Kolom

Kala Tiga Bom Meledak di Thailand Selatan

- detikNews
Minggu, 18 Sep 2011 08:58 WIB
Jakarta - Rangkaian ledakan tiga buah bom terjadi di Kabupaten Sungai Kolok, Provinsi Narathiwat, Thailand Selatan Jumat lalu (16/9). Setidaknya tiga orang, termasuk turis asing, tewas dan lebih dari 50 terluka dalam peristiwa tersebut. 

Demikian diberitakan serangan teror menakutkan di wilayah yang penuh dengan bar dan hotel tersebut. Ledakan pertama terjadi pukul 06.40 waktu setempat, berasal dari sebuah sepeda motor, terjadi di Soi 3 of Charoen Khet Road in Sungai Kolok yang berseberangan dengan Asosiasi Teochew. Ledakan yang berasal dari sebuah sepeda motor yang diparkir, melukai sejumlah besar orang yang lewat, baik wisatawan dan penduduk lokal, membunuh seorang anggota staf dari asosiasi.

Ledakan kedua terjadi Sekitar 15 menit kemudian, kembali sebuah bom yang diletakkan pada sepeda motor meledak di depan sebuah bar yang terletak sekitar 300 meter dari ledakan pertama. Lokasi ledakan terletak didekat persimpangan jalan menuju kantor cabang Sungai Kolok TOT Plc. Beberapa turis Thailand dan Malaysia menderita luka-luka terkena serpihan bom tersebut.

Bom ketiga meledak sekitar pukul 07.20 dari sebuah mobil yang diparkir di dekat sebuah warung makan di seberang Hotel Merlin. Beberapa toko di dekat sumber ledakan dan salah satu sisi hotel mengalami kerusakan. Kapten Theerapong Suwannawetch, komandan 1922 Gugus Tugas yang bertanggung jawab keamanan di Sungai Kolok, juga terluka parah. Dua orang lainnya, termasuk seorang turis Malaysia juga tewas. Polisi telah menahan dua orang tersangka untuk diperiksa terkait serangan tiga bom tersebut.

Pasca ledakan, terjadi pemadaman listrik di pusat kota. Aparat keamanan/polisi kemudian memblokir jalan-jalan di sekitar tiga lokasi bom dan aktivitas ponsel sementara dimatikan, untuk mencegah kemungkinan serangan bom ponsel jarak jauh.

Rangkaian serangan bom tersebut terjadi beberapa jam setelah polisi muslim, petugas serta relawan pertahanan ditembak mati di Masjid Tambon Budi yang terletak di distrik Muang Yala. Seorang anggota polisi dan relawan pertahanan tewas ditembak di kepalanya oleh empat pria saat melakukan shalat di masjid. Sehari sebelumnya lima perwira polisi juga tewas akibat ledakan bom yang ditanam di jalan Distrik Kapho Pattani.

Dalam serangan lain, sebuah bom meledak di sebuah pangkalan militer, Narathiwat 31st special task force di Cho Airong distrik Narathiwat pada Kamis malam (15/9), yang melukai tiga anggota militer. Enam militer Thailand yang sedang mendirikan sebuah pos pemeriksaan di desa terdekat. Para penyerang kemudian meledakkan bom pinggir jalan dimana para prajurit biasa lewat. Bersamaan dengan ledakan bom tersebut, kelompok penyerang lain kemudian menembaki pangkalan militer. Menurut para petugas, serangan bom itu ditujukan untuk memikat tentara agar meninggalkan basis mereka untuk memeriksa lokasi ledakan. 

Wakil PM Thailand,Kowit Wattana mengatakan bahwa kegiatan kelompok militan meningkat setelah pemerintah mengirimkan perwira tinggi ke Thailand Selatan. Pemerintah akan mengetatkan pengamanan wilayah dan akan melakukan serangan pre-emptif. Tercatat, sejak 2004 hingga bulan Agustus tahun ini, telah terjadi 11.074 kasus tindak kekerasan di provinsi yang mayoritas penduduknya Muslim. 

Sejumlah 4.846 orang, yang sebagian besar Muslim telah tewas di propinsi Pattani, Yala dan Narathiwat, sejak terjadinya pemberontakan muslim berkobar yang diawali pada bulan Januari 2004. Provinsi Narathiwat Selatan adalah satu dari tiga provinsi yang didominasi Muslim, yang berbatasan dengan Malaysia.

Kekerasan demi kekerasan terus melanda Thailand Selatan. Dari sejarah, wilayah selatan Thailand yang terdiri dari Pattani, Narathiwat dan Yala pada awalnya adalah bagian dari Tanah Melayu (Malaysia), tetapi oleh Inggris kemudian diserahkan kepada pemerintah Thailand melalui Perjanjian Bangkok 1909. Kelompok kaum nasionalis di Thailand Selatan menginginkan kemerdekaan sepenuhnya dari Thailand. Sementara kelompok lain menginginkan terbentuknya negara Islam di wilayah selatan Thailand tersebut.

Luka lama di Thailand Selatan kembali berdarah sejak 2003 menyusul instruksi keras oleh Perdana Menteri Thailand, Thaksin Shinawatra terhadap penduduk Yala, Narathiwat dan Pattani yang militan. Lebih 1500 orang penduduk muslim telah tewas. Terdapat tujuh organisasi militan di Thailand Selatan, yaitu Pergerakan Mujahidin Pattani (BNP) Organisasi Pembebasan Bersatu Patani (PULO), Gerakan Mujahideen Islam Pattani (GMIP), Gerakan Grup Mujahidin Islam Pattani Barisan Revolusi Nasional (BRN), Barisan Pembebasan Nasional Pattani (BNPP), Jamaah Islamiyah (JI), dan Kelompok Kecil Runda (RKK)

Metode perjuangan Al-Qaeda di belahan dunia lainnya, khususnya di Afghanistan telah menjadi sumber ide dan inspirasi di Thailand Selatan tersebut. Militer Thailand menuduh Gerakan Mujahidin Islam Pattani (GMIP) dan kelompok serpihan lainnya menjadi penyedia bahan peledak dan melatih anggota-anggotanya untuk meledakkan bom bunuh diri, melakukan penembakan gelap dan merakit dinamit pada motor dan sepeda. Sasaran utamanya adalah tentara, polisi dan sarang maksiat.

Apa yang bisa dipetik dari kasus Thailand Selatan? Kelompok militan memperjuangkan idealismenya dan kemudian mengkristal menjadi kelompok separatis. Unsur SARA sangat kental berperan di tiga propinsi Thailand Selatan tersebut. Nah, Indonesia juga memiliki beberapa wilayah yang berpotensi terjadinya kasus serupa, intelijen strategis menyebutnya "trouble spot." 

Kini di era demokrasi kebebasan, Papua dan Ambon/Maluku adalah trouble spot yang harus diikuti perkembangannya dengan fokus, di sana masih terdapat ide kelompok separatis OPM dan RMS. Walaupun masih kecil, gangguan keamanan di Papua dengan senjata api serta pernah terjadinya perang di Ambon nampaknya telah menjadi studi kasus 'sangat penting' untuk terus dicermati. Semangat menjaga NKRI kini berada di pundak masyarakat, dengan pejuru aparat pemerintah. 

*) Marsda TNI (Purn) Prayitno Ramelan adalah pemerhati intelijen. Tulisan lainnya dapat dilihat di http://ramalanintelijen.net

(vit/vit)