Lift DPR dan Alam Gaib
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Lift DPR dan Alam Gaib

Minggu, 24 Jul 2011 09:35 WIB
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Lift DPR dan Alam Gaib
Jakarta - Suatu waktu, saya dan beberapa orang berada dalam lift DPR yang sudah terlampau penuh kapasitasnya. Seperti biasa, bila liftnya penuh, selalu ada signal/ tanda bunyi. Pertanda tumpangan telah malampaui kapasitas lift. 

Namun, pagi itu yang menumpangi lift berjumlah 22 orang. Sementara kapasitas lift cuma mampu menampung 20 orang. Mestinya ada peringatan berupa bunyi bel. Karena kapasitas lift terlampaui. 

Tapi lift yang saya tumpangi itu terus bergerak ke atas. Namun di saat hendak di lantai 15, tiba-tiba bel lift memberikan isyarat pertanda kapasitas muatannya terlampaui. Saya dan tentu lainnya ikut heran. Kok bisa? Dan kenapa? Tadi kan tidak apa-apa? 

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Salah seorang teman saya berseloroh, "Yang empirik saja tidak jelas, bagaimana yang spiritual?" Sebentar saya bertanya dalam hati atas seloroh teman saya itu, apa hubungannya?

Ternyata setelah saya analisa, maksud teman saya ini, lift dengan kapasitas 20 orang kok bisa muat 22 orang. Tapi kok tiba-tiba memberikan signal penolakan atau peringatan. Maksudnya, yang empirik begini saja tidak pasti, apalagi dosa yang gaib itu?

Bagi saya, yang menarik adalah pesan di balik celetuknya teman saya itu dengan logat Madura-nya, "Yang empirik saja enggak jelas, bagaimana yang spiritual?" Saya berpikir, di sinilah rancunya otak manusia modern. Mematenkan kepercayaan bahwa yang empirik itu selalu pasti. Bisa-bisa menuhankan kepastian empirik.

Dan celakanya lagi, bila menganggap bahwa kepastian itu hanya ada di dunia empirik. Dengan pandangan yang demikian, maka dunia spiritual niscaya dianggapnya tidak pasti (uncertain). 

Dengan mind-set demikianlah, saya mengira, kalau moralitas dan turunannya seperti kejujuran, berada dalam kontrol dunia ketuhanan dan kegaiban yang dianggap uncertain. Dus, bangun persepsi yang demikian, telah melicinkan, atau memberikan kompensasi bagi tindak dan laku yang banal semisal korupsi dan manipulasi. 

Paling orang hanya bilang, "Hari gini takut dosa, kan itu dunia gaib yang tidak pasti. Segala argumen bisa dirombengankan. Asal melegitimasi laku yang banal dan koruptif". 

Boro-boro berpikir tentang dosa yang gaib itu. Wong yang empirik seperti kapasitas lift tadi saja tidak jelas. Begitulah kira-kira analogi dosa dan kepastian empirik. 

Dengan menuhankan kepastian empirik serta menafikkan ketidak pastian yang gaib, sesungguhnya manusia modern telah berusaha telanjang dari eksistensinya. Kalau saya mau membalikkan kepastian yang gaib, bisa saja. 

Begini analoginya. Dalam teori kejadian alam semesta, disebutkan bahwa berlakunya hukum-hukum fisika, adalah ketika adanya ruang dan waktu. 

Pertanyaannya, sebelum adanya ruang dan waktu, hukum apakah yang berlaku? Kita tidak punya pilihan lain, selain mengatakan dengan pasrah, bahwa sebelum adanya ruang dan waktu, yang berlaku adalah hukum-hukum metafisika (gaib). 

Analogi di atas, menunjukkan bahwa yang pasti saja berasal dari yang gaib. Dengan demikian, yang gaib atau spiritual misalnya, adalah kepastian absolut yang tidak mampu dijangkau oleh logika telanjang manusia yang serba parochial. 

Di sinilah otoritas moral-spiritual mendapat ruang, dalam dominasi logika modern yang positifistik. Dengan demikian, antara berbuat koruptif dan tidak koruptif, bisa berada dalam takaran, ada kepastian dan sanksi moral dalam pendekatan ketuhanan. 

Ternyata lift DPR masih menyimpan sedikit pesan moral, bagi anggota Dewan yang setiap harinya membebani kapasitas lift itu dengan bebannya.

*) Abdul Munir Sara tinggal di Jalan Kayu Manis Baru, Jakarta Timur.

(vit/vit)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads