Mengambil Pelajaran dari Serangan Bom di Somalia
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Kolom

Mengambil Pelajaran dari Serangan Bom di Somalia

Rabu, 05 Okt 2011 17:25 WIB
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Mengambil Pelajaran dari Serangan Bom di Somalia
Jakarta - Sebuah bom mobil telah diledakkan di muka kantor Departemen Pendidikan di kota Mogadishu, Somalia pada Selasa (4/10/2011). Ledakan mengakibatkan sekitar 70 orang tewas dan 150 lainnya mengalami luka-luka.

Kelompok bersenjata anti pemerintah Al-Shabab menyatakan bertanggung jawab atas serangan itu, dan bahkan mengeluarkan ancaman agar warga Somalia menjauhkan diri dari gedung-gedung pemerintah dan pangkalan militer karena mereka akan menyerang dengan lebih serius. Demikian stasiun televisi Al-Jazeera melaporkan.

Juru bicara Al-Shahab menyampaikan kepada kantor berita Reuter "Salah satu mujahidin kami membuat pengorbanan untuk membunuh para pejabat Transisional Federal Government (Pemerintahan Transisi Federal), pasukan Uni Afrika dan informan lainnya yang berada di kompleks itu,"katanya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ali Hussein, seorang perwira polisi di ibukota Somalia menjelaskan, ledakan berasal dari sebuah truk setelah berhenti di pos pemeriksaan keamanan di pintu masuk ke Departemen Pendidikan. Pada awalnya pembom mencoba meledakkan bersamaan dengan lalunya sebuah truk bahan bakar minyak 15 ton, dan beruntung truk tersebut tidak ikut meledak. Setelah gemuruh ledakan, nampak mayat-mayat yang hangus terbakar bergeletakan menghitam di jalan berserakan di antara puing-puing yang hancur.

Dalam serangan teror tersebut, korban terbanyak jatuh di kalangan siswa yang sedang mengantre untuk mendapatkan beasiswa dari pemerintah Sudan dan Turki. Suldan Sarah, direktur komunikasi Somalia dengan marah dan sedih mengatakan "Untuk melakukan tindakan pengecut seperti itu tidak berarti anda adalah sebuah kekuatan yang harus diperhitungkan, ini hanya berarti anda hanya dapat melakukan pembunuhan massal dengan menggunakan bom bunuh diri."

Presiden Somalia Sharif Sheikh Ahmed mengatakan "Saya sangat terkejut dan sedih oleh tindakan kejam dan tidak manusiawi berupa kekerasan terhadap hal yang paling rentan dalam masyarakat kita." Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki Moon juga mengecam serangan tersebut.

Al Shabab adalah salah satu kelompok militan Islam Afrika yang paling menakutkan di Somalia. Organisasi ini menguasai sebagian besar Somalia Selatan. Al Shabab terus melancarkan pemberontakan melawan pemerintah transisi Somalia sejak 2006.

Awalnya Al Shabab adalah organisasi sayap militan dari Uni Pengadilan Islam, sebuah kelompok yang dikendalikan oleh Somalia sebelum invasi dinegara itu oleh pasukan Ethiopia. Sejak tahun 2007 para pemimpin Al Shabab menyatakan berafiliasi dengan Al-Qaeda. Al Shabab telah menyebarkan teror ke masyarakat Somalia, memotong tangan, merajam dan melakukan pemboman. Termasuk melarang siaran TV dan menyatakan akan merubah Somalia menjadi negara Islam seperti abad ketujuh.

Kelompok Al Shabab juga banyak disalahkan karena menyebabkan kelaparan Somalia, dimana bantuan makanan dari negara-negara Barat telah mereka larang. Pada tahun ini banyak dari negara-negara yang berada di tanduk Afrika, termasuk Kenya, Ethiopia dan bagian lain dari Somalia, mengalami kesulitan pangan karena terjadinya kekeringan terburuk. Perserikatan Bangsa-Bangsa menyatakan bahwa puluhan ribu orang telah tewas akibat kesulitan pangan dan sebanyak 750.000 orang akan segera mati kelaparan, kecuali bantuan makan segera didatangkan.

Apa pelajaran yang dapat ditarik? Serangan teror berupa pemboman hanya oleh seorang martir telah mampu menimbulkan korban demikian banyak dan menambah kesengsaraan serta rasa takut dan panik masyarakat yang amat sangat. Oleh karena itu di Indonesia dengan masih adanya sel-sel teror yang dengan tega menyerang bangsanya sendiri dengan bom bunuh diri, sudah waktunya masyarakat ikut peduli terhadap keamanan lingkungan. Kepedulian sosial dilakukan untuk membantu aparat keamanan dalam menetralisir serangan teror. Mempersempit ruang gerak teroris dengan segera melaporkan hal-hal yang dianggap mencurigakan kepada polisi.

*) Prayitno Ramelan, Pemerhati Intelijen (http://ramalanintelijen.net)


(vit/vit)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads