FPI merasa gerah dengan film itu sebab film itu menceritakan soal pluralisme, bukan pluralitas, di mana dalam masalah beragama bisa dicampuradukan, bahkan menampilkan sebuah kebiasaan yang selama ini mungkin tidak pernah terjadi, seperti Menuk (Rivalina S Temat) seorang gadis yang taat beribadah dan memakai jilbab, namun menjadi panitia acara Paskah.
Kemudian Surya (Agus Kuncoro) seorang pemuda yang kadang bertingkah seperti santri, kadang seperti abangan, ketika ditawari Rika (Endhita), seorang Muslim namun murtad menjadi seorang Katolik dengan nama baptis Theresia, bersedia menjadi pemeran Jesus saat pementasan drama penyaliban Jesus pada acara Paskah. Dalam film itu, klimaksnya diceritakan di tengah sebuah acara pementasan drama, Sholeh (Reza Rahadian) seorang anggota Banser, underbow organisasi Islam NU, yang tengah ikut menjaga keamanan bersama dengan polisi menemukan sebuah bingkisan bom di bawah kursi jemaat gereja, untung ia berhasil mengamankan bom itu sehingga jemaat gereja selamat dari ledakan bom, namun diri Sholeh tewas dengan bom yang dipeluknya itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Membuat produksi film bermutu seperti apa yang dilakukan Hanung, patut diapresiasi, sebab dengan langkah seperti itu mampu menarik masyarakat untuk berduyun-duyun ke bioskop untuk menonton film Indonesia di tengah boikot film Hollywood. Apa yang dilakukan oleh Hanung dengan membuat film yang mendidik dan syarat makna, meski tetap perlu dikritisi, sebagai upaya untuk melawan film-film yang tidak berkualitas dan hanya menonjolkan keseksian dan kemolekan pemain tanpa diimbangi isi cerita yang
mencerdaskan. Bayangkan bila film dibuat hanya bertujuan untuk mencari untung semata.
Demi meraih untung semata, beberapa produser mendatangkan bintang-bintang porno untuk bermain film di Indonesia. Setelah bintang porno seperti Miyabi bermain di film Indonesia, kemudian disusul Leah Yuzuki, Tera Patrick, Rin Sakuragi, Sora Aoi, dan rencananya Sasha Grey. Kalau filmnya dibintangi oleh pemain seperti itu, pasti kita bisa menebak alur ceritanya. Bayangkan bila film-film yang demikian dilepas di pasar, pasti kita akan membayangkan dampaknya.
Banyaknya produser film mengundang bintang film porno untuk main di film garapannya
selain hanya mencari keuntungan, bisa jadi mereka tidak mau bersulit-sulit dalam membikin film. Dengan bintang film porno pastinya setting tempatnya paling-paling sebatas ranjang. Dari sinilah maka, Garin Nugroho pernah mengatakan, film-film Indonesia saat ini terlalu meremehkan penonton dengan dibuat dan dikemas seadanya sehingga membuat penonton bosan. Akibat dari itu membuat perfilman Indonesia lesu, sebab proses pembuatannya kebanyakan dilalukan secara instan.
Film-film yang dibintangi film porno memang juga mengundang protes dari masyarakat,
anggota DPR Komisi X pun sering meyayangkan dan mengkritik banyaknya bintang film porno yang bermain di Indonesia, menteri terkait pun juga mengatakan hal yang sama dengan anggota DPR. Bila demikian apakah membuat film di Indonesia tidak bebas dan justru dibatasi oleh masyarakat sendiri? Tentu tidak, membikin film di Indonesia diberi kesempatan yang luas, buktinya film 'Gie' yang disebut kekiri-kirian saja bisa tayang di Indonesia, meski demikian semuanya harus ada rambu-rambunya. Semua film harus patuh pada norma dan aturan yang ada, dan realita yang benar-benar terjadi di masyarakat. Tujuan film dibuat tidak hanya sekadar menghibur namun juga memberi pendidikan.
Dari sini jelas film mana yang perlu diprotes dan mana yang tidak. Film-film yang dibintangi oleh bintang film seperti Miyabi, Leah Yuzuki, Tera Patrick, Rin Sakuragi, Sora Aoi, dan Sasha Grey, pastinya tidak cocok dengan realita yang terjadi di masyarakat, perilaku bintang filmnya saja sudah tidak sesuai dengan norma kepatutan dan etika bangsa Indonesia, sehingga secara otomatis filmnya juga tidak cocok dengan budaya kita.
Sementara film-film misalnya seperti 'Alangkah Lucunya Negeri Ini' dan '?', menggambarkan sebuah realita yang benar-benar terjadi di masyarakat. Seperti dalam
film Alangkah Lucunya Negeri Ini, diceritakan bagaimana watak bangsa Indonesia meski
berpendidikan masih tetap saja korupsi, meski beragama tetap saja melanggar hukum. Dengan film seperti itulah maka masyarakat bisa mengambil hikmahnya. Dengan film seperti itu kita bisa bercermin sejauh mana perilaku kita.
Di sini film-film bermutu seperti garapan Hanung Bramantyo dan Deddy Mizwar tidak hanya sekadar memberi pendidikan kepada masyarakat, namun juga sebuah upaya untuk memproduksi film yang tidak sembarangan. Produksi film yang tidak sembarangan ini sebagai kontra dari produksi film yang sembarangan, sembarangan dari bintang filmnya dan sembarangan dari ceritanya.
*) Ardi Winangun penonton film '?' tinggal di Matraman, Jakarta Timur. E-mail: ardi_winangun@yahoo.com
(vit/vit)











































