan perbaikan negeri ini rasanya kok jauh panggang dari api.

Ketidakberanian telah memasung nurani SBY. Dia membohongi diri sendiri. Tidak memasang orang-orang yang kapabel di bidangnya. Dia merelakan rakyat kecewa. Dia membunuh optimisme rakyat dalam melihat masa depannya demi aman dan nyaman di sisa waktu jabatannya.

Di tengah pesimisme itu kita dipaksa diri sendiri untuk meyakini asumsi ini salah. Para menteri 'tidak baik' itu mampu mengukir sejarah. Sejarah gemilang yang mensejahterakan dan membanggakan rakyat dan negara ini.

*) Djoko Suud Sukahar adalah pengamat sosial budaya. Penulis tinggal di Jakarta.

(vit/vit)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads