Korupsi sudah jadi kebiasaan bagi yang berkuasa di negeri ini. Satu tertangkap yang lain mengantre. Antrean kali ini terjadi di Kementerian Tenaga Kerja dan Trasmigrasi. Dadong Irbarelawan tertangkap tangan menerima uang sejumlah Rp 1,5 miliar. Dia mengaku disuruh I Nyoman Suisnaya, dan yang terakhir menyebut uang itu untuk menterinya buat hadiah lebaran.
Dadong dan I Nyoman adalah pegawai Kemenakertrans. Dia menjabat sebagai Kepala Bagian Perencanaan dan Evaluasi, serta Sekretaris Direktorat Jenderal Pembinaan Pembangunan Kawasan Transmigrasi (P2KT). Tidaklah heran jika pengakuan itu benar atau tidak secara instingtif dianggap rasional dan benar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Maka kendati sudah tiga orang telah ditetapkan sebagai tersangka, Dharnawati dari PT Alam Jaya Papua, I Nyoman Suisnaya, dan Dadong Irbarelawan dari Kemenakertrans, serta tujuh saksi yang mungkin saja akan menambah jumlah tersangka, kasus ini bergulir dinamis. Penyidikan mengalir, dan perbantahan juga tidak istirahat.
Kasus hukum kita serahkan ahlinya. Namun di balik perkara itu, mencuat perkara lain yang distimulasi kasus ini. Lawan-lawan Muhaimin di tubuh PKB tidak tinggal diam. Lily Wahid yang dipecat Muhaimin menjustifikasi itu. Mantan Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi menyalahkan napak tilas sang Ketum PKB, beberapa pengurus DPW PKB ikut nimbrung meluapkan βketidaksukaannyaβ.
Bak pepatah pucuk dicinta ulam tiba, maka kasus korupsi ini menjadi pintu masuk bagi segerobak masalah di tubuh PKB. Ada yang merancang melakukan demo di beberapa daerah. Dan ada pula yang mewacanakan Munaslub untuk menggusur Muhaimin dari tampuk pimpinan partai bentukan Gus Dur itu.
Gesekan-gesekan di internal PKB itu terus meruncing. Gempuran dari dalam partai kian menggurita. Itu terajut dengan serbuan dari eksternal. Di luar partai memberi pembenaran wacana bakal digantinya Muhaimin sebagai Menakertrans di bulan Oktober nanti. Sedang dari dalam, dia berada di ujung tanduk, terancam untuk tetap mempertahankan diri sebagai pengendali PKB.
Kasus korupsi ini menempatkan partai ini memasuki masa paling kritis. Jangan lagi untuk melakukan konsolidasi menghadapi Pemilu tahun 2014, bertahan eksis ala kadarnya saja sudah kelimpungan. Itu karena sudah terbelahnya partai ini dalam banyak serpihan, faksi-faksi yang sulit untuk dipersatukan.
Maka jika indikasi keterlibatan Muhaimin dalam kasus korupsi ini terbukti, segala lini yang sudah keropos itu tinggal menunggu waktu menjadi puing-puing. Adakah itu karena Muhaimin suka menggusuri teman-temannya sendiri untuk mencari kepercayaan pada kekuasaan, seperti kata Hasyim Muzadi?
Kini kita sedang menunggu. Menunggu kemungkinan terjadinya kiamat Muhaimin dan geger kepati-pati dalam tubuh PKB. Ataukah akan ada mujizat bagi Muhaimin terselamatkan dan PKB kembali ijo royo-royo?
Budayawan, menetap di Jakarta
(nrl/nrl)











































