Muktamar di Tengah Rasa Cemas
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Muktamar di Tengah Rasa Cemas

Kamis, 23 Jun 2011 11:26 WIB
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Muktamar di Tengah Rasa Cemas
Jakarta - Menjelang Muktamar VII PPP, Bandung, Jawa Barat, pada Juli 2011, hiruk pikuk soal calon Ketua Umum PPP Periode 2011-2016 sudah ramai mengemuka, bahkan di antara mereka sudah saling klaim jumlah suara yang diraih dan saling jegal di antara kandidat-kandidat yang ada, seperti antara Surya Dharma Ali, Ahmad Muqowam, Ahmad Yani dan Muchdi PR.

Meski kader, anggota, dan simpatisan PPP merasa gembira dan senang dengan pelaksanaan muktamar ini, namun sebetulnya PPP berada di tengah kecemasan. Kecemasan-kecemasan itu terwujud dalam bentuk pertama, muktamar dari partai yang menggunakan rumah Allah sebagai lambangnya ini bisa jadi merupakan muktamar luar biasa, sebab jadwal resmi Muktamar VII PPP adalah pada Februari 2012. Namun dirasa 2012 sangat dekat dengan Pemilu 2014, maka muktamar dipercepat dengan harapan agar persiapan untuk menghadapi pemilu lebih panjang dan lebih siap.

Kedua, kecemasan yang dialami oleh adalah PPP bila parliamentary threshold (PT) disepakati sebesar 4% sampai 5%. Aturan itu tentu akan akan menggulung dan mengubur PPP di luar Senayan. PPP kemungkinan besar tidak akan lolos PT 4% sampai 5%, sebab kalau dilihat perolehan suara pada Pemilu 2004 raihan suara sebanyak 8,2%, namun pada Pemilu 2009 turun menjadi 5,3%. Dari fakta itu suara PPP bisa menurun lagi pada Pemilu 2014. Apa faktor penurunan suara ini?

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurunnya suara PPP, selain karena banyaknya partai yang berhaluan Islam, juga disebabkan partai-partai berhaluan nasionalis lebih diminati. Partai nasionalis lebih diminati karena mereka lebih mampu membumikan ideologi atau visi dan misinya. Sedang partai-partai Islam, PPP khususnya, belum mampu membumikan nilai-nilai perjuangannya.

Hal demikian dikatakan sendiri oleh Ketua Umum PPP Suryadharma Ali saat membuka Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) II dan Harlah XXXVII PPP (Partai Persatuan Pembangunan), di Medan, Sumatera Utara, Januari 2010. Suryadharma Ali mengatakan, isu keislaman tidak mampu mendongkrak dukungan bagi partai Islam. Ini bisa terjadi karena dikatakan, persoalan krusial yang menjadi perhatian utama masyarakat adalah keterjangkauan harga kebutuhan pokok, bukan lagi pada isu ritual keagamaan. Sementara partai-partai politik Islam, saat-saat ini, masih mengemukakan isu keislaman yang masih pada tataran simbol dan ritual keagamaan.

Dari sini bisa disimpulkan selain PPP tidak bisa menerjemahkan nilai-nilai Islam ke dalam tindakan yang nyata, juga bisa disimpulkan bila partai politik masih menjual Islam, ia sudah tidak diminati lagi. Indikatornya adalah jumlah suara yang diraih partai-partai Islam, kecuali PKS, cenderung menurun. PAN misalnya pada Pemilu 2004 mampu meraih suara 6,5% namun pada Pemilu 2009 hanya 6,0%, PKB dari 10,6 menjadi 4,9%. Sedang partai yang berhaluan nasionalis, seperti PD, Partai Golkar, dan PDIP tetap meraih suara yang lebih.

Ketiga, untuk mensiasati yang demikian, agar lolos PT 4% sampai 5%, maka PPP kembali menggandeng para kiai sebagai vote getter untuk mendulang suara. Suatu ketika PPP mengklaim bahwa sebanyak 41 kiai dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Partai Kebangkitan Nadlatul Ulama (PKNU) yang tersebar di seluruh kabupaten/ kota di Jawa Timur, menyatakan diri bergabung atau naturalisasi ke PPP. Bergabungnya 41 kiai itu oleh PPP dianggap sebagai amunisi baru yang mampu membangkitkan kembali kejayaan PPP. Bila dalam masa Orde Baru seluruh kiai bergabung di PPP, kemudian setelah era reformasi banyak kiai yang tersebar di partai-partai politik Islam atau nasionalis, sehingga hal ini menyebabkan menurunnya perolehan kursi PPP.

Kembalinya para kiai ke PPP tersebut akan membuat PPP menjadi percaya diri kembali, sebagai tokoh yang menjadi panutan ummatnya, para kiai akan mampu menarik gerbongnya untuk memilih PPP dalam Pemilu 2014. PPP sendiri menyambut baik bergabungnya 41 kiai itu. PPP optimis dengan bergabungnya 41 kiai mampu memberi kontribusi positif dan berkah bagi perjuangan PPP. Bergabungnya 41 kiai itu akan semakin menambah kuat kedudukan PPP di hati masyarakat. Selama ini PPP bertumpu pada kiai, maka bergabungnya para kiai ini semakin menguatkan PPP.

Kekuatan dari kiai itu bertambah ketika di sela-sela Muskerwil DPD PPP Jawa Timur, Juni 2011, sejumlah kiai seperti KH Anwar Iskandar (Kediri), KH Nawawi Abdul Jalil (Pasuruan), KH Mas Subadar (Pasuruan), KH Mahrus (Madura), KH Ja'far Yunus (Madura),dan Gus Yasin (Madura), menyatakan bergabung dengan PPP. Deklarasi bergabungnya para ulama dan kiai ini dilakukan di sela-sela Muskerwil DPD PPP Jawa Timur di Surabaya kemarin.

Keempat, untuk lebih meningkatkan perolehan suara, sebenarnya PPP hendak membuka diri bagi kalangan non-Muslim. Hal ini sempat dikemukakan oleh Ahmad Muqowam, meski akhirnya ucapan itu ditarik kembali dan dinyatakan bahwa PPP tidak akan mengusung non-Muslim menjadi calon legislatif (caleg). PPP berazas Islam dan sesuai anggaran dasar tidak bisa menjadikan non-Muslim caleg.

Dari partai Islam yang sudah membuka diri adalah PKS. PKS saat menggelar Munas (Musyawarah Nasional) II PKS, Juni 2010, di Hotel Ritz Carlton, Jakarta, menyatakan dirinya menjadi partai yang transformatif, menumbuhkembangkan diri di internal maupun luar. PKS sudah saatnya masuk ke dalam wacana kebangsaan yang lebih menukik. Tidak ada lagi dikotomi antara Islam, nasionalisme, maupun sekularisme dalam pandangan PKS dan Pancasila sebagai konsensus tidak perlu lagi diperdebatkan. Untuk itu PKS ingin menjadi partai politik yang nasionalis religius.

Meningkatnya suara PKS bisa jadi karena partai ini sudah membuka diri. Membuka diri sebagai partai yang terbuka sudah dirancang sejak lama. Dalam Rapimnas PKS di Hotel Putri Gunung, lembang, Bandung, Jawa Barat, Agustus 2007, PKS menyatakan partainya akan melakukan ekspansi terhadap kalangan nasionalis dan sekuler. Selanjutnya pada Januari 2008, PKS mengadakan Mukernas di Bali. Mukernas yang diadakan di pulau di mana mayoritas penduduknya beragama Hindu itu merupakan tindak lanjut dari rampimnas di Bandung.

*) Ardi Winangun adalah pengamat politik dan pengurus Presidium Nasional Masika ICMI. Penulis tinggal di Matraman, Jakarta Timur. No kontak: 08159052503. Email: ardi_winangun@yahoo.com

(vta/vta)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads