Gagasan Baru dan 'Orang Oleng'
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Kolom

Gagasan Baru dan 'Orang Oleng'

Senin, 10 Okt 2011 13:10 WIB
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Gagasan Baru dan Orang Oleng
Jakarta - Sejalan dengan perkembangan masyarakat dan pembangunan diperlukan adanya gagasan-gagasan baru untuk mendukung dan memungkinkan perkembangan itu berlangsung secara berkelanjutan. Tanpa ada gagasan baru, perkembangan akan berjalan di tempat atau terhenti.

Gagasan itu dimulai dengan cetusan ide-ide baru yang dilemparkan secara bebas dalam masyarakat. Hal itu hanya mungkin terjadi dalam sistem yang terbuka, di mana terdapat kebebasan berpendapat dan berbicara. Sebab itu dapat dipahami, mengapa dalam sistem demokrasi terdapat banyak ide dan gagasan baru dibandingkan dengan kondisi yang tertutup dalam sistem otoriter. Namun demikian tidak berarti bahwa dalam sistem demokrasi setiap orang boleh berbicara apa saja, terhadap siapa saja dan tentang apa saja tanpa argumentasi dan pertimbangan yang bernalar.

Sejalan dengan kebebasan berpendapat untuk mengemukakan gagasan baru itu, dalam masyarakat juga terdapat kebebasan pihak lain untuk memberi penilaian dan menanggapi gagasan tersebut. Sehingga terjadi pergumulan antara gagasan dan argumentasi yang selanjutnay akan melahirkan ide-ide baru yang lebih cemerlang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dilihat dari perbedaan latar belakang setiap anggota maasyarakat, tidak heran kalau ide-ide yang dikemukakan juga mempunyai latar belakang yang berbeda. Ide-ide yang terhimpun dalam sebuah organisasi juga berbeda dengan ide dan gagasan yang berasal dari organisasi lain.

Dengan kata lain, setiap gagasan dipengaruhi oleh latar belakang pendidikan, pengalaman, kepercayaan, lingkungan hidup, ideologi dan budaya organisasi dari seseorang atau sebuah organisasi. Seorang pengusaha pada umumnya cenderung berpikir tentang keuntungan dan kelangsungan usaha, seorang politisi cenderung berpikir tentang kekuasaan dan pengaruh.
Β 
Seorang politisi biasanya cenderung untuk mendapatkan perhatian, karena itu mereka lebih suka menyampaikan gagasan yang berbeda dari apa yang sudah ada pada suatu waktu. Dengan kata lain mereka senang mengkritik 'the establishment' atau kondisi kemapanan, meskipun yang sedang mapan itu adalah ide atau gegasan baru yang baru berjalan. Mereka tidak dapat membedakan, mana yang baru dan mana yang lama yang sudah harus berganti.

Bertolak dari sistem demokrasi yang sekarang sedang mulai mekar, banyak ide dan gagasan baru bermunculan di Indonesia. Diantara ide dan gagasan itu, tidak sedikit terdapat gagasan yang tidak relevan dengan perkembangan masyarakat pada suatu saat. Ketika masyarakat mulai sadar pada bahaya korupsi dan merasa berkewajiban untuk ikut berpartisipasi memberantasnya, mereka datang dengan gagasan yang dipandang aneh oleh masyarakat.

Ketika KPK sejak awal era reformasi dipercayakan rakyat untuk memberantas korupsi tengah giat-giatnya menangkap dan menghukum koruptor, dimunculkan ide untuk membubarkan lembaga pemberantasan korupsi itu dan mengampuni para koruptor. Rakyat merasa tertantang. Akibatnya, timbul reaksi yang begitu serius dan keras dari rakyat. Salah satu reaksi yang mewakili suara rakyat itu datang dari seorang tokoh senior, Buya Syafii Ma'arif. Beliau menggunakan istilah khusus untuk menyebutkan penggagas pembubaran KPK itu sebagai 'orang oleng'.

'Orang oleng' pada umumnya dimaknakan sebagai orang yang berjalan terhoyong-hoyong, karena pusing atau kurang sehat. Tetapi di Sumatera istilah ini mempunyai arti khusus. Masyarakat mengartikannya sebagai orang mabuk karena minum arak atau 'air ijok asam'. Dalam keadaan demikian orang tentu tidak menaruh perhatian pada apa yang diucapkannya. Karena itu ucapan-ucapannya tidak dapat dipandang sebagai sebuah ide atau gagasan untuk memperbaiki masyarakat atau mendukung kelanjutan proses pembangunan.

Pada umumnya sebuah gagasan baru timbul dari kalangan para intelektual yang berhati mulia, yang berpikir, berbicara dan bersikap sebagai seorang intelektual. Gagasannya dibangun atas dasar pemikiran yang bernas, didukung dengan data dan informasi yang akurat. Tujuannya bukan untuk mendapat dukungan politik atau sekedar untuk 'rame-rame', tetapi untuk kepentingan rakyat dan kemajuan negara.

*) Said Zainal Abidin adalah ahli manajemen pembangunan daerah (regional development management) dan kebijakan publik, guru besar STIA LAN. Sekarang sebagai penasihat KPK.

(vit/vit)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads