Bukan hanya pemerintah, pihak gereja atau ummat kristiani pun marah karena rumah ibadah mereka diteror dengan bom yang mengakibatkan belasan orang luka-luka. Masalahnya, dampak dari aksi ini telah merembet ke mana-mana. Di antara ide pelarangan situs-situs Islam dan pembatasan kurikulum dan sekolah-sekolah Islam yang diduga beraliran radikal.
Upaya Adu Domba
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Insiden ini, seolah ada misi tertentu untuk mendapatkan keuntungan sepihak. Masalahnya, pemerintah SBY langsung mengumumkan bahwa aksi kali ini ada hubungannya dengan peristiwa bom bunuh diri di Cirebon.
Selain itu, ada semacam pencitraan, bahwa, kini, tempat ibadah yang dulu menjadi tempat yang paling aman dan nyaman ternyata ini tidak lagi berlaku pada masa sekarang. Masjid dan gereja telah dijadikan objek kejahatan, kemungkinan pelaku ingin mendikte masyarakat beragama untuk memiliki mindset bahwa tempat ibadah bukan lagi tempat yang aman untuk beribadah dan pada akhirnya masyarakat merasa takut untuk beribadah ke masjid atau gereja.
Wajar jika ada pendapat di masyarakat, sepertinya ada propaganda terselubung, bawah ada usaha membenturkan antara Islam dan Kristen supaya tidak lagi ada perdamaian antara kedua pihak. Dan ujungnya, mereka ingin mengadu domba antar umat beragama.
Penulis menyayangkan tindakan presiden SBY yang 'buru-buru' mengatakan bahwa aksi kali ini berkaitan dengan bom Cirebon, sepertinya telah dipengaruhi pihak lain untuk menjustifikasi rentetan aksi teror di Indonesia.
Mengapa langsung menyebut pelakunya kelompok Cirebon di saat polisi sedang mengembangkan dan mengumpulkan kasusnya? Anehnya lagi, kenapa setiap aksi teror bom selalu ada usaha mengkaitkan dengan Ustadz Abu Bakar Ba'asyir sebagai dalangnya?
Tuduhan demi tuduhan yang disangkut pautkan dengan dirinya, seolah ingin menuju pada titip pendapat umum, bahwa Ba’asyir layak dihukum mati, sebagaimana tuntutan jaksa selama ini. Jika benar arahnya ke sana, maka kasus ini potensial sebuah agenda politik.
Pengalihan Isu Politik
Analisis lain yang berkembang seputar aksi bom Solo ini adalah rencana reshuffle kabinet. Reshuffle adalah hal yang sudah pasti dilakukan oleh SBY untuk menetralisir banyaknya polemik, bertujuan untuk memperbaiki kinerja Kabinet Indonesia Bersatu II.
Sebelum ini, Ketua Pusat Pengembangan Strategi dan Kebijakan DPP Partai Demokrat Ulil Abshar Abdala selalu mengaitkan antara pluralisme dengan perpolitikan. Ulil adalah salah satu orang yang selalu mendendangkan 'lagu reshuffle' kabinet bagi siapa saja yang tidak mendukung rencana pembaratan wacana publiknya, dengan dasar Pancasila ia menjatuhkan lawan yang tidak sepaham dengannya.
Ulil akhir-akhir ini banyak muncul di media khususnya terkait masalah resuffle kabinet. Dalam beberapa kesempatan, ia berlindung di bawah SBY dengan mengatakan Presiden RI itu akan menindak partai koalisi yang mengganggu pluralisme dan kebhinekaan. Di antaranya dia menyebut PKS dan PPP yang mengganggu citra Pemerintahan SBY yang seharusnya nasionalis dan pro Bhineka Tunggal Ika yang berbasis Pancasila.
Adapun kaitannya dengan aksi pemboman di Solo yaitu untuk menciptakan opini public bahwa partai politik yang berlandaskan agama Islam yang haqq dan tidak setuju akan modernisasi ala Barat (seperti wacana pluralisme) adalah berbahaya untuk kemajuan Negara yang berlandaskan pancasila.
Bisa jadi, di tengah hangatnya isu reshuffle saat ini, perhatian masyarakat dan pemerintah sengaja dialihkan kepada wacana lain untuk mengulur waktu reshuffle kabinet, bisa juga waktu senggang ini dimanfaatkan kalangan tertentu untuk melobi presiden dan mempengaruhi keputusan SBY perihal resuffle.
Selain itu, ada kemungkinan juga aksi tersebut merupakan pengalihan isu sehubungan dengan akan disahkannya RUU Intelijen, RUU Keamanan Negara oleh DPR. Atau bisa jadi karena setumpuk kasus korupsi yang tidak bisa diselesaikan SBY.
Akhir kata, semua analisis yang berkembang itu bisa saja salah atau bisa saja benar. Satu yang pasti, bagaimanapun, kisah perpolitikan di Negeri ini selalu ada aroma politisasi dan peran-peran intelijen.
Kisah NII, kisah peledakan Borobudur, Pembajakan Woyla dan Komando Jihad di era 80-90-an, sangat kental dengan politisasi dan terlibatnya peran intelijen. Yang terpenting bagi kita, jangan lagi menjadi korban propaganda tersebut.
*) Mohammad Ismail tinggal di Jalan Daendles, Tlogosadang, Paciran, Lamongan.
(vit/vit)











































