Sebelum nyanyian M Nazaruddin di Metro TV yang blak-blakan, sudah ada isu kongres luar biasa (KLB) untuk mengganti posisi Anas. Tentu isu itu akan semakin menguat ketika M Nazaruddin terus bernyanyi dengan suara yang keras. Namun isu mengenai KLB sebenarnya suatu yang tidak dikehendaki oleh Presiden SBY yang sekaligus sebagai Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat. Dalam sebuah kesempatan di Cikeas, SBY mengatakan tidak akan ada KLB yang akan menggulingkan Anas.
Meski SBY mengatakan demikian, itu bukan sebuah jaminan 100%, sebab dalam rakornas akan hadir 4.800 peserta dari unsur dewan pengurus pusat, dewan pembina, dewan kehormatan, dewan pengurus daerah, dan dewan pengurus cabang seluruh Indonesia. Bila kondisi demikian dilepas maka rapat yang sedianya akan membahas masalah konsolidasi dan evaluasi program kerja akan melenceng menjadi KLB.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebagai manusia biasa, SBY bisa saja terpengaruh dengan nyanyian M Nazaruddin di Metro TV. Nyanyian M Nazaruddin mungkin βmenyejukanβ SBY sebab nyanyian itu tidak menyerang Ibaz. Sehingga menunjukan keluarga SBY bersih dari kasus korupsi yang tidak hanya dalam pembangunan Wisma Atlet di Palembang namun juga pusat pendidikan atlet di Bukit Hambalang, Bogor, Jawa Barat, serta tempat lainnya.Β
Selain itu ada juga kelompok yang belum ikhlas menerima kekalahan saat Kongres Partai Demokrat di Bandung, 2010. Kelompok inilah yang secara diam-diam terus menghembuskan KLB. Nyanyian M Nazaruddin bagi kelompok ini merupakan sebuah amunisi yang besar untuk memperlancar KLB. Dari paparan di atas, maka rakornas nanti akan seperti kongres, sebab masing-masing pihak membentuk tim sukses yang bertugas untuk saling culik atau lobi kepada dewan pengurus cabang dan dewan pengurus daerah untuk saling mempengaruhi. Dari kubu Anas mempengaruhi untuk mempertahankan kepengurusan Dewan Pengurus Pusat Partai Demokrat Periode 2010-2015, sedang rival akan mempengaruhi agar dewan pengurus cabang dan dewan pengurus daerah untuk mendesak diadakan KLB saat rakornas. Bila ada KLB, pastinya posisi Anas akan diganti.
Β
Namun meski Anas diganti, ada yang tidak akan berubah dalam kepengurusan baru, yakni posisi Sekjen Partai Demokrat, yang saat ini dijabat oleh Ibaz, tidak akan berubah, tetap akan dipegang Ibaz. Ibaz sendiri menjadi sekjen bukan karena orangnya tepat atau bagian dari akomodatif kemenangan Anas kepada kubu Andi Malaranggeng dalam Kongres 2010, namun karena titipan langsung dari SBY. Ketika SBY menghendaki anaknya menjadi sekjen tentu siapa pun tidak akan bisa menolak.
Sebagai anak muda, Ibaz yang sebelumnya jauh dari hiruk pikuk dunia politik, dan tiba-tiba langsung terlibat dalam Partai Demokrat tentu masih sangat minim dengan pengalaman-pengalaman politik. Hal demikian diakui oleh SBY sendiri sehingga SBY tidak langsung menjadikan dirinya sebagai ketua umum, namun untuk sementara waktu ia dijadikan sekjen, tujuannya untuk belajar politik. Posisi sekjen bagi Ibaz adalah posisi yang sangat tinggi, sebab posisi sekjen adalah posisi yang strategis. Bila bukan Ibaz mungkin jabatan itu akan dipegang oleh elite Demokrat lainnya yang lebih berpengalaman dan handal dalam berpolitik.
Tentu bila-bila benar KLB itu akan sangat merugikan Partai Demokrat. Kerugian ini bukan karena mengganti Anas, yang secara riil memiliki jaringan HMI di Partai Demokrat di tingkat dewan pengurus daerah dan dewan pengurus cabang di seluruh Indonesia, namun energi pengurus baru akan lebih tercurah kepada konsolidasi organisasi daripada persiapan menjelang Pemilu 2014. Selain itu, KLB dengan penggantian Anas akan membuat perpecahan di Kubu Partai Demokrat. Pendukung Anas akan berani membangkang kepada keputusan KLB.
Pemilu 2014 bisa jadi merupakan pemilu terberat yang akan dialami oleh partai politik, apalagi dengan kemungkinan parliamentary threshold 5% tentu akan membuat partai politik akan bekerja lebih keras untuk bisa lolos dari ambang batas itu. Bila Partai Demokrat lebih asyik berkonflik dan hanya memikirkan posisi ketua umum maka Partai Demokrat bisa tidak lolos dalam ambang batas tersebut.
Kemenangan Partai Demokrat yang tinggi dalam Pemilu 2009 pun menjadi pertanyaan banyak pihak, sebab dengan kasus mantan anggota KPU Andi Nurpati dalam masalah surat MK dan dirinya menjadi pengurus Partai Demokrat. Apakah Partai Demokrat dalam Pemilu 2014 bisa meraih suara seperti pada Pemilu 2009? Sangat sulit, sebab selain akan semakin ketatnya pengawasan terhadap KPU, juga Partai Demokrat lebih asyik mengurusi masalah internalnya, tidak hanya masalah Anas, namun juga banyak kader Partai Demokrat yang terlibat dalam tindakan korupsi, baik di pusat maupun daerah.
*) Ardi Winangun adalah pengamat politik dan siswa Sekolah Pemikiran Pendiri Bangsa-Megawati Institute. Penulis tinggal di Matraman, Jakarta Timur. No kontak: 08159052503. Email: ardi_winangun@yahoo.com
(vit/vit)











































