Rudal Panggul Khadafi di Pasar Gelap

- detikNews
Minggu, 28 Agu 2011 08:49 WIB
Jakarta - Sebuah informasi yang cukup mengejutkan dari perang di Libya, menjelaskan bahwa setelah pejuang pemberontak menguasai sekitar 90 persen wilayah Libya, kini di pasar gelap telah beredar penjualan rudal panggul yang dulu dimiliki pasukan Khadafi. Deplu AS hari Kamis (25/8) menyatakan bahwa bahan baku untuk membuat senjata nuklir, senjata kimia yang mematikan dalam posisi aman.

Penjelasan dimaksud untuk menetralisir kekhawatiran publik apabila senjata pemusnah masal tersebut jatuh ketangan teroris. Menlu Hillary Clinton menyatakan bahwa Dewan Transisi Nasional mempunyai kewajiban dan tanggung jawab, agar stok senjata Libya tidak jatuh ketangan yang salah dan diharapkan mempunyai sikap yang tegas terhadap ekstrimisme kekerasan.

Yang dikhawatirkan Deplu AS, ribuan rudal panggul, sekitar 15.000-25.000 buah, nasib dan keberadaannya belum jelas. Bahkan Deplu mengeritik pejabat intelijen dan ahli kontra terorisme yang dinilainya lambat dalam bekerja. Harga rudal panggul tersebut pasarannya jatuh dan dijual murah di black market, tetapi belum ada bukti jaringan Al-Qaeda kini telah membelinya.

Pemerintah AS telah mengesampingkan pemikiran mengirimkan pasukan ke Libya, termasuk meningkatkan team CIA dan kontraktor CIA (pelaksana lapangan) untuk mencari keberadaan senjata-senjata eks militer Libya. Pihak intelijen dan komunitas diplomatik AS menyatakan agar keberadaan rudal eks Libya perlu dilacak lebih serius dan hati-hati.

Para penasihat militer dari Inggris, Italia, Prancis dan Qatar selama hanya memberikan informasi intelijen kepada pemberontak dan data sasaran kepada bomber dari NATO saat melakukan serangan di Libya. Sementara intelijen militer AS lebih bergantung kepada pesawat mata-mata tanpa awak, satelit dan informan intelijen dalam melacak lokasi gudang senjata pasukan Khadafi. Pertempuran di Lybia nampaknya tidak akan akan mudah selesai dan bahkan bisa menimbulkan masalah baru bagi AS dan sekutunya terkait dengan senjata-senjata tersebut.

Di masa jayanya, pemimpin Libya, Kolonel Muammar Khadafi memiliki pasukan sekitar 76.000 tentara dan 40.000 tentara paramiliter. Dia juga memiliki alutsista berupa 260 pesawat tempur (25 sebagian besar MIG dan 23S), 650 tank, 2.300 artileri dan lebih dari 100 helikopter. Sebagian besar pesawat tempurnya adalah bekas Uni Soviet tahun 70-an. Rata-rata sudah tertinggal teknologi, termasuk sumber daya manusia, juga pemeliharaan yang buruk. Senjata unggulan terutama anti pesawat terbang di awaki oleh personil dari Syria, Korea dan Eropa Timur. Prajurit Libya diketahui tidak berkemampuan dalam menangani senjata berteknologi tinggi.

Saat serangan udara dan laut AS dan NATO berlangsung, diketahui banyak personil militer Libya yang melarikan diri. Bahkan bagian Timur Libya telah jatuh ke tangan pemberontak tanpa pertempuran. Oleh karena itu, pihak Deplu AS sangat mengkhawatirkan keberadaan rudal panggul yang diawaki tentara sewaan, dan bukan tidak mungkin mereka memanfaatkan situasi dengan melepas ke pasar gelap. Kira-kira itu alasannya. Itulah salah satu informasi intelijen yang sangat diperhitungkan dan dikhawatirkan oleh pejabat intelijen AS.

Dalam perang sepuluh tahun di Afghanistan, dari 29 Helli Chinook yang jatuh, tercatat 10 buah jatuh karena ditembak dengan RPG. Jadi bisa dibayangkan apabila kelompok teroris Al Qaeda musuh bebuyutan AS sempat memiliki sebagian rudal tersebut, ancaman terhadap pasukan AS dikawasan Timur Tengah akan sangat berbahaya. Bahkan juga mereka dapat melakukan serangan terhadap negara-negara di sekitar Libya. Menakutkan memang akibat perang di Libya.

*) Marsda TNI (Pur) Prayitno Ramelan adalah pengamat intelijen. Untuk artikel lainnya kunjungi http://ramalanintelijen.net


(vit/vit)