Kiamat Muhaimin
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Kolom Djoko Suud

Kiamat Muhaimin

Selasa, 13 Sep 2011 09:23 WIB
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Kiamat Muhaimin
Jakarta - Korupsi di Kementerian makin ndadrah. Belum terungkap buntut Nazaruddin, kini kasus serupa terjadi di Kemenakertrans. Akhir puasa lalu uang miliaran Rupiah dalam kardus durian pindah tangan. KPK menangkap. Dari pengakuan, uang itu buat menteri lebaran. Ini kado bom buat Muhaimin. Mengancam posisinya dan juga PKB. Jika terbukti, bom itu pangkal kiamat bagi sang menteri.

Korupsi sudah jadi kebiasaan bagi yang berkuasa di negeri ini. Satu tertangkap yang lain mengantre. Antrean kali ini terjadi di Kementerian Tenaga Kerja dan Trasmigrasi. Dadong Irbarelawan tertangkap tangan menerima uang sejumlah Rp 1,5 miliar. Dia mengaku disuruh I Nyoman Suisnaya, dan yang terakhir menyebut uang itu untuk menterinya buat hadiah lebaran.

Dadong dan I Nyoman adalah pegawai Kemenakertrans. Dia menjabat sebagai Kepala Bagian Perencanaan dan Evaluasi, serta Sekretaris Direktorat Jenderal Pembinaan Pembangunan Kawasan Transmigrasi (P2KT). Tidaklah heran jika pengakuan itu benar atau tidak secara instingtif dianggap rasional dan benar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Muhaimin Iskandar sebagai Menteri Tenaga Kerja dan Trasmigrasi telah ulang kali membantah. Tetapi bantahan itu seperti tertelan bumi. Sebab hukum kebiasaan trend terkini memang seperti itu. Belum ada pejabat tegas dan jantan mengakui sebagai maling atau anak buahnya merampok sebagai tanggungjawabnya sebagai pimpinan.

Maka kendati sudah tiga orang telah ditetapkan sebagai tersangka, Dharnawati dari PT Alam Jaya Papua, I Nyoman Suisnaya, dan Dadong Irbarelawan dari Kemenakertrans, serta tujuh saksi yang mungkin saja akan menambah jumlah tersangka, kasus ini bergulir dinamis. Penyidikan mengalir, dan perbantahan juga tidak istirahat.

Kasus hukum kita serahkan ahlinya. Namun di balik perkara itu, mencuat perkara lain yang distimulasi kasus ini. Lawan-lawan Muhaimin di tubuh PKB tidak tinggal diam. Lily Wahid yang dipecat Muhaimin menjustifikasi itu. Mantan Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi menyalahkan napak tilas sang Ketum PKB, beberapa pengurus DPW PKB ikut nimbrung meluapkan β€˜ketidaksukaannya’.

Bak pepatah pucuk dicinta ulam tiba, maka kasus korupsi ini menjadi pintu masuk bagi segerobak masalah di tubuh PKB. Ada yang merancang melakukan demo di beberapa daerah. Dan ada pula yang mewacanakan Munaslub untuk menggusur Muhaimin dari tampuk pimpinan partai bentukan Gus Dur itu.

Gesekan-gesekan di internal PKB itu terus meruncing. Gempuran dari dalam partai kian menggurita. Itu terajut dengan serbuan dari eksternal. Di luar partai memberi pembenaran wacana bakal digantinya Muhaimin sebagai Menakertrans di bulan Oktober nanti. Sedang dari dalam, dia berada di ujung tanduk, terancam untuk tetap mempertahankan diri sebagai pengendali PKB.

Kasus korupsi ini menempatkan partai ini memasuki masa paling kritis. Jangan lagi untuk melakukan konsolidasi menghadapi Pemilu tahun 2014, bertahan eksis ala kadarnya saja sudah kelimpungan. Itu karena sudah terbelahnya partai ini dalam banyak serpihan, faksi-faksi yang sulit untuk dipersatukan.

Maka jika indikasi keterlibatan Muhaimin dalam kasus korupsi ini terbukti, segala lini yang sudah keropos itu tinggal menunggu waktu menjadi puing-puing. Adakah itu karena Muhaimin suka menggusuri teman-temannya sendiri untuk mencari kepercayaan pada kekuasaan, seperti kata Hasyim Muzadi?

Kini kita sedang menunggu. Menunggu kemungkinan terjadinya kiamat Muhaimin dan geger kepati-pati dalam tubuh PKB. Ataukah akan ada mujizat bagi Muhaimin terselamatkan dan PKB kembali ijo royo-royo?

Budayawan, menetap di Jakarta

(nrl/nrl)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads