Memang kebijakan itu sebuah kerugian, terutama bagi mereka yang selama ini sudah menikmati hasil dari pengiriman itu. Mereka itu adalah para agen atau koordinator lapangan, perusahaan pengirim pembantu, para suami-pembantu, adik atau abang dari pembantu, (baik laki-laki maupun perempuan) dan segala pihak yang secara langsung atau tidak langsung telah menikmati manfaatnya dari pembantu yang membanting tulang di luar negeri. Semua mereka itu dapat disebut sebagai pihak terlibat atau stakeholders.
Jika dicari akar permasalahan, semua itu berpusat pada satu aktor yang sangat penting, yaitu laki-laki yang tidak bertanggungjawab sebagai suami. Sekiranya semua laki-laki Indonesia bertanggung jawab sebagai kepala rumah tangga, siap membanting tulang, mengarungi lautan lepas dan menentang badai seperti nakhoda dan awak kapal Phenicia atau para nelayan diberbagai pantai di seputar negeri ini, atau para pekerja keras yang siap berkorban untuk membiayai keluarganya, dan dengan itu bertanggung jawab melindungi istri dan anak-anaknya, maka tidak ada wanita Indonesia yang menjadi pembantu rumah tangga di negeri orang, apalagi sampai dianiaya, diperkosa atau di-qisas karena membunuh.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Karena itu penghentian pemberian visa kepada TKI oleh Pemerintah Arab Saudi harus menjadi momen untuk menghentikan pengiriman seluruh tenaga pembantu rumah tangga ke negara mana saja di seluruh dunia. Derajat wanita Indonesia harus dihormati, baik di dalam negeri, apalagi di forum internasional. Pemerintah harus segera bertindak tegas dan tidak boleh sampai terpengaruh oleh para cecunguk yang ingin mengambil manfaat dari kehormatan bangsanya.
Kita tahu, semua orang juga tahu, menghentikan pengiriman TKW dan melakukan konversi dengan pengiriman TKL atau memperluas kesempatan kerja di dalam negeri itu sulit. Tetapi dalam hidup ini tidak ada yang tidak sulit, apalagi kalau ingin merubah nasib bangsa. Di mana saja ada kesulitan. Karena itu yang menjadi pertanyaan bukan ada tidaknya kesulitan, tetapi bagaimana caranya kita dapat mengatasi kesulitan itu?
Β
Tanpa ada keinginan untuk berkorban dan kemauan untuk mengatasi kesulitan itu, tidak ada kemajuan. Kemajuan adalah sesuatu yang baru, yang belum ada sebelumnya. Kemajuan adalah sesuatu yang harus diperjuangkan dan untuk itu memerlukan pengorbanan. Sekiranya para perintis kemerdekaan dan bapak-bapak pejuang bangsa ini dahulu tidak berjuang karena takut menghadapi kesulitan, harus mengalami pembuangan, penjara dan bahkan sebagian dari mereka mati tak tentu rimbanya, bangsa ini masih tetap terjajah sampai besok, masih tetap memakai brand sebagai anak jajahan yang dipandang pantas untuk diperjual belikan orang seperti keledai.
Β
Sebuah pepatah lama dalam bahasa Aceh, yang maksudnya kira-kira berbunyi: Bagi yang malas semua sulit, bagi yang rajin dan mau, semua bisa. Karena itu, tidak pantas bagi sebuah bangsa merdeka yang ingin maju, menjadikan alasan sulit untuk tidak memperbaiki nasib dan meninggikan kehormatan bangsa. Lihatlah, betapa sulitnya Thomas Edison menemukan listrik, bagaimana sulitnya Columbus menemukan benua Amerika, bagaimana sulitnya para Rasul berjuang menyampaikan pesan Allah SWT kepada bangsanya yang masih bodoh.
Sebab itu, kalau ada di antara kita yang berpendapat, bahwa dalam pergaulan internasional semua bangsa sudah ada brand-nya. Sementara bangsa Indonesia, apa boleh buat, telah memiliki brand sebagai pembantu rumah tangga. Sulit untuk merubahnya. Pikiran yang demikian tidak boleh lagi hinggap dalam kepala bangsa Indonesia, harus segera dimusnahkan, dibuang jauh-jauh. Pikiran yang demikian merupakan virus yang membelenggu bangsa ini. Pikiran picik, yang tidak mau berubah, tidak ingin bangsanya bangkit dari keterpurukan, yang mungkin karena kebetulan mendapat secuil nikmat dari keterpurukan itu.
Semua kita tahu, bahwa negara-negara yang sekarang dikenal sebagai negara maju, seperti Jepang, Singapura dan sebagian besar negara-negara di Eropa tidak memiliki sumber daya alam sebagaimana dimiliki Indonesia. Mereka menjadi maju karena mau dan mampu bekerja keras, gigih dan siap berkorban untuk keluarga dan bangsanya. Pada bangsa-bangsa tersebut tidak ada istilah sulit, dan tidak pernah rela untuk membiarkan para istri mengadu nasib, menjadi pembantu rumah tangga di luar negeri, sementara mereka menikmati hasil jerih payahnya di dalam negeri.
Maaf, sudah hampir seluruh dunia saya kunjungi, sudah banyak bangsa yang saya kenal, sudah lama saya hidup, belum pernah saya temui ada suatu bangsa di mana istrinya dibiarkan berkorban mencari sesuap nasi sebagai pembantu rumah tangga di negeri orang, sementara suami ongkang-ongkang kaki di kampung halamannya, menikmati hasil jerih payah istrinya itu. Yang banyak kita temui adalah kemauan dan kesiapan berkorban para laki-laki untuk kepentingan keluarganya.
Mari kita ubah nasib bangsa ini dengan bekerja keras. Mari kita muliakan derajat wanita Indonesia dan mari kita berkorban, sekalipun harus menyabung nyawa, berlayar di samudera lepas, menyelam di lautan dalam, mencangkul bukit-bukit berbatu, agar anak cucu kita tidak lagi menjadi miskin dan tidak lagi diperhambakan orang.
*) Said Zainal Abidin adalah adalah ahli majanemen pembangunan daerah (regional development management) dan kebijakan publik, guru besar STIA LAN. Sekarang sebagai penasihat KPK.
(vit/vit)











































