BBM Nazar Palsu, Sebuah Ulasan

- detikNews
Jumat, 15 Jul 2011 10:22 WIB
Jakarta - Dalam politik tidak ada teman abadi, yang utama hanyalah kepentingan perorangan atau kelompok. Sebenarnya pendapat yang benar, 'Yang abadi adalah kepentingan nasional suatu negara'. Nah, itu makna kata kepentingan yang mana karena disebabkan terganggunya kepentingan sekelompok orang, maka stabilitas emosional dan ketenteraman Partai Demokrat menjadi terganggu.

Nazaruddin, kini mantan Bendahara Umum Demokrat, si pembuat goyah, sebelum peristiwanya pecah, bahkan hingga awal kasus terbuka terlihat masih senyam-senyum pada konperensi pers. Dia telah menjadi tersangka kasus korupsi di beberapa kementerian, dan tengah dikejar KPK. Kini Nazar diketahui dan dituduh telah menyebarkan berita tidak sedap, bergosip, menyerang tokoh-tokoh di partainya sendiri. Bahkan oleh Anas, sang ketua umum, Nazar telah dilaporkan ke polisi. Kenapa? Karena kepentingan Nazar terganggu, ada rasa dikhianati, tidak dibela, atau mungkin ada yang memanfaatkan?

Kasus BBM dan SMS yang kabarnya dari Nazaruddin kemudian menjadi santapan media dengan rasa gurih, nikmat, disantap dan dijejalkan kepada masyarakat. Apakah media salah? Media di zaman keterbukaan kini jelas tidak ada yang berani menyalahkan, salah-salah borok seseorang akan makin dibuka nantinya. Menakutkan memang, bahkan presiden pun dikritik karena menyentuh media.

Dalam teori terorisme, serangan teror tidak akan ada artinya tanpa dukungan media. Sebuah serangan yang sadis misalnya disebut menakut-nakuti 10.000 orang, dan kalau dibaca ulang kemudian akan menakut-nakuti (membuat rasa takut) 10 juta orang. Siapa yang menyebarkan berita serangan teror, ya media itu. Jadi dalam kasus Nazar, menurut Pak Bagir Manan, yang mantan Ketua Mahkamah Agung, bahwa media hanya menyampaikan ada berita misalnya si Anu menerima gratifikasi sekian milyar, isi berita ya urusan penegak hukum. Jadi media tidak salah, katanya.

Nah, dalam kasus Nazaruddin, penulis melihatnya sebagai sebuah serangan yang disebut PUS Prop, Yaitu Perang Urat Syaraf dan Propaganda. Pengertiannya, BBM Nazar adalah sebuah perang urat syaraf, dimana Nazar melakukan propaganda yang disertai dengan kegiatan. Disini berlaku teori teror, beda dengan perang terbuka yang menyebabkan kehancuran manusia dan material. Yang menjadi sasaran teror adalah kerusakan psikologis.

Nazar kabarnya mengirimkan beberapa pesan yang mendiskreditkan tokoh di Partai Demokrat. Rumor yang tersebar adalah uang Rp 9 miliar dari Sesmenpora Wafid Muharam diberikan kepada Paul (pengusaha). Dari Paul, uang diserahkan kepada I Wayan Koster (anggota Banggar DPR dari PDIP) dan Angelina Sondakh (Banggar DPR dari Demokrat) serta Ketua Fraksi Demokrat. Jatah untuk Demokrat tidak diserahkan kepada Nazaruddin, melainkan langsung kepada Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum. Andi Mallarangeng menerima Rp 5 miliar.

Selain itu Nazar mengirimkan money politics dalam Kongres Demokrat. Biaya untuk pemenangan Anas sebagai ketua umum dalam kongres Demokrat sekitar USD 20 juta (Rp 170 miliar), katanya. Seluruh perwakilan DPC diberi uang USD 10 ribu-USD 40 ribu untuk memenangkan Anas. Nazaruddin mengaku juga memberikan dana untuk seluruh calon ketua umum Partai Demokrat dengan alasan investasi.

Serangan psikologis atau PUS Prop tersebut langsung menggoyahkan Partai Demokrat. Pembuat serangan mampu membaca situasi dan kondisi masyarakat yang memang membenci korupsi, walau banyak juga yang sebenarnya terlibat korupsi. Masyarakat dalam kondisi tidak alert begitu dicekoki berita yang digemparkan media, langsung menelan dan bahkan juga ikut mempublikasikan.

Kita lihat nilai sebuah berita. Berita atau informasi adalah bahan keterangan mentah yang bisa benar dan bisa tidak. Setelah dinilai terutama sumber dan isi informasi, dikonfirmasikan, keterkaitan beberapa informasi, maka barulah dia menjadi berita yang terukur disebut intelijen. Nah, Nazar sebagai sumber berita dianggap memenuhi syarat, dapat dipercaya sebagai sumber, tetapi dengan kemarahannya maka berita BBM yang dikirimkannya bisa sebagian betul, dan bisa salah. Terbukti dia sudah dijadikan tersangka oleh KPK.

Isi informasi yang di kirim ke media, beberapa bisa dianggap ada kemungkinan betul, karena dalam batas logika, tetapi beberapa informasinya dinilai terlalu berlebihan dan dipaksakan. Misalnya, saat pemilihan Ketua Umum Demokrat, uang sogokan mencapai nilai USD 20 juta (Rp 170 miliar). Ini jumlah fantastis yang agak di luar akal. Anas saat itu belum menjadi Ketua Umum atau apa pun yang demikian hebat, sulit diterima akal ada pihak yang mau berspekulasi mendukungnya dengan uang sebesar itu? Anas bukan tokoh sebesar Aburizal, dia saat itu masih sekelas dengan Marzuki Ali dan Andi Mallarangeng. Dari sisi Nazar, memang, Nazaruddin membeli perusahaannya sejak tahun 1999, tetapi baru aktif sejak 2007, nah artinya power dan uang komisi yang dipunyainya jelas belum sebesar itu.

Misalnya proyek Ambalang, menurutnya Anas menerima Rp 50 miliar. Sulit diterima dengan akal sehat. Jadi penulis melihat dari sisi belakang kasus. Ada sebuah tren serangan psywar yang dilakukan oleh seorang perencana dengan cukup matang, secara perlahan dan halus, serangan menusuk elit PD, inner circle Pak SBY dan akhirnya akan bermuara di Ketua Dewan Pembina. Perencana memanfaatkan momentum kasus Nazar dan bukan tidak mungkin dialah yang selalu menggunakan nama atau memanfaatkan Nazaruddin. Ini yang sangat perlu ditelusuri dan dibuktikan.

Nazar kini sudah menjadi buron dan tersangka. Dunia belum kiamat, elite Demokrat tidak perlu takut menghadapi masalah, jangan lari, harus dihadapi dan diselesaikan. Yang pasti kini, masyarakat sudah menelan rumor korupsi tersebut. Banyak yang kemudian mempercayainya. Elit Partai Demokrat selain mencari jalan bagaimana membangun kembali citra partai, agar jangan melupakan adanya penyerang clandestin yang terus memantau dan menginginkan kerusakan di Partai Demokrat. Si penyerang paling tidak memiliki dan mengetahui informasi agak akurat di internal partai. Elit muda kurang berpengalaman dalam masalah internal security, dibutuhkan pemeriksaan security.

Serangan dan pembentukan opini telah berjalan, seperti pernah penulis sampaikan pada artikel terdahulu, sasaran perencana adalah "Let them think, let them decide," maksudnya dengan ilmu intelijen bisa dibaca biarkanlah rakyat berfikir dan biarkanlah rakyat yang memutuskan. Kalaupun serangan tidak sampai menjatuhkan pemerintah sebelum 2014, paling tidak pada 2014 nanti citra Demokrat sudah sangat rusak, rakyat tidak akan memilih parpol yang mereka nilai bobrok.

Counter Demokrat yaitu keberadaan Pak SBY sebagai pengikat jelas akan sangat menurun bahkan bisa hilang, ini karena ulah beberapa elite itu sendiri, menganggap pada 2014 Pak SBY tidak dapat maju kembali. Sudah diluar gelanggang dan mereka mencoba mencari jalan sendiri dengan alasan demokrasi. Penulis menilai elite yang muda-muda muda akan sulit mempertahankan kredibilitasnya, yang tua tidak mendengar perintahnya, kepercayaan dan kecintaan konstituen akan menjadi luntur. Kesimpulannya, benar seperti kata Marzuki, yang sudah rusak manajemen partai. Apabila tidak segera teratasi maka partai akan semakin amburadul. Inilah berbahayanya sebuah serangan psikologis dalam sebuah operasi intelijen penggalangan. Perencana mampu menyentuh titik rawan Demokrat, cepat atau lambat partai ini akan lumpuh, itu pandangan "worst condition".

Demikianlah sedikit ulasan penulis terhadap kemelut Partai Demokrat, rangkaian upaya mendelegitimasi dan menghancurkan citra pemerintah telah berjalan beberapa lama, baik menyangkut masalah keamanan dan ketertiban, kini masalah korupsi partai pemenang yang diangkat. Bagaimana mengatasi masalah ini? Menurut teorinya, sebuah rumor hanya diselesaikan dengan dibiarkan saja, lama-lama akan hilang dengan sendirinya. Kedua dijelaskan kebenarannya kepada mereka yang mendengar rumor tersebut. Edward Murrow mengatakan, "Agar meyakinkan kita harus bisa dipercaya, agar bisa dipercaya kita harus kredibel, agar kredibel kita harus jujur." Bisa dan mampukah?

Apabila tidak waspada dan elitenya menganggap perkembangan situasinya aman-aman saja, penulis tidak dapat membayangkan Partai Demokrat nantinya akan bergeser paling tidak menjadi partai papan tengah dan bukan tidak mungkin apabila serangan terus berlanjut, bahkan bisa turun lebih rendah lagi. Indikasi penurunan sudah mulai terlihat dari hasil survei LSI pada Mei 2011, pemilih yang kembali akan memilih Demokrat jika pemilu diadakan saat ini ternyata hanya 54,5 persen. Dengan kata lain, setengah dari pemilih Demokrat akan membelot pada pilihan lain. Pembelotan terjadi karena ikatan psikologis partai lemah dan turunnya kepercayaan. Ini sudah lampu kuning setengah merah. Bijak, cerdas, cerdik dan cermat, itulah rumusnya.

*) Marsda (Purn) Prayitno Ramelan adalah pengamat intelijen. Tulisan-tulisan lainnya bisa dilihat di http://ramalanintelijen.net

(vit/vit)