Anas dan Sampur Kuasa
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Kolom Djoko Suud

Anas dan Sampur Kuasa

Selasa, 19 Jul 2011 09:46 WIB
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Anas dan Sampur Kuasa
Jakarta - Anas Urbaningrum ketiban sampur. Derajatnya naik di tengah-tengah konflik. Kini Ketua Umum Partai Demokrat itu memasuki kawah Candradimuka. Diuji. Mampu memainkan sampur namanya kinclong. Tapi jika gagal, posisinya kembali jadi anak lamkoar. Anak haram jadah yang tidak diakui dan tidak diharapkan kelahirannya.

Partai Demokrat (PD) sekarang ancur-ancuran. Hanya karena kasus wisma atlet, jeroannya diobok-obok. Nazaruddin kabur membawa setruk masalah. Teror bak meteor berhamburan menggempur elitenya. Sampai Ketua Dewan Pembina, SBY pun tak punya privilege untuk tidak diserangnya.

Gempuran membabi-buta itu direaksi heterogen. Kadernya bukan menyatukan sikap untuk meredam, tapi justru memanfaatkan sebagai alat. Alat untuk saling tuding. Akhirnya momentum yang semula hanya beralun itu berubah arus deras. PD kelimpungan. Dihajar dari luar dan dikisruh internalnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kisruh tak hanya mendatangkan kerugian. Ada keuntungan, juga hikmah. Yang diuntungkan itu Anas Urbaningrum. Sejak terpilih, Ketum PD ini belum seperti layaknya Ketua Umum partai. Dominasi kuasa Ketua Dewan Pembina mengubur potensinya. Dan faksi kalah yang ‘didukung’ SBY kian mengecilkan posisinya.

Itu bisa dipahami. Sebab Anas itu bak anak lamkoar. Anak hasil selingkuh. Anak haram jadah yang tidak diharap lahir. Tampilnya dia sebagai calon Ketua Umum PD di Bandung lawan Andi Mallarangeng dan Marzuki Alie didagang-gadang untuk kalah. Ketika ternyata menang, situasinya riskan. Ancik-ancik eri. Posisinya seperti berdiri di atas duri. Tidak jenak dan serba kikuk memimpin PD.

Suasana tak nyaman itu terbaca dari banyaknya rumor yang acap beredar. Berita Anas akan dijatuhkan sayup-sayup sampai menyelusup ke telinga. Dan warta Anas akan diganti via berbagai pola tidak sulit didengar dalam kelesak-kelesik di dalam tubuh partai ini. Tak salah jika semuanya menyebut PD itu tergantung SBY.

Namun berkat ‘ketidak-berkuasaan’ itu, ketika PD diterpa masalah Nazaruddin dan ikutannya, Anas menjadi aman. Dia bukan sasaran tembak. Dia ‘dibonekakan’ negator. Dianggap sebagai Ketum bayang-bayang. Teror langsung tertuju pada SBY dan faksi yang berkuasa. Apalagi wisma atlet yang bermasalah ‘di bawah’ Kementerian Pemuda dan Olahraga yang dikomandoi Andi Mallarangeng.

Saat itulah situasi PD kocar-kacir. Partai ini seperti ‘nyeret carang soko pucuk’. Menarik ranting bambu dari ujung. Semua elite partai dibukai boroknya. Kasus baru dikuak. Kasus lama diungkit. Dan itu masih belum reda hingga hari ini. Termasuk Andi Nurpati yang diperiksa secara maraton. Juga Ruhut Sitompul yang dilaporkan istrinya.

SBY terpaksa harus sering tampil. Melakukan ‘pembelaan’ dan mengklarifikasi kasus PD. Ini yang membuat pusaran baru. Pro-kontra menggelincir. Ditanyakan kegigihan SBY yang juga presiden itu ‘mengurusi’ partai. Dan dipertanyakan pula eksistensi Anas sebagai Ketum PD definitif.

Melalui setumpuk bantahan atas SMS dan rumor yang berkembang, SBY akhirnya ‘mengkuasakan’ Anas yang punya jabatan tetapi belum punya kekuasaan itu. SBY juga membantah isu yang menyebut Rakornas PD pekan depan mengagendakan penggantian Anas dalam Kongres Luar Biasa (KLB).

Anas telah menerima sampur. Dalam seni tayub, sampur itu adalah selendang kuasa. Dengan selendang itu dia bisa menggerakkan nayaga (penabuh gamelan) untuk memainkan irama apa saja. Memandu penari untuk dibawa ke siapa saja. Dan memilih penayup sesuai yang dia suka. Mampukah Anas memainkan selendang itu untuk mengharmonisasikan berbagai faksi sesuai fatsun politik PD?

Rakornas PD kali ini memang bukan Kongres Luar Biasa. Tapi tidak dipungkiri, ini adalah Rakornas istimewa. Keistimewaannya nanti bisa dilihat dari kemauan antar faksi untuk rela hati menyatukan diri, Ketua Dewan Pembina legowo mengurangi dominasi kuasanya, dan kemampuan Anas mengakomodasi kemauan berbagai friksi. Itu jika masih ingin PD sebagai kendaraan politik yang moncer.

*Budayawan, menetap di Jakarta

(nrl/nrl)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads