Kolom

Pelajaran dari Tewasnya Mantan Presiden Afghanistan

- detikNews
Rabu, 21 Sep 2011 10:40 WIB
Jakarta - Mantan Presiden Afghanistan Burhanuddin Rabbani yang kini menjadi Ketua Dewan Perdamaian Afghanistan tewas terbunuh di kediamananya pada Selasa (20/9) malam oleh seorang pembom bunuh diri. Burhanuddin Rabbani saat adalah pejabat Afghanistan yang paling menonjol dalam melakukan rekonsiliasi perdamaian dengan Taliban untuk menghentikan perang yang telah berlangsung selama sepuluh tahun. Kematiannya merupakan sebuah berita yang sangat mengejutkan dan diperkirakan akan dapat menghancurkan proses perdamaian di Afghanistan.

Pembom bunuh diri tersebut diketahui sebagai salah seorang kepercayaan yang pada saat pertemuan disebutkan membawa sebuah informasi penting utk Rabbani. Pada saat pertemuan, pelaku memeluk Rabbani dan kemudian meledakkan bom yang disembunyikan di sorbannya. Ledakan tersebut membunuh Rabbani dan melukai tiga orang lainnya. Salah satu korban yang menderita luka-luka serius diketahui bernama Mohammad Masoom Stanekzai.

Presiden Afghanistan Karzai yang sedang berada di Amerika Serikat, saat akan bertemu dengan Presiden Barack Obama menyatakan belasungkawa sedalam-dalamnya dan mengatakan bahwa meninggalnya Mantan Presiden Burhanuddin Rabbani sebagai sebuah kehilangan yang sangat tragis dari seorang patriot Afghanistan.

Presiden Obama menyatakan, "Kami berdua percaya bahwa meskipun telah terjadi insiden ini, kami tidak akan tergoyahkan dalam menciptakan arah dimana Afghanistan akan bisa hidup di alam kebebasan, aman, selamat dan makmur," tegasnya. PM Pakistan Yusuf Reza Gilani dan Presiden Asif Ali Zardari menyatakan mengecam terjadinya pembunuhan terhadap Rabbani tersebut.

Burhanuddin Rabbani menjadi Presiden Afghanistan pada tahun 1990, setelah penarikan pasukan Uni Soviet. Dia dipaksa turun dari jabatannya setelah kelompok Taliban menyerbu dan menguasai ibukota Kabul pada tahun 1996. Rabbani kemudian menduduki jabatan sebagai presiden dari Aliansi Utara. Dia kini adalah orang terpenting yang mencoba melakukan upaya perdamaian antara pemerintahan Presiden Karzai dengan kelompok militan Taliban.

Seperti diketahui, Taliban telah melakukan beberapa serangan sporadis di kota Kabul seminggu sebelum Rabbani tewas. Kemampuan Taliban melakukan serangan, bahkan pada Selasa (13/9) kantor kedutaan AS di Kabul juga mereka serang. Serangan Taliban di Kabul tersebut mengundang banyak pertanyaan akan kesiapan dan kemampuan dari pasukan Presiden Karzai dalam menjaga situasi keamanan negara menjelang penarikan pasukan AS dan NATO yang akan berakhir pada 2014. Bahkan kini tiga propinsi yang berbatasan dengan Kabul lebih banyak dikuasai Taliban.

Pembunuhan Mantan Presiden Burhanuddin Rabbani sebagai tokoh di Afghanistan tercatat sebagai peristiwa ketiga dalam tiga bulan terakhir. Pada bulan Juli saudara tiri Presiden Karzai, Ahmed Wali Karzai yang sehari-harinya dijaga demikian ketat, tewas ditembak teman kepercayaannya sendiri. Beberapa hari kemudian, mantan Gubernur Oruzgan Jan Mohammed Khan yang merupakan pendukung Karzai diserbu beberapa orang Taliban bersenjata.

Menurut badan intelijen Afghanistan, modus serangan terhadap Rabbani pada Selasa malam itu mengingatkan pembunuhan politik dua hari menjelang serangan spektakuler terhadap gedung kebanggaan Amerika Serikat WTC. Ahmed Shah Massoud pemimpin Aliansi Utara dibunuh oleh seorang yang menyamar sebagai wartawan. Selain itu diberitakan oleh para jurnalis di Afghanistan, adanya kecurigaan keterlibatan jaringan intelijen Pakistan, Inter Services Intelligence Directorate yang dikatakan selalu berusaha menghentikan upaya menengahi perdamaian antara pemerintah Afghanistan dengan Taliban.

Apa pelajaran yang bisa kita dapat dan pergunakan di masa depan? Pertama, kasus pembunuhan terhadap tokoh politik serta pejabat penting di Taliban dalam beberapa kasus dilakukan oleh orang kepercayaan yang dinilai steril. Pada beberapa kasus terdahulu korban ditembak, kemudian yang terjadi terhadap Mantan Presiden Rabbani diluar perkiraan para Walpri, dilakukan dengan bom bunuh diri yang disimpan di sorban. Ini adalah pembunuhan fanatis dan terarah, sasaran terpilih dan bom kecil yang disembunyikan di tempat yang tidak di perkirakan ternyata mampu menewaskan target.

Kedua, petugas yang bertanggung jawab sebagai pengawal pribadi masih memberi toleransi terhadap tamu yang mendekat ke subyek pengamanan tanpa melakukan pemeriksaan yang "sangat" teliti. Ketiga, intelijen kurang fokus dalam melakukan analisa dan penilaian baik kemungkinan langkah penyerang maupun target penting mana yang sangat mungkin akan diserang. Dalam situasi dan kondisi di daerah konflik yang bergolak, seharusnya pengamanan pribadi ditingkatkan dua atau tiga kali lipat.

Nah, kini bagaimana di Indonesia? Yang jelas para pejabat pengamanan (pasukan pengamanan) harus lebih hati-hati dan teliti dalam melakukan pengamanan VIP/VVIP. Jangan memberikan toleransi sekecil apa pun, karena celah kecil itulah yang dicari oleh para perancang dan akan mereka manfaatkan. Celah tersebut dalam bahasa terang intelijen adalah kerawanan, di mana apabila kerawanan dieksploitir, maka akan terjadi kelumpuhan sistem dan korban dipastikan akan jatuh. Dalam kondisi masa kini, dengan pernah ditemukannya rencana penyerangan terhadap presiden oleh kelompok teroris pada tiga spot, pernah terjadinya pembunuhan bersenjata, serta adanya pembom bunuh diri di sini, kewaspadaan nampaknya memang perlu ditingkatkan. Semoga bermanfaat.

*) Marsda TNI (Pur) Prayitno Ramelan adalah pemerhati intelijen. Tulisan lainnya dapat diakses di http://ramalanintelijen.net 

(vit/vit)