Antara Nazar, Osama dan Gayus

- detikNews
Kamis, 21 Jul 2011 11:25 WIB
Jakarta - Nyanyian Nazaruddin di dua media elektronik kini menjadi perbincangan hangat, semakin menyesakkan nafas. Semua merasa benar, mengeluarkan dalil-dalil yang sahih tetapi lucu, yang menjadi pegangan hukum.

Memang negara kita negara hukum, tetapi negara ini tidak cukup dibangun dan dijalankan hanya dengan hukum, banyak komponen lain yang juga ikut berperan. Dalam intelijen dikenal sembilan komponen strategis, selain ipoleksosbudhankam, perlu dihitung juga ada komponen biografi misalnya. Biografi yang dimaksud adalah keberadaan seorang yang terlibat dalam penyelenggaraan negara. Pemimpin atau seorang tokoh haruslah seseorang yang kredibilitasnya tinggi, bisa dipercaya, selain dia juga harus kapabel dan acceptable.
 
Nazar kini walau buron telah mampu memporakporandakan nama Partai Demokrat serta pemimpin partai dan beberapa tokoh di dalamnya. Informasinya di satu sisi banyak dipercaya pemirsa yang terus dicekoki berita, di lain sisi dengan dalilnya, para ahli hukum mengatakan bahwa mereka tidak percaya informasi yang dikatakannya. Memang informasi Nazar adalah bahan keterangan mentah, disampaikan di suatu tempat persembunyian entah di mana. Bukanlah fakta hukum, demikianlah adanya.
 
Dengan pengamanan aturan hukum, pengurus Demokrat hingga kini masih bisa tersenyum, ketawa ketiwi direkam di televisi, main bola dan mulai memainkan jurus perbaikan citra dengan riwayat hidup. Apakah ini menolong? Bagi masyarakat yang sudah menelan informasi yang merusak citranya, justru akan semakin tidak simpati. Rakyat miskin akan tidak suka membayangkan seseorang punya uang haram sampai sekian miliar. Berebut uang sodaqoh dua puluh ribu saja ada yang sampai meninggal. Tidak adanya gerak dan pernyataan aparat hukum dalam kondisi penyerangan isu Nazar, justru akan menambah ketidak percayaan publik baik terhadap parpol pada umumnya, partai Demokrat pada khususnya serta institusi pemerintah secara lebih khusus. Lebih disebut sebagai ketidakberdayaan.
 
Oleh karena itu, kita harus melihat serangan Nazar dari sisi yang lebih luas, yaitu kepercayaan serta pengaruh psikologis di masyarakat. Orang partai itu hanyalah wakil rakyat. Kini dengan era keterbukaan demokrasi, elit parpol serta pemerintah harus jauh lebih hati-hati. Nazaruddin terus berposisi membela diri dan menyampaikan isu keterlibatan Anas dan lain-lainnya dengan konsisten. Ini berita panas, media dan masyarakat banyak yang percaya. Sebagai contoh, Osama bin Laden dari tempat persembunyiannya menyampaikan informasi berbentuk fatwa, yang menyerang AS, mengatakan bahwa faham sekular adalah penyembah berhala dan syariat Islam adalah yang terbaik dan paling benar.

Ideologi Osama kemudian mampu menghidupkan fanatisme muslim di seluruh dunia. Banyak yang kemudian rela mati karena merasa bertangung jawab menjadi agen serta instrumen pelurusan dan pengadilan. Contoh lain, Gayus yang jelas jadi terdakwa dengan entengnya menyampaikan informasi perusahaan yang terlibat, juga keterlibatan CIA, mengatakan bahwa Jeromme yang mengatur kaburnya ke luar negeri adalah agen CIA.
 
Nah, dari ketiga orang tersebut, apa yang sama? Yaitu informasi mentah pun akan menjadi senjata penggebuk yang hebat. Info Osama hanyalah pandangan dari sisi fanatisme dengan cara melekatkannya ke Islam, jelas banyak orang yang pendidikannya rendah percaya dan menjadikannya pahlawan. Gayus, walau dituduh korupsi mengatur 151 pajak perusahaan pengemplang pajak, kini bahkan menjadi narasumber. Jadilah dia nanti pahlawan, karena aparat tidak mampu membongkar lebih jauh korupsi di pajak.

Informasi Gayus sebagai terdakwa ternyata menjadi sangat berharga. Nah, kini Nazar, dengan semangat membela keluarga, jangan dipandang enteng informasinya. Secara hukum memang dia lemah, karena jadi tersangka dan buron. Informasinya lebih bersifat balas dendam, karena sakit hati, habis manis sepah dibuang. Tetapi efek psikologinya sangat membumi, begitu kira-kira.
 
Kini, pria kelahiran lahir di Bandung pada 26 Agustus 1978 dan berusia hampir 33 tahun itu nampaknya akan menghilang, bersembunyi seperti katanya disarankan atasannya, tiga tahun hingga pemerintahan berganti. Kabar bawah tanah di Pakistan? Seperti beberapa tokoh ekstrem yang dulu dikejar Pak Harto, akhirnya kemudian bisa melenggang balik kampung dengan aman setelah ganti presiden.

Itulah fakta di negara kita yang kita cintai. Sudahlah, kata si nenek di sebelah penulis, membuang energi, semuanya ribut mempermasalahkan kasus Nazaruddin. Apakah ini masalah nasional? Walau yang dimainkan memang uang APBN. Kalau pemerintah, elite politik tidak segera menentukan sikap, entah sampai di mana dan mau dibawa ke mana kasus ini. Rakyat akan bosan, makin tidak percaya. Yang parah, mereka tidak percaya pada 2014 nanti, pada tokoh capres yang diajukan parpol, akan lebih percaya calon independen. Arahnya bisa ke situ. Dalam teori terorisme disebutkan "A Terorist in one side, is a patriot on the other." Di Indonesia bisa dipelesetkan, "A coruptor in one side, is a patriot on the other." Apakah begitu?
 
*) Marsda TNI (Pur) Prayitno Ramelan, pemerhati Intelijen, penulis buku Intelijen Bertawaf, untuk artikel lainnya, kunjungi http://ramalanintelijen.net

(vit/vit)