Spekulasi siapa menteri yang bakal tergusur tampil berseliweran di saban media. Itu lengkap deskripsi kegagalannya. Juga kans terbesar namanya hilang dari KIB II akibat tersandung masalah korupsi atau kesehatan yang tidak bisa ditoleransi.
Namun dari sekian banyak menteri yang diindikasikan akan dicopot itu, anehnya sangat jarang ditampilkan tokoh mana yang akan mengganti posisi mana. Berita soal itu terbilang langka. Paling banter dicuatkan sisa-sisa rumor lama. Dahlan Iskan yang menolak di ESDM sekarang dimasukkan calon pengganti Mustafa Abubakar di Kementerian BUMN bersaing dengan Dirut Semen Gresik, Dwi Soetjipto. Dan Srikandi Pertamina Karen Agustiawan diprediksikan calon Menteri ESDM.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Isu yang terbaru tapi lama juga adalah terakomodasinya Partai Gerindra dan masuk calon dari PDI-Perjuangan. Dari Gerindra dirumorkan nama Fadli Zon dan Prabowo Subianto. Sedang dari PDI-Perjuangan terdapat tiga nama termasuk Puan Maharani.
Kalau kabar-kabar di atas itu memberi gambaran kecerahan, tak demikian dengan rumor yang memayungi PKB dan PKS. Sebelum kasus korupsi Kemenakertrans meledak, jatah menteri dari PKB direncanakan naik menjadi tiga orang. Mungkin maksudnya untuk mengakomodasi PKB pro Gus Dur, PKB lawan Gus Dur, dan PKB biologis Gus Dur. Namun setelah kasus korupsi itu bergulir, jatah itu menjadi tidak jelas. Konon akan dikurangi menjadi satu, dan tokoh yang diambil itu masih kinyis-kinyis, yaitu Imam Nachrowi, Sekjen PKB.
Sedang rumor yang paling tragis terjadi dalam tubuh PKS. Kalau tidak dihabisi, partai ini kemungkinan hanya akan dijatah satu menteri. Spekulasi itu merujuk pada sikap partai ini yang dianggap selalu βsinisβ terhadap SBY. Dan jika ada yang masih dipertahankan, kemungkinan itu Tifatul Sembiring yang entah dilukir di kementerian mana.
Kalaulah kemungkinan pembantu presiden nanti seperti itu, maka posisi SBY di legislatif semakin aman. Akomodasi lebih merata, pembagian kekuasaan moderat, dan kemungkinan geger menyoal kebijakan-kebijakannya relatif mengalir tenang.
Hanya yang perlu dilihat adalah kinerja para menteri yang berasal dari partai itu. Adakah mereka profesional, atau memfungsikan diri sebagai lumbung logistic bagi partai masing-masing. Sebab jika disimak dari ucapan SBY soal reshuffle kabinet kali ini, inilah pergantian menteri terakhir kalau tidak ada yang mati atau sakit parah (berhalangan tetap).
Atau bisa juga dibalik. SBY yang tidak suka 'didikte' justru akan antipati terhadap nama-nama yang sudah mencuat di public ini. Dengan demikian, siapa saja yang tertuliskan itu bukan orang-orang yang akan dipilih sebagai calon pembantunya. Ini untuk menjaga agar 'peta' tetap tidak terbaca, dan hanya menyisakan orang yang punya rasa saja yang mampu merabanya untuk menemukan jawabnya.
Adakah benar SBY menerapkan peta buta dalam memilih calon pembantunya? Ya, seminggu dua minggu ini kita lihat sama-sama.
*) Djoko Suud Sukahar adalah pemerhati sosial budaya, tinggal di Jakarta.
(vit/vit)











































